Indahnya Berbagi Dalam Kebaikan

Indahnya Berbagi Dalam Kebaikan

Berbagi ketika diberi kenikmatan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

إن لله أقواما اختصهم بالنعم لمنافع العباد يقرهم فيها ما بذلوها فإذا منعوها نزعها منهم فحولها إلى غيرهم  رواه ابن أبي الدنيا والطبراني في الكبير والأوسط و حسنه الالباني في السلسلة الصحيحة

“Sesungguhnya Allah mengkhususkan suatu kaum dengan kenikmatan untuk memberi manfaat kepada para hamba. Kenikmatan itu akan langgeng selagi dia terus memberikan bantuan. Ketika dia tahan (tidak memberikan bantuan), maka (Allah) pindahkan kepada yang lainnya.” (HR. Ibnu Abi Dunya dan Tabrani di Kabir dan Ausath serta dihasankan oleh Syekh Albani di Silsilah Shahihah no. 1692. Lihat Targib dan Tarhib karangan Munziri, 3/250)

Indahnya berbagi tatkala seorang hamba Allah berikan kelebihan kenikmatan. Dimana hal itu yang akan dapat melanggengkan kenikmatan tersebut. Selagi dia senang memberi bantuan kepada sesama, maka Allah akan senantiasa menjaga kenikmatan tersebut.

indahnya berbagi

Akan tetapi ketika dia menahan tidak memberikan bantuan kepada yang lainnya, maka Allah akan pindahkan kenikmatan tersebut kepada yang lainnya, yang lebih berhak mendapatkannya. Itulah indahnya berbagi dan saling membantu dalam kebaikan. Sebagaimana Allah juga telah menegaskan dalam surat Al-Maidah ayat 2.

Imam Mawardi rahimahullah mengomentari terkait ayat di atas,

“Allah menganjurkan untuk bekerjasama dalam kebaikan (bir) dan diikuti dengan ketakwaan. Karena dalam ketakwaan menggapai keridhoan Allah, sementara kebaikan menggapai keridhoan manusia. Siapa yang dapat menggabungkan antara keridhoan Allah dan keridhoan manusia, maka telah sempurna kebahagian dan menyebar kenikmatannya.”

Keutamaan dalam bekerjasama dalam kebaikan diantaranya:

Mendapatkan Kecintaan Allah

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi dari Tuhannya berfirman,

قال الله تعالى : حقت محبتي للمتحابين في و حقت محبتي للمتواصلين في و حقت محبتي للمتناصحين في و حقت محبتي للمتزاورين في و حقت محبتي للمتباذلين في ; المتحابون في على منابر من نور يغبطهم بمكانهم النبيون و الصديقون و الشهداء  قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 4321 في صحيح الجامع

“Allah berfirman, “Layak mendapatkan kecintaan-Ku orang yang saling mencintai karena-Ku, orang yang saling menyambung karena-Ku, orang yang saling memberi nasihat karena-Ku, orang yang saling mengunjungi karena-Ku, orang yang saling memberi karena-Ku. Orang yang saling mencintai di atas mimbar dari cahaya, dimana para Nabi, orang-orang jujur dan para syuhada’ iri akan posisinya.” (Dinyatakan shahih oleh Syaikh al Albani, di Shohih Jami’ no. 4321).

Akan mendapatkan keselamatan dari kesusahan di hari kiamat nanti

Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang membantu di antara kesusahan orang mukmin di dunia, maka Allah akan membantu kesusahannya di hari kiamat. Siapa yang memudahkan kesulitan, maka Allah akan mudahkan kesulitannnya di dunia dan di akhirat.

Kenikmatan Allah akan senantiasa tetap bersamanya

Sebagaimana hadits di atas tadi. Dimana dikala seseorang senantiasa membantu saudaranya dari kenikmatan yang Allah berikan, maka Allah akan menetapkan kenikmatan tersebut.

Di antara bentuk saling membantu adalah  dengan saling memberi nasihat kepada saudaranya, karena seorang mukmin itu cermin bagi saudara lainnya. Begitu juga saling membantu dalam dakwah dan menolong terhadap kebenaran.

Sebagaimana  cerita Dzulqornain ketika akan membangun sebuah tembok raksasa. Beliau tidak melakukan sendirian, akan tetapi dengan saling membantu antar rakyat sehingga terbangun tembok yang begitu kokoh.

Ketika kita  membantu saudara kita dalam berbagai macam kebaikanpun, Allah catat itu sebagai bentuk sedekah seseorang. Dalam hadits Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap muslim diwajiban bersedekah.”

Mereka (para shahabat) bertanya,

“Wahai Rasulullah, bagaimana kalau dia tidak mendapatkan harta untuk bersedekah?”

Maka beliau bersabda,

“Bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat untuk dirinya dan bersedekah dengannya.”

Mereka mengatakan,

“Kalau dia tidak mendapatkan?”

Beliau menjawab,

“Membntu orang yang sangat membutuhkan.”

Mereka mengatakan,

“Kalau tidak bisa?”

Beliau menjawab,

“Lakukan kebaikan dan tahan akan keburukan, karena sesungguhnya itu adalah sedekah.” (HR. Bukhari).

Terakhir kali yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita membantu syetan. Bagaimana caranya kita membantu syetan? Menghina dan mencerca orang berbuat keburukan. Padahal dia ingin bertaubat dan kembali kepada Allah.

Khawatir dengan ucapan kita, membantu syetan tetap dalam kubangan kemaksiatan. Hal itu sebagaimana cerita zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada orang peminum khomr didatangkan kepada Nabi, maka beliau bersabda,

“Pukullah.”

Abu Hurairah mengatakan,

“Di antara kita ada yang memukul dengan sandal dan dengan bajunya. Ketika selesai, sebagian orang mengomentari ‘Semoga Allah hinakan anda.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan anda katakan seperti ini, jangan anda membantu syetan.” (HR. Bukhari, dalam redaksi lain di akhirnya, “Akan tetapi katakan ‘Semoga Allah ampuni dia, semoga Allah kasihani dia).”

Semoga kita bisa menjaga kerjasama dalam kebaikan dan dapat tetap saling berbagi kepada sesame. aamiin.

 

Baca juga :

Mengenal Allah dengan Al Qur’an

Hukum meratapi kematian dalam Islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment