Merajut Cinta Kepada Allah

Cinta Kepada Allah (Mahabbatullah)

Cinta Kepada Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Azza wa Jala, mendatangiku – dalam mimipi – Dia berfirman kepadaku, “Wahai Muhammad, ucapkanlah
(( اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّكِ وَ حُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي اِلَى حُبِّك ))

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon cinta-Mu, cinta orang mencintai-Mu, dan amal yang membawaku untuk mencinta-Mu.” (HR. Ahmad dan Trimidzi, Hadits Hasan).

Tiada yang terindah bagi seorang muslim melainkan mendapatkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Cinta yang tulus lahir dari keimanan seorang hamba. Dimana cinta kepada Allah adalah sumber segala cinta hakiki. Cinta kepada Allah adalah kebutuhan dan kewajiban, cinta di atas semua cinta. Hidup penuh makna. Cinta kepada Allah jaminan keterarahan hidup, kemuliaan sejati, dan cinta kepada Allah menuntun kita pada apa, siapa yang mesti kita cintai, dan bagaimana mencintainya dengan benar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

“Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan akhirat.”

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab untuk meraih kecintaan kepada Allah Ta’ala adalah:
Membaca Al Qur’an dengan memahami maknanya serta merenungkan kandungannya. Al Qur’an adalah kalamullah, tidak pernah bosan dikala seseorang telah mendapatkan kecintaan kepada-Nya. Dan menjadi evaluasi bagi kita, berapa lembar ayat-ayat Al-Qur’an telah kita baca setiap harinya?
Mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan fardhu. Sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Bukhori dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak ada taqorrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara yang sunnah di luar yang fardu) sampai Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannnya yang dia gunakan untuk mendengar, penghlihatannya yang digunakan untuk melihat. Tangannya yang digunakan untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, niscaya Aku akan berikan dan jika dia meminta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi”.

Terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan dengan hati, lisan dan perbuatan.
Mencintai Allah Ta’ala di atas segalanya.
Mencintai Allah Ta’ala dengan memahami nama-nama, Sifat-sifat, dan Perbuatan Allah.
Mengakui karunia dan nikmat Allah lahir dan batin.
Memiliki hati yang luluh dan khusyu di hadapan Allah Ta’ala.
Berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) dan beribadah kepada Allah Ta’ala dengan hati khusyu dan penuh adab.
Bergaul dengan orang yang sungguh-sungguh mencitai Allah Ta’ala.
Meruntuhkan tembok penghalang hati dengan Allah Ta’ala.

Tanda-tanda Mahabbatullah

Pertama : banyak berzikir

Yang menarik untuk disimak dalam Al-Qur’an ketika menyebutkan kata zikir seringkali diiringi dengan kata ‘Yang Banyak’. Dalam surat Al-Ahzab: 35, ‘Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah’. ketika bercerita tentang Nabi Zakariya ‘alaihissalam, Allah menyebutkan, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imron: 41).
Bahkan ketika Allah menyuruh orang beriman untuk berzikirpun dikuatkan dengan kata-kata yang banyak, “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).
Karena orang yang sedikit mengingat Allah adalah termasuk salah satu ciri orang-orang munafik (silahkan melihat surat An-Nisa’: 142).

Kedua: siap berkorban

Tiada cinta tanpa pengorbanan, begitu pula halnya dengan cinta kepada Allah ta’ala yang harus ditunjukkan dengan pengorbanan di jalan-Nya. Dalam hal apapun, manusia harus berkorban dengan segala yang dimilikinya. Orang yang bercinta pasti dituntut berkorban dengan apa yang dimilikinya.
Orang-orang kafir siap berkorban dalam mencintai kebatilan untuk menghalangi jalan Allah. Bagaimana dengan umat Islam? Hal itu diceritakan Allah dalam surat Al-Anfal ayat 36, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.”
Sementara orang Islam, Allah telah membeli dalam perniagaan jiwa dan hartanya dengan surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS. At-Taubah: 111).

Ketiga: penuh dengan ketaatan kepada Allah

Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, karena itu merupakan sebab para sahabat ingin menjaga citra kemuliaanya, maka mereka contohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, bila manusia tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah tidak akan pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah, di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS An Nisa’: 80).

Semoga kita dapat menggapai mahabbatullah.

 

Baca juga :

Tekad kaum muslim

Arti muslim sesungguhnya dalam islam

Hukum menjual rumah dan tanah dalam islam

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru kami: @yasapeduli

Leave a Comment