Ketaatan Dan Nasihat

Ketaatan dan Nasihat

Pemimpin juga manusia. Salah dan alpa juga menjadi bagian dari hidupnya. Dalam mengemban amanat kepemimpinan, tak selamanya pemimpin berada di jalur yang lurus. Ketika menjalankan tugas, mungkin ia akan menghadapi kelelahan-kelelahan. Dan boleh jadi akan timbul gesekan-gesekan yang membuat retak hubungan antara sesama anggota atau antara pemimpin dan yang dipimpin.

Membiarkan potensi-potensi negatif itu tumbuh liar dalam organisasi akan berakibat kehancuran. Perlu upaya untuk mencegahnya. Dan salah satu upaya untuk mencegah kerugian adalah menghidupkan budaya saling memberi nasihat antara pemimpin dan yang dipimpin. Yang dibutuhkan adalah nasehat dalam kebenaran untuk menjaga rel organisasi dan kepemimpinan agar tidak terlalu jauh meninggalkan garis lurusnya. Yang diharapkan adalah nasihat dalam kesabaran guna menjaga kesinambungan kepemimpinan, mengembalikkan stamina dan energi yang letih. Dan nasihat dalam kasih sayang untuk menjaga keutuhan persaudaraan antara individu dalam organisasi itu.
Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian apabila melaksanakan tiga hal, yaitu hendaknya kalian menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, kalian berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai berai, kalian memberikan nasihat kepada orang-orang yang memimpin kalian.”

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits,

“Agama itu nasihat.”

Para sahabat bertanya,

“Kepada siapa (nasihat itu diberikan)?”

Nabi menjawab,

“Kepada Allah, Rasul, Kitab, para pemimpin, dan masyarakat.” (Shahih Muslim).

Nasihat itu seperti menjahit pakaian yang koyak atau menyaring madu agar bersih dari campuran lilin. Orang yang memberi nasihat ibaratnya menutup luka yang diderita atau membersihkan kotoran yang melekat pada diri orang yang dinasihati, sehingga kembali bersih dan murni. Maka nasihat kepada pemimpin mengandung arti membantu pemimpin dalam menegakkan kebenaran dan menunaikan nilai-nilai mulia lainnya.

Batasan-batasan yang jelas tentang taat dalam kepemimpinan Islam, yaitu :

Ketaatan mesti didasarkan pada pemahaman. Bukan atas fanatisme dan kebodohan yang sering menjebak seseorang dalam kemaksiatan. Pemahaman juga dapat membantu mengatasi kekecewaan dan keberatan dalam mentaati suatu keputusan.
Ketaatan diberikan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan kepada Allah yang Maha memberikan kepuasan pada setiap orang. Karena manusia cenderung tidak menyukai keputusan yang berseberangan dengan keinginannya.
Ketaatan harus didukung oleh kesadaran untuk pengorbanan. Yaitu berkorban untuk menerima suatu keputusan dan kebijakan.

 

Baca juga :

Berprasangka baik saat pandemi

Taat membangun solidaritas organisasi

Jangan membandingkan maka akan bahagia

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment