Ad-Dhuha: Tafsir dan Keistimewaannya

Istimewanya Surat Ad-Dhuha

Oleh Ustadz Alfin Shahih dan penambahan

Surat Ad-Dhuha merupakan surat favorit, surat yang ketika di kaji membuat orang menjadi optimis dalam melihat kehidupan, surat yang apabila di kaji dapat membuat orang punya kekayaan dalam hatinya, yang sering di sebut sebagai sebuah harapan. Dan harapan yang paling penting di dalam kehidupan ini adalah sebuah harapan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Asal muasal surat Ad-Duha ini di turunkan kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah saat dimana ketika beliau sempat dalam keadaan terpuruk, yang jika di  ibaratkan seperti pejuang yang lagi jatuh. Pada saat itu pula Ummu Jamil istri dari Abu  Lahab mengatakan,

يَا مُحَمَّدُ مَا أَرَى شَيْطَانَكَ إِلاَّ قَدْ تَرَكَكَ “Ya Muhammad, Saya kira setan dalam dirimu sudah meninggalkanmu”. Hal tersebut merupakan reaksi dari Ummu Jamil saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang risau karena beberapa hari berharap agar di turunkanya wahyu, dan ternyata tak kunjung datang.

Surat Ad-Dhuha, menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat.

Kandungan surat Ad-Dhuha tentang bimbingan dan pemeliharaan Allah SWT terhadap nabi Muhammad SAW sendiri dapat kita temukan dalam ayat ke-3 hingga ayat ke-8. Disebutkan dalam ayat-ayat tersebut bahwasanya Allah akan senantiasa memberikan karunia-Nya, melindungi, memberikan petunjuk, serta memberi kecukupan bagi setiap hamba-Nya.

Pada zaman dahulu, dapat kita bercermin kepada pribadi Rasulullah yang merasakan sebuah kerisauan, ketika hilangnya sinyal tuntunan (Wahyu) walau hanya beberapa hari saja. Sangat berbanding terbalik dengan zaman sekarang. Yang mana, baru akan merasakan sedih atau risau ketika sinyal handphonenya yang hilang, ataupun kuota internetnya yang telah habis.

Kerisauan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan seorang utusan Allah Ta’ala, dikarena koneksi wahyu yang awalnya turun secara terus menurus tiba-tiba secara mendadak terputus. Sampai ketika Allah Ta’ala menegaskan dengan kedua sumpah dalam Surat Ad-Dhuha. Sumpah pertama merupakan kata وَالضُّحٰىۙ , yang mana ketika waktu dhuha dengan cahayanya yang hangat dan menenangkan. Di dalam ayat tersebut menegaskan agar mengingat Allah ketika waktu dhuha, karena waktu dhuha merupakan waktu yang kebanyakan manusia lalai kepada mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.

Dilanjutkan dengan penegasan sumpah kedua, yakni berupa ayat yang berbunyi وَالَّيلِ اِذَا سَجٰىۙ yang artinya, “Demi malam ketika telah sunyi”. Kurang lebih antar jam 9 malam sampai jam 4 pagi dikatakan sebagai waktu yang sunyi, di mana banyak orang yang terlelap dengan tidurnya dan banyak lalai kepada Allah Ta’ala, karena saat-saat seperti itulah kita dapat berdialog dengan diri kita sendiri. Maka, mari kita perhatikan dua waktu ini

Setelah Allah menegaskan dengan dua sumpah tersebut, maka Allah SWT melanjutkan dengan  مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىؕ yang artinya kurang lebih “Tidaklah Tuhanmu Nabi Muhammad meninggalkanmu dan tidaklah pula jengkel marah kepadamu”.

Hal tersebut merupakan sebuah prinsip kehidupan yang haruslah di pegang teguh oleh kita, seperti halnya doanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau terpuruk dan di lempari batu ketika berada di Thoif, dimana beliau berdoa dengan mengadukan bahwa beliau menerima dengan perlakuan semua orang, asalkan Allah tidak marah kepada beliau. Sebenarnya musibah terbesar itu adalah ketika apa yang kita lakukan tidak dibersamaai oleh Allah. Allah meninggalkan kita, pada apa yang kita lakukan dan apa yang kita cita-citakan

.وَلَـلاٰخِرَةُ خَيرٌ لَّكَ مِنَ الاُولٰىؕ  “dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan”. Dalam hal ini Allah telah menjamin akhir dari perjuangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan lebih baik dari pada awal perjuanganya. Ada juga yang menafsirkan bahwasanya balasan yang Allah sediakan di akhirat lebih baik dari pada balasan dan keadaan yang Nabi peroleh ketika di dunia.

Selanjutnya adalah firman-Nya, وَلَسَوفَ يُعطِيكَ رَبُّكَ فَتَرضٰىؕ  yang artinya “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas” dalam hal ini, kepuasan seorang manusia itu dengan kadar yang berbeda-beda. Dalam tafsirnya, Syaikh Muhammad Ali Ashobuni dan beberapa muffasir menjelaskan perbedaan kapasitas jiwa Nabi Muhammad dengan kita. Ayat tersebut menjelaskan bahwa beliau dijamin oleh Allah Ta’ala jika pengaduan beliau perihal umatnya akan diberikan sampai Nabi puas.

Maka dari itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diberikan penawaran oleh Allah antara setengah umatnya masuk surga, atau haknya memberi syafa’at, Rasulullah lebih memilih untuk dapat memberikan syafa’at karena dengan syafa’at diharapkan nantinya dapat menyelamatkan semua umat beliau.

Fenomena dalam Surah Ad-Dhuha

Selanjutnya Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang 3 fenomena.

Nabi Muhammad adalah seorang Yatim

Fenomena pertama adalah  اَلَم يَجِدكَ يَتِيمًا فَاٰوٰى “dulu kamu (Nabi Muhammad) adalah seorang yatim, lalu Allah melindungimu (berupa anugerah)”. Anugerah di sini berarti bahwa Allah melindungi Nabi Muhammad sehingga sejahtera baik secara fisik maupun secara psikis atau kejiwaan.

Nabu Muhammad yang sedang bingung

وَوَجَدَكَ ضَا لًّا فَهَدٰى “dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”. Dalam hal ini Allah mengingatkan kala Nabi Muhammad sedang bingung ketika ingin memberikan solusi kepada kaumnya, sampai kepada Allah memberikan petunjuk berupa syariat Islam.

Nabi Muhammad sebagai orang yang kekurangan

وَوَجَدَكَ عَاٮلًا فَاَغنٰىؕ “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” dalam hal ini Allah menunjukan bahwa Dia tidak akan meningalkan Nabi Muhammad.

Melihat ke-Esa-an Allah Ta’ala mestinya diri kita melakukan 3 tatakrama yaitu, فَاَمَّا الۡيَتِيۡمَ فَلَا تَقۡهَرۡؕ “jangan menghardik anak yatim”, وَاَمَّا السَّآٮِٕلَ فَلَا تَنۡهَرؕ “janganlah menghardik orang yang meminta-minta,” dan وَاَمَّا بِنِعمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ “Adapun kepada nikmat yang telah Allah angerahkan kepadamu, hendaknya kamu menyebut-nyebut (bersyukur).”

Ada sebuah penafsiran dari Gus Ishomuddin Hadzik, Ponpes Tebuireng Jombang,  terhadap ayat ini bahwa nikmat yang harus disebut-sebutkan adalah nikmat agama, kepahaman agama, dan syariat, yaitu berdakwah.

Baca Artikel Islami Lainnya

Artikel Islami YASA Peduli

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami

@yasapeduli

Leave a Comment