Perusak Segala Kebaikan

Perusak Segala Kebaikan

Diceritakan di salah satu riwayat hadits, dalam suatu perjalanan Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka?”

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah senantiasa mempergunakan kesempatan terbaik untuk belajar. Dalam perjalanan (safar) seringkali kita lalai dengan urusan lainnya. Padahal dalam perjalanan merupakan salah satu sarana terbaik untuk belajar dan mengajarkan kepada orang lain. Dalam banyak kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada para shahabat terkait dengan berbagai macam keilmuan agama. Bahkan dalam mendidik anak juga seringkali dalam suatu perjalanan. Dan termasuk salah satu kondisi terkabulkannya doa seseorang.

Apalagi pertanyaan yang sangat agung terkait dengan cara masuk surga dan selamat dari neraka. Dan sudah menjadi kondisi secara umum kondisi para shahabat senantiasa berkeinginan masuk surga di depan matanya. Serta menjauhi neraka agar tidak terjerumus ke dalamnya. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengomentarinya seraya mengatakan,

“Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan pergi haji.”

Pintu Kebaikan

Pentingnya kita mendapatkan taufiq dari Allah agar dimudahan dalam melaksanakan berbagai macam kebaikan yang menghantarkan kita ke dalam surga-Nya. Pintu-pintu kebaikan itu terangkum dalam beberapa hal, yaitu: Beribadah dan tidak melakukan kesyirikan. Menunaikan semua rukun Islam yang lima.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui akan semangat Muazd dalam menggali ilmu agama, beliau pun menambahkan pengajaran dengan cara pertanyaan balik kepada beliau dengan bertanya,

“Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu kebaikan ? Puasa adalah benteng, Shodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) : “ Lambung-lambung  mereka jauh dari tempat tidurnya….” (QS. Sajadah: 16).

Sampai pada firman-Nya,

“Yang telah mereka kerjakan.”

Kemudian beliau kembali bersabda,

‘Maukah kamu aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya, dan puncaknya ?’

aku menjawab,

’Mau ya Nabi Allah.’

Nabi pun bersabda,

‘Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah Jihad.’”

Inilah berbagai macam bentuk pintu kebaikan dimana kita bisa mengambil salah satunya bahkan semuanya. Agar kita menggapai kecintaan Allah. Karena Allah sangat mencintai seorang hamba ketika melakukan amalan-amalan yang diwajibkan. Dan terus menunaikan amalan-amalan sunah sampai Allah mencintainya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan al Bukhori (silahkan melihat hadits arbain Nawawi hadits ke-38).

Kemudian beliau bersabda,

Maukah kalian aku beritahukan kunci dari semua itu ?’

Saya berkata,

‘Mau ya Rasulullah.’ Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda,  ‘Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk).’

Saya berkata,

‘Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?’

Beliau bersabda,

‘ Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka.’ (Riwayat Tirmidzi no. 2616 dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Inilah perusak segala kebaikan. Yang menghantarkan seseorang masuk ke neraka. Sehingga kita harus menjaga lisan kita. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaq ‘alaihi).

Karena dosa yang disebabkan oleh lisan mencakup banyak hal termasuk dosa syirik. Dosa terbesar di sisi Allah. Dosa yang hampir setara dengan syirik berupa mengatakan tentang Allah tanpa dilandasi ilmu. Memberikan kesaksian palsu, sihir, menuduh orang baik melakukan kemungkaran. Juga termasuk dosa-dosa besar seperti berbohong, menggunjing, dan mengadu domba. Dan banyak hal yang terkait dengan dosa yang bersumber dari mulut kita. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan,

”Dua hal yang kebanyakan orang masuk neraka yaitu mulut dan kemaluan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). 

Bahkan para ulama terdahulu mempunyai perhatian besar terkait dengan hal ini. Suatu ketika sahabat Umar pernah masuk ke rumah sahabat Abu Bakar dan mendapati Abu Bakar menarik lidahnya. Maka Umar mengatakan,”Semoga Allah mengampuni anda.” Maka Abu Bakar menjawabnya, “Ini yang mendatangkan beban nanti.” 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga pernah memegang lisannya seraya mengatakan, “Celaka engkau, berkatalah yang baik, maka akan beruntung. Atau diam dari perkataan buruk, maka akan selamat. Kalau tidak, anda akan menyesal.” Ada seseorang menanyakan kepada beliau, maka beliau menjawab,

“Tidak ada yang paling merugi dari anggota tubuh pada hari kiamat nanti melainkan dengan lisannya. Kecuali orang yang berkata baik.” 

Hasan Al-Basri rahimahullah mengatakan,

“Lisan adalah yang memimpin tubuh. Kalau tidak dapat menjaganya, maka seluruh badan akan terkena. Kalau dapat menjaganya, maka seluruh anggota tubuh akan selamat.” 

Semoga kita dapat menjaga lisan kita agar semua amalan kebaikan kita tidak sia-sia di hari kiamat kelak

 

Baca juga :

Rencana yang baik

Tunduknya hati

Sholat yang hidup

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment