Menerapkan Al Qur’an 30 Juz

Menerapkan Al Qur’an 30 Juz

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (akal)” (QS. Sad : 29)

Al Qur’an mengandung keberkahan dalam semua hal. Mengandung keberkahan ketika dibaca, mengandung keberkahan ketika dihafal, dan yang paling utama untuk mendapatkan berkah Al Qur’an adalah dengan menerapkannya. Istilah “mubarak” yang dipakai dalam ayat tersebut merujuk kepada kebaikan yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Dan ketika kita belum merasakan keberkahan dalam kehidupan kita baik secara pribadi maupun secara kolektif (masyarakat) artinya Al Qur’an belum diterapkan seluruhnya, 30 juz. 

Mengapa demikian?

Al Qur’an adalah satu sistem utuh. Jika hanya diterapkan sebagian-sebagian, maka kita tidak akan merasakan keindahan, kebaikan, kehebatan maupun kebijaksanaan yang terkandung dalam Al Qur’an.

“(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.” (QS. An Nur : 1).

Ayat ini menjadi peneguh wajibnya ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta’ala diterapkan dalam kehidupan. Ayat tersebut dilanjutkan dengan penjelasan penerapan hukuman dera bagi pezina sebanyak 100 kali dera. Namun, secara kontradiksi kita dapati hukum itu tidak dapat kita lakukan pada saat ini bahkan dianggap melanggar hak asasi manusia. Kenapa? Karena kita tidak pada posisi memimpin, tidak memiliki kuasa. Maka dari itu seorang muslim harus memiliki jiwa pemimpin, mencari cara untuk berkuasa demi diterapkannya nilai-nilai Islam. Sebagaimana kita contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang hijrah ke Madinah demi dapat menerapkan ibadah puasa.

Hal yang ideal kita lakukan adalah membaca dan memahami kandungan Al Qur’an kemudian melaksanakannya. Hendaknya kita memiliki semangat seperti sahabat yang menggap ayat Al Qur’an adalah surat dari Allah ta’ala. Surat yang Allah ta’ala turunkan secara khusus untuk menjadi petunjuk bagi hambanya. Jika kita mendapatkan surat perintah khusus dari pimpinan saja merasa wajib untuk melaksanakannya dengan baik, maka harus seperti itu pula adab terhadap ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (QS. Al Alaq : 1).

Ayat pertama yang Allah ta’ala wahyukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam adalah perintah membaca. Membaca tidak saja apa-apa yang tertulis, tapi melisankan bacaan-bacaan yang Allah ta’ala turunkan. Inilah mengapa kita dianjurkan untuk memiliki target baca Al Qur’an setiap hari. Sekaligus tidak berhenti pada usaha membaca tulisan dalam lebaran Al Qur’an saja tapi juga berusaha menghafalkan bacaannya. Sebagaimana sahabat yang juga memiliki target bacaan harian dan menjadi bagian kebiasaan atas tradisi yang tidak pernah ditinggalkan. 

Selanjutnya yang harus dibiasakan adalah membaca hadist. Karena Al Qur’an tidak dapat sempurna dipahami kecuali dengan membaca hadits. Seluruh petunjuk kehidupan sudah ada dalam Al Qur’an dan hadits. Sayangnya saat ini sangat sedikit orang yang mempelajarinya. Itulah sebabnya kenapa banyak orang yang memisahkan Islam dari urusan dunia. Padahal Allah ta’ala wahyukan pertama kali untuk membaca segala sesuatu dengan menyebut (mengingat) nama Allah ta’ala. Mengikat semua urusan berdasarkan petunjuk yang diridhai oleh Allah ta’ala. 

Demikianlah jika muslim ingin memimpin dunia. Pemahaman terhadap Al Qur’an harus menjadi pondasi yang kokoh, yang kemudian dikombinasikan dengan pemahaman dan keahlian di bidang umum yang lain (sosial, kesehatan, politik, ekonomi, dll). Dan yang harus muslim pahami adalah, ketika mempelajari Al Qur’an dan hadits melalui pengayaan ilmu syar’i seperti tafsir, ilmu hadits, dan fiqh, maka ia akan mendapatkan pengetahuan mulai dari cara mengatur rumah tangga, mengelola bisnis bahkan membentuk perundang-undangan.

Ulumul syar’iah pertama-tama harus dikuasai oleh semua muslim. Dijadikan sebagai target keluarga dalam kurikulum pendidikan. Selanjutnya adalah menguasai ilmu umum (ulumul hayatiyah) yang sesuai dengan minat atau bidang keahlian untuk menguasai potensi wilayah agar pengelolaan tidak jatuh kepada orang kafir. 

Begitulah jalan panjang untuk muslim mampu menguasai dunia dan menerapkan nilai-nilai Al Qur’an seluruhnya dan menjadi rahmat untuk seluruh alam. Maka tiap-tiap kita harus punya semangat untuk mempelajari dan menyebarkan kecintaan kita terhadap ilmu kepada saudara dan saudari kita yang lain. Karena tidak akan terwujud impian besar itu kecuali kita saling belajar dan menasehati satu sama lain.

 

Baca juga :

Manusia terbaik

Mencegah Stroke

Generasi yang ditolong Allah

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment