Persiapan Menghadapi Kematian

Persiapan Menghadapi Kematian

Menuju kematian

قال الله تعالى:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْـمَوْتِ بِالْـحَقِّ، ذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَـحِيْد ﴿ سورة ق:19﴾ وقال تعالى: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُوْن ﴿ سورة الزمر:30﴾

Artinya :

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS Qāf:19;, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula).” (QS Az-zumar: 30).

Diriwayatkan dalam sebuah hadis shahih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika maut mau mendekat menjemput baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkeringat dan mengusap wajahnya yang mulia seraya bersabda,

Maha Suci Allah, sesungguhnya kematian itu ada sakaratnya.” (HR Bukhari).

Demikianlah, setiap jiwa pasti akan menemui peristiwa itu, tidak mungkin ada yang dapat menghidar dari sakaratul maut dan kematian. Jika manusia terbaik di dunia ini yaitu baginda Rasulullah juga merasakannya sebagaimana tersebut dalam hadis di atas, maka apalagi manusia biasa seperti kita, pasti akan merasakan pula. Dengan menggunakan cara apapun manusia tidak akan dapat menghindar darinya.

menghadapi

Kematian adalah keniscayaan bagi setiap jiwa, ajal itu tidak mungkin dapat bergeser sedikitpun ketika saatnya telah tiba, tidak dapat maju dan tidak dapat pula mundur. Hal ini sudah menjadi aksiomatik, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun.” (QS Al A’raf: 34).

Sebagaimana juga manusia tidak mengetahui pada saat apa dan dimana kematian itu akan menghampirinya.

Diceritakan dalam sebuah riwayat, dan cerita ini disebutkan oleh Syaikh Dr. Abdurrahman Al ‘Arifi dalam bukunya “Al ‘ālam al akhῑr”, bahwa ada seorang menteri yang sangat terhormat di antara para menteri nabi Dawud ‘alaihissalam, terbukti sepeninggal nabi Dawud dia diangkat lagi oleh raja Sulaiman ‘alaihissalam menjadi menteri juga.

Suatu hari di waktu pagi raja Sulaiman sudah berada di tempat kerjanya ditemani oleh menterinya tersebut. Kemudia masuklah seorang laki-laki dengan memberi salam dan melaporkan beberapa persoalan kepada raja Sulaiman.

Beberapa kali di sela-sela laporannya, laki-laki tadi memandang sang menteri dengan pandangan yang menakutkan. Setelah selesai, kemudian laki-laki itupun minta izin untuk pergi dan meninggalkan istana raja Sulaiman.

Kemudian sang menteri bertanya kepada raja Sulaiman,

“Siapakan tamu laki-laki tadi wahai raja Sulaiman? Pandangannya membuatku ketakutan.”

Raja Sulaiman menjawab,

“Dia adalah malaikat maut yang menjelma menjadi seorang laki-laki.”

Mendengar jawaban itu sang menteri bertambah sedih dan menangis ketakutan. Kemudian memohon kepada raja Sulaiman untuk mengutus angin dan menerbangkannya ke tempat yang sangat jauh di anak benua India. Raja Sulaiman pun mengabulkan permintaannya dan terbanglah menteri tersebut hingga sampai di India.

Keesokan harinya, malaikat maut itu datang lagi kepada raja Sulaiman, memberi salam dan masuk ke dalam ruang kerjanya sebagaimana biasanya. Sebelum melanjutkan pembiacaraan, raja Sulaiman bertanya, “Kemarin menteri saya sangat ketakutan dengan kehadiranmu, mengapa kamu kemarin memandangnya dengan pandangan seperti itu?”

Malaikat maut menjawab,

“Wahai nabi Allah, pada saat kemarin saya masuk di ruangan ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepadaku untuk mencabut nyawa menterimu itu setelah dhuhur di India, dan saya jadi heran mengapa dia kemarin pagi masih di tempat ini.”

“Kemudian, setelah itu apa yang kamu lakukan kemarin?” tanya raja Sulaiman.

Malaikat maut menjawab,

“Saya tetap melakukan sebagaimana tugas saya, saya pergi ke India dan menuju ke tempat dimana saya diperintahkan untuk mencabut nyawanya, dan benar, dia sedang menungguku di tempat itu, kemudia saya cabutlah nyawanya di situ.”

Demikianlah, kematian yang tidak mungkin dapat dihindari oleh siapapun. Baik raja, menteri, dan orang-orang terhormat sekalipun tidak dapat menghindar darinya. Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al Jumu’ah: 8).

Melalui penjelasan dari teks ayat al Quran dan hadis serta kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kematian adalah muara setiap jiwa, maka sudah sewajarnya manusia harus selalu introspeksi diri sebelum menghadapi hari yang sudah pasti dan sebelum terlambat, hendaklah selalu bersiap diri untuk menyongsongnya.

Mengapa harus ada kematian?

Dunia yang sedang kita jalani ini adalah merupakan tempat ujian, sementara akhirat kelak adalah tempat pembalasan. Kenikmatan dan musibah yang kita temui di dunia ini adalah merupakan pelajaran yang harus kita ambil manfaatnya dengan baik.

Maka apabila manusia mampu memanfaatkan dunia ini dengan baik untuk kehidupan akhiratnya kelak, dengan tidak melupakan bagian dunia sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah, maka manusia berhak untuk mendapatkan reward atau balasan yang baik dan besar. Apabila manusia sabar menghadapi ujian kesulitan di dunia ini, maka hal ini akan dicatat oleh Allah sebagai kebaikan baginya.

Sudah sewajarnya dan merupakan konsekuensi dari pembebanan yang adil, Allah akan menguji dan mengevaluasi dengan teliti untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan mendapat balasan dan hukuman.

Seorang mukmin memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah telah memberikan keistimewaan kepada manusia dengan beberapa fasilitas dan nikmat yang banyak yang tidak terhitung. Mereka  harus  bertanggung jawab atas fasilitas dan nikmat tersebut dengan cara menjaga dan mengembangkannya dengan baik.

Untuk itu semua, maka maka jalan satu-satunya adalah kematian. Kemudian manusia setelah itu dibangkitkan kembali. Inilah aqidah kita, yang telah mengajarkan bahwa  kehidupan dunia ini tidak berhenti sampai di sini saja. Dunia ini adalah rangkaian cerita yang belum berakhir. Dunia ini masih bersambung dengan akhirat yang pintu gerbangnya adalah kematian.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada kita dapat mengakhiri kehidupan di dunia ini dengan kebaikan yang kita kenal dengan istilah husnul khatimah, hingga kita dapat memasuki gerbang akhirat dengan kebaikan pula.

Wallahu a’lam.

 

Baca juga :

Mengenal Allah dengan Al Qur’an

Hukum meratapi kematian dalam Islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment