Hubungan Keturunan di Sisi Allah

Hubungan Keturunan dengan Kemuliaan dan Ketakwaan

Kemuliaan dan ketakwaan seseorang bukanlah diukur dengan keturunan dalam arti secara otomatis. Karena itu, kalau kita ingin membanggakan atau memuliakan seseorang, bukanlah karena keturunan tapi karena iman dan prestasi amal salehnya. Namun yang kita saksikan justru sebaliknya. Tak sedikit orang yang terpilih menjadi pemimpin secara otomatis dengan sebab keturunan. Kalau bapak raja, maka anaknya secara otomatis akan menjadi raja meskipun sang anak belum tentu mampu menjadi raja. Bahkan bisa jadi ada orang lain yang sebetulnya lebih pantas untuk menjadi.

Membanggakan Keturunan

Di samping itu, membanggakan keturunan juga dalam bentuk tidak menghukum orang-orang keturunan ningrat atau yang ‘berdarah biru’ bila mereka melakukan kesalahan, bahkan kesalahan itu cenderung ditutup-tutupi. Sementara bila orang biasa melakukan kesalahan, maka hukuman yang ditimpakan kepadanya jauh lebih berat daripada kesalahan yang dilakukannya. Ketika para sahabat menanyakan soal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

Seandainya anakku Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya”.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha  mengetahui lagi Maha teliti.” (QS. al-Hujurat :13).

Jika benar seseorang itu mempunyai keturunan yang mulia, bahkan dia keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali pun, maka selama ia tidak benar-benar mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya hubungan keturunan tidak bernilai di sisi Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Dan orang yang dilambatkan amalnya, tidak bisa dipercepat oleh hubungan keturunannya.”(HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya kepada kedua paman dan putri beliau sendiri, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjaga mereka dari adzab Allah sedikit pun.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul-Muthalib! Aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Shofiyah paman Rasulullah, aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Fathimah binti Rasulullah mintalah harta kepadaku apa saja yang kau mau, aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun”. (HR. Mutaffaqun ‘alaih).

Oleh sebab itu, tidak boleh bergantung, apalagi membanggakan keturunan bila tidak diiringi dengan amal shalih. Bahkan jika dibandingkan, maka lebih mulia orang yang berasal dari keturunan biasa tetapi beriman dan bertaqwa, dibanding orang yang mempunyai hubungan keturunan bangsawan namun dia jauh dari nilai-nilai taqwa.

Baca Artikel Islami Lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment