Membiasakan Anak Berpenampilan Sederhana

Membiasakan Anak Berpenampilan Sederhana dan Melatih Ketahanan Diri

Al-Ghazali dalam ihya’nya mengatakan bahwa seseorang ayah seharusnya tidak membiasakan anaknya hidup mewah dan tidak membiasakan diri sang anak suka berdandan dan berpenampilan mewah dan bersenang-senang, karena akan tersia-sialah usianya untuk mencarinya sehingga binasalah dia selamanya.

Jabir radhiyallahu’anhu telah menceritakan bahwa ketika Ka’bah direnovasi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Abbas ikut mengangkut batu-batuan. Al-Abbas menyarankan kepada Nabi untuk meletakkanlah kain beliau pada leher beliau untuk melindungi agar tidak terluka oleh batu. Maka saat itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membungkukkan punggungnya dan menengadahkan kepalanya seraya berkata, “Kalungkanlah kainku!” Al-Abbas pun  mengikatkan kain pada leher beliau. Peristiwa ini terjadi saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih berusia muda.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pula menggembalakan ternak kambing, dan beliau telah bersabda,

“Tidaklah sekali-kali Allah mengutus seorang Nabi melainkan pernah menggembalakan kambing.” Para sahabat bertanya, ‘Dan juga engkau?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dahulu aku pernah menggembalakan ternak kambing milik penduduk Makkah dengan imbalan beberapa qirath’”. (HR. Bukhari No. 2102).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada para pemuda untuk memanah dan menunggang kuda karena olahraga seperti ini menampilkan kelaki-lakian, kekuatan, dan kesiapan menghadapi berbagai macam kesulitan. Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Memanah-lah dan menunggang kuda-lah kalian tetapi kalian memanah lebih aku sukai daripada kalian menunggang kuda. Semua permainan yang dilakukan oleh seorang muslim batil belaka, kecuali menembakkan anak panah dengan busurnya, melatih kudanya, dan bercengkrama dengan istrinya karena sesungguhnya ketiga hal itu merupakan perkara yang hak.” (HR. Nasa’i juz 6 Hadits no.3578; HR. Baihaqi, dan lain-lainnya).

Termasuk di antara kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik kaum muslim untuk berpola hidup sederhana, yang hal ini dimulainya oleh diri beliau sendiri, kemudian diikuti jejaknya oleh banyak orang dari kalangan orang-orang yang shalih umat ini ialah seperti yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Buraidah seperti berikut, seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menemui Fudhalah bin Ubaid yang tinggal di Mesir. Setelah datang menemuinya yang saat itu Fudhalah sedang mengurus ekor unta miliknya, lelaki itu berkata:

“Hai Fudhalah, sesungguhnya aku datang kepadamu bukan untuk mengunjungimu melainkan aku datang kepadamu karena sebuah hadits yang pernah sampai kepadaku dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya berharap semoga engkau mempunyai pengetahuan tentangnya. Lelaki itu heran melihat penampilan Fudhalah yang tidak rapi, lalu bertanya :”Mengapa kulihat penampilanmu tidak rapi padahal engkau adalah amir negeri ini ? Salah menjawab sesungguhnya dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami berpola hidup terlalu senang. lelaki itu juga melihat Fudhalah tidak beralas kaki, maka ia bertanya: “Mengapa aku lihat engkau tidak beralas kaki, Fudhalah menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kami agar sekali tidak beralas kaki.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Aisyah telah menceritakan hadis berikut :

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minum sambil berdiri dan juga sambil duduk pernah berjalan tanpa alas kaki dan juga dengan beralas kaki dan pernah beranjak ke arah kanan dan juga ke arah kiri yakni dari shalatnya sesudah salam.” (HR. Ahmad, Baqi Musnaadul Anshar 23428 dan Musnadul Mukhtasirin minash Shahabah 6494, didalamnya terdapat pula bahwa beliau pernah shalat tanpa alas kaki dan juga beralas kaki, shaum dalam perjalanannya dan juga pernah berbuka).

Abdullah bin Mughaffal Al Muzani telah menceritakan,

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menyisir rambut kecuali jarang.”

Semuanya itu sama sekali tidak bertentangan dengan kesukaan seorang diantara kita untuk berpakaian baik dan bersandal baik dan tidak pula bertentangan dengan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang berambut agar memeliharanya dan meminyakinya serta tidak pula bertentangan dengan ucapan seorang sahabatnya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri,

“Sesungguhnya saya suka bila pakaian saya bersih, rambut kepala saya di minyaki, dan tali sandal saya baru.” lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Itu adalah indah dan sesungguhnya Allah sendiri maha indah lagi menyukai keindahan.”

Tiada lain yang dimaksud oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kebersihan penampilan seorang muslim dan keindahannya hanyalah agar hal tersebut tidak sampai menyita seluruh waktunya dan menjadi tujuan utamanya baik pada masa kini maupun pada masa selanjutnya. Sesungguhnya yang diharapkan dari seorang muslim hanyalah hendaknya dia melatih dirinya untuk melakukan yang ini dan mengerjakan yang itu dan selalu siap untuk melakukan keadaan apapun. Oleh karena itu bila dia dalam keadaan senang maka sangat bersyukur dan bila dalam keadaan sulit dia seorang yang penyabar.

Begitu pula halnya dengan makan daging, Rasulullah tidak selalu dapat menemukannya di setiap waktu untuk dimakan, tetapi dalam waktu yang sama beliau tidak pernah berkeinginan keras untuk mencari dan menyediakannya. Sesungguhnya pada suatu hari beliau pernah dikirimi daging kambing maka yang disajikan kepada beliau adalah kakinya yang memang kesukaannya. Aisyah sebagai istrinya yang lebih mengetahui tentang makanan kesukaan beliau menjelaskan mengapa Rasulullah menyukai kaki kambing. Aisyah menceritakan sebagai berikut :

“Sebenarnya bukan daging kaki kambing yang paling disukai oleh Rasulullah, melainkan beliau jarang menjumpai daging dan beliau selalu menyegerakan kaki kambing karena memang kaki kambing adalah bagian dari kambing yang lebih cepat masaknya.” (HR. Tirmidzi, Kitabul Ath’imah No. 1761).

Rasul kita yang mulia telah menganjurkan kepada umatnya untuk bersikap sederhana dan melarang mereka mengambil pola hidup yang serba senang dan mewah. akan tetapi tidak cukup sampai disitu saja tetapi beliau memulainya dari dirinya sendiri seperti yang telah kita lihat bahkan menerapkannya kepada ahli baitnya sendiri. Maka kita sebagai umat juga harus membiasakan anak untuk berpenampilan dengan sederhana.

 

Baca juga :

Manusia terbaik

Mencegah stroke

Generasi yang ditolong Allah

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment