Pengorbanan Merajut Benang Kepemimpinan

Pengorbanan Kehidupan

Ibnu Abbas, Anas, Sa’id bin Musayyib, dan lainnya meriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan kepada Shuhaib bin Sinan, salah seorang sahabat Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wasallam. Ketika hendak berangkat hijrah ke Madinah, sahabat yang semasa jahiliyah pernah ditawan pasukan Romawi itu dihadang oleh orang-orang Quraisy.

Shuhaib dilarangmeninggalkan Mekkah kecuali dengan syarat, ia tinggalkan seluruh kekayaan yang dimilikinya. Shuhaib menyambut tawaran itu, ia korbankan seluruh harta kekayaannya dan ia masuk kota Madinah tanpa membawa harta.

Pengorbanan (tadlhiyah) adalah mengorbankan jiwa, waktu, kehidupan dan semua potensi untuk mencapai tujuan. Di dunia ini tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Setiap pengorbanan dalam memperjuangkan fikrah tidak akan sia-sia bahkan mendapat pahala yang besar dan yang baik di sisi Allah.

Islam sebagai agama Allah Subhanahu wa ta’ala, dalam menjaga eksistensi dan umatnya memerlukan pengorbanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sekalipun mendapat jaminan ri’ayah ilahiyah (perlindungan Allah) tak pernah menunggu datangnya kun ilahiyyan (Allah berkata ‘kun! (jadilah!)) dalam membangun masyarakat Islami.

Perjuangan atau tadlhiyah mendominasi kehidupan Rasul terakhir itu dan para sahabatnya yang mulia. Berkah pengorbanan Nabi dan para sahabatnya itulah yang menjadikan umat Islam tetap hidup hingga saat ini.

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.” (QS. An Nisa: 100).

Pengorbanan merupakan konsekuensi logis dari sebuah perjuangan.

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah.

Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At Taubah: 120-121).

Pengorbanan telah menjadi sunnatu al hayat (hukum kehidupan). Tanpa adanya pengorbanan mustahil cita-cita luhur yang ingin diraih dalam hidup ini akan terwujud. Tanpa hal itu juga eksistensi organisasi akan sulit dipertahankan. Karena itu dalam sejarah kehidupan ini selalu dipenuhi oleh warna warni pengorbanan.

 

Baca juga :

Mengenal Allah dengan Al Qur’an

Hukum meratapi kematian dalam Islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment