Hidup Itu Bergulir dan Bergilir

Bergulir dan Bergilirnya Kehidupan

Hidup itu bergulir dan bergilir.  Dawamu al haali min al muhaal. Permanen, statis, dalam hidup itu mustahil. Hidup pasti berputar dan bergulir. Itulah sunnatullah yang berlaku bagi siapapun.  Fir’aun dengan kekuasaannya, Qarun dengan hartanya, para penyihir dengan ilmunya, Haman dengan pasukannya, tak selamanya berada di puncak. Bahkan umat Islam juga merasakan pasang surut, menang-kalah. 

 

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zhalim”. (QS. Ali Imran: 140).

Tapi, ada yang tak percaya bahwa hidup ini bergulir dan bergilir. Saat berkuasa, berdaya, berharta, merasa abadi tak akan berubah. Seperti Fir’aun yang berkata, “Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?’ (QS. A-z Zukhruf: 51).

Biasanya, yang tak meyakini sunnatu tadawul cenderung lalai dan bertindak sewenang-wenang. Segala potensi dayanya -kuasa, harta, ilmu, kedigdayaannya- digunakan untuk mendhalimi orang lain. Baginya, yang lain, yang tak sejalan dengan kecenderungannya harus musnah. Posisi puncak membuatnya lalai dan jauh dari pesan-pesan rabbaniyah.  Yang tak meyakini hukum bergulir dan bergilirnya kehidupan seringkali tak menyadari bahwa kedhalimannya itu mempercepat terjadinya pergiliran peran. Yang berkuasa, yang digdaya, yang berharta, akan terjungkal oleh kedhaliman dirinya. 

Dikisahkan, ketika kekuasaan Abbasiyah runtuh, dan para pembesarnya ditawan, salah satu anak mereka bertanya, “Ayah, mengapa ini semua terjadi? Padahal dulu kau berkuasa dan kaya, tapi sekarang berada dalam penjara dan tidur beralaskan tanah?”

Sang Ayah menjawab, “Anakku, doa orang-orang yang menjadi korban kedhaliman kita merayap di tengah malam. Itulah yang tak kita sadari. Kita lalai dan lupa. Tapi, Allah tak pernah lupa”.

 

(قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ) [النمل:69].

“Katakanlah (Muhammad), “Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa”.

Abdurrahman bin Jubair, bercerita apa yang ia dengar dari ayahnya. Tatkala Cyprus (Romawi) diktaklukkan kaum muslimin, penduduknya banyak yang menangis. Aku melihat Abu Darda’ menangis sendirian. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Abud Darda’ apa yang membuatmu menangis di hari Allah Azza Wa Jalla memuliakan Islam dan pemeluknya?’

Abu Darda berkata, ‘Celaka kamu wahai Jubair. Betapa hinanya makhluk di sisi Allah Ta’ala, jika mereka mengabaikan perintah-Nya. Kamu tahu, mereka sebelumnya adalah umat yang kuat dan pemenang, akan tetapi karena mereka meninggalkan perintah Allah, maka kamu lihat seperti apa mereka sekarang?”. Inilah contoh dari bergulir dan bergilirnya kehidupan yang disebabkan kekuatan iman kepada Allah.

JANGAN MENCELA

Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu ‘anhu- berkata, “Kalau aku menghina anjing, maka aku khawatir akan menjadi anjing”.

Ibrahim al Nakha’i -rahimahullah- berkata, “Sungguh bila aku melihat sesuatu yang tak kusukai (pada orang lain), tak ada yang menghalangiku untuk membicarakannya kecuali kekhawatiran aku diuji dengan yang serupa (yang tak kusukai itu)”.

Saat menyaksikan saudara yang melakukan kesalahan, janganlah mencelanya. Sebab, boleh jadi Allah -ta’ala- merahmatinya dan mengujimu dengan kesalahan yang  sama.  Alangkah baiknya bila saat melihat orang lain bersalah, melakukan langkah-langkah:

  1. Memuji dan bersyukur kepada Allah -ta’ala- atas nikmat-Nya, dan memohon agar dihindarkan dari kesalahan yang sama. 
  2. Mendoakan yang bersangkutan agar mendapat hidayah dan kembali ke jalan yang benar. 
  3. Menunaikan kewajiban memberi nasihat dan ishlah (perbaikan). Mendatangi saudara yang bersalah dan menunaikan perintah ayat ‘tawashau bil haqqi’.

Wallahu a’lam bisshawab

Baca Artikel Islami Lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment