Bermanfaat Bagi Orang Lain

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Islam sangat menekankan seseorang untuk dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya suatu saat ia beri’tikaf di Masjid Nabawi. Kemudian datanglah seorang laki-laki menemuinya kemudian mengucapkan salam kepadanya dan lalu duduk di dekatnya. Ibnu Abbas lantas berkata,

“Wahai Fulan, aku lihat engkau sedang dirundung kesedihan?”

Laki-laki itu menjawab,

“Benar, wahai anak paman Rasulullah. Aku mempunyai tanggungan kepada seseorang dan demi orang yang di dalam kuburan ini (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), aku tidak dapat memenuhinya.”

Ibnu ‘Abbas berkata,

“Bisakah aku menolongmu?” “Jika kamu mau,” jawab laki-laki tesebut. Ibnu ‘Abbas lalu mengambil sandalnya dan keluar dari masjid. Melihat itu, laki-laki itu berkata kepadanya, “Apakah kamu lupa apa yang sedang kamu lakukan (I’tikaf)?”

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tidak. Akan tetapi aku pernah mendengar orang yang berada di kuburan ini (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) -sambil menitikkan air matanya- bersabda,

Barangsiapa yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya dan ia bisa memenuhinya, maka bagi orang itu lebih baik dari beri’tikaf sepuluh tahun. Padahal barang siapa beri’tikaf satu hari hanya karena Allah, maka Allah menjadikan antara dia dan neraka tiga parit, setiap parit jauhnya antara timur dan barat.” (HR. Al Bukhari).

Orang yang Paling Dicintai Allah

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya terdapat seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah?” maka beliau menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal kebaikan yang paling dicintai Allah adalah membahagiakan sesama muslim, menghilangkan darinya satu kesusahan, atau membayarkan hutangnya atau mengusir rasa laparnya.

Dan bahwasanya jika aku berjalan bersama seorang saudara untuk memenuhi kebutuhannya, lebih aku cintai daripada aku beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan. Barangsiapa yang menahan amarahnya, padahal jika mau, maka amarahnya tersebut bisa disalurkannya, maka Allah akan memenuhi hatinya di hari kiamat dengan keridhaan.

Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya sampai ia bisa memenuhi kebutuhan saudaranya tersebut, maka Allah akan menetapkan kedua kakinya di hari turunnya kaki (Hari Kiamat).” (HR. Al Ashbani).

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang membuat ahli rumah kaum muslimin senang dan berbahagia, maka Allah tidak ridha untuk memberikan pahala kepadanya kecuali (ia diberikan) surga.’” (HR. Ath Thabrani).

bermanfaat

Mulia Meski Fakir

Al Izz bin Abdissalam meski seorang yang fakir, namun ia adalah seorang yang sangat mulia dan banyak mengeluarkan sedekah. Diceritakan bahwa ia pernah tinggal di Damaskus ketika rakyatnya sedang menderita dan kekurangan harta sehingga harga tanah atau kebun turun drastis. Suatu saat istrinya memberikan sejumlah perhiasannya kepadanya untuk dibelikan kebun dengan berkata,

“Juallah perhiasan ini untuk engkau belikan kebun yang bagus.”

Al Izz lalu mengambil perhiasan tersebut untuk menjualnya kemudian menyedekahkan seluruh hasilnya kepada para fakir. Setelah sampai rumah, sang istri bertanya, “Apakah kamu telah membelikan kami kebun?” Al Izz menjawab,

“Ya sudah, sebuah kebun di surga. Karena aku mendapatkan para penduduk sedang dalam kesusahan, maka aku menyedekahkan seluruh hasil penjualan perhiasanmu.” Mendengar itu sang istri berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan balasan yang lebih baik.”

Syaikh Pemimpin Membantu Orang Lain

Salah seorang murid Syaikh Ahmad Yasin rahimahullah, Dr. Abdullah Muhammad, berkata, “Suatu hari aku berkunjung ke rumah Syaikh Ahmad Yasin bersama dengan beberapa temanku. Dan sebagaimana biasa, rumahnya penuh sesak dengan para tamu.

Mereka berkeinginan untuk sekedar berziarah dan ada pula yang berkeinginan untuk meminta nasehat dan petuahnya dalam menghadapi masalah-masalah khusus maupun masalah umum atau untuk meminta penjelasan tentang suatu permasalahan yang masih mereka perdebatkan.

Perjamuan tersebut berlangsung sampai larut malam sehingga terlihat yang Syaikh sangat kelelahan, karena beliau telah menerima tamu mulai selesai shalat subuh sampai melewati tengah malam.

Tiba-tiba dari balik pintu terdengar ketukan pintu dengan sangat keras dan tak lama kemudian masuklah beberapa orang yang langsung mendekati Syaikh  dan ternyata mereka meminta tolong kepada sang Syaikh karena salah satu kerabat mereka membutuhkan penanganan medis atau operasi darurat saat itu juga.

Mereka tidak punya pilihan lain kecuali meminta sang Syaikh untuk memberikan memo atau sebagai perantara kepada dokter spesialis yang terdapat di Kota Khan Yunis (Palestina). Mereka meminta sang Syaikh untuk datang ke rumah saudaranya yang terluka tersebut agar menjadi penenang bagi mereka.

Namun karena beliau tidak mungkin lagi untuk bepergian saat itu juga (karena kondisi beliau yang tidak bisa berjalan kecuali dengan bantuan sepatu roda dan saat itu juga malam telah sangat larut), maka sang Syaikh menulis surat memo kepada dokter yang dituju untuk segera memberikan pertolongan kepada sang pasien.

Setiap waktu, kapanpun dibutuhkan, Syaikh Ahmad Yasin akan dengan ringan hati menolong. Tidak pernah merasa lelah dan marah ketika direpoti oleh orang lain. Masya Allah. Islam telah membentuk akhlak mulia pemeluknya agar memiliki sifat dermawan, suka menolong, dan bermanfaat bagi orang lain.

Apalagi jika kebaikan tersebut dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah Ta’ala akan melipat gandakan balasannya. Berlomba-lombalah dalam memberi manfaat pada sesama agar ini menjadi hujah dihadapan-Nya pada hari penghakiman kelak, hari dimana amal sholih bisa menjadi penyelamat diri, menjadi senjata untuk memperoleh syafa’at dari Allah ‘Azza wa Jalla saat tidak ada syafa’at kecuali atas kehendak-Nya.

Bermanfaat bagi orang lain sesungguhnya adalah memberi manfaat bagi diri kita sendiri.

 

Baca juga :

Unsur dasar saling mencintai

Ilusi pikiran

Larangan mengolok olok

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment