Prinsip Kemenangan

Prinsip-Prinsip Kemenangan

Ustadz H. Abu Haidar

Dalam berjuang, ummat muslim harus memahami jalan-jalan untuk meraih kemenangan dan menghindari jalan-jalan yang menuju kepada kekalahan. Sehingga arah perjuangan kaum muslimin benar-benar menuju kepada kemenangan dan akhirnya mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala. Karena kita punya prinsip Isy Kariman aw Mut Syahidan –hidup mulia atau mati syahid.

Makna kemenangan adalah mampunya kaum muslimin menerapkan prinsip-prinsip Al Qur’an secara utuh dalam kehidupan sehari-hari. Atau jika belum mampu untuk itu, setidaknya sudah bercita-cita dan berusaha untuk menegakkannya. Dengan demikian seorang muslim dapat meninggal dalam keadaan syahid.

Prinsip 1. Kemenangan Itu, Mulanya atau Akhirnya Ada di Tangan Allah Ta’ala 

  • Allah Menurunkan Bantuan Berupa Malaikat

Bahwa kemenngan kaum muslimin itu atas kehendak Allah Ta’ala. Dan tidak ada seorangpun yang bisa campur tangan dalam kemenangan ini. Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas Bukit Shafa, beliau bersabda,

“Dan Dia-lah yang menghancurkan musuh-nya sendiri” “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Anfal : 9-10).

  • Allah Menurunkan Ketenangan kepada Kaum Muslimin.

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” (QS. Al Anfal : 11).

Dalam Perang Badar, Allah Ta’ala menurunkan kantuk pada kaum muslimin yang dengan rasa kantuk itu, kaum muslimin menjadi segar kembali lalu berani. Kemudian dilanjutkan dalam ayat tersebut bahwa Allah Ta’ala menurunkan hujan agar kaum muslimin dapat bersuci dan dengan begitu mereka mendirikan shalat, sehingga dengan wudhu dan shalatnya mereka mendapat kekuatan.

Prinsip 2. Ketika Allah Ta’ala Sudah Menakdirkan Memberikan Kemenangan Kepada Kaum Muslimin Maka Tidak Ada Kekuatan Sehebat Apapun di Muka Bumi Ini yang Bisa Mengalahkannya.

Begitu pula Saat Allah Ta’ala Menakdirkan Memberikan Kekalahan Kepada Kaum Muslimin Maka Juga Tidak Ada Kekuatan Sehebat Apapun di Muka Bumi Ini yang Bisa Menolong.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran : 160).

Maka hendaknya bagi muslim itu tawakkal kepada Allah, pasrah kepada Allah, melibatkan Allah dalam segala urusannya. Bahwa muslim memiliki perasaan tidak mampu, perasaan tidak bisa, perasaan tidak memiliki kekuatan kecuali dengan ijin Allah.

Jadi jika seseorang merasa dirinya pandai, merasa hebat, merasa memiliki kekuatan dengan menihilkan karunia Allah atas kelebihan tersebut, maka itu adalah langkah awal menuju kehancuran. Ketika seseorang merasa hebat, maka Allah tidak terlibat.

prinsip

Prinsip 3. Datangnya Pertolongan-Pertolongan Itu Ada Syaratnya 

Apa saja syarat-syarat tersebut?

Penuhi Panggilan Allah

Bersegera melaksanakan shalat berjamaah. Bukan hanya kesadaran individu tapi kesadaran masyarakat untuk memperbaiki ibadah. Memperbanyak ibadah sunnah. Bermunajat dan berdzikir.

Lurus manhajnya, Sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah

Islam memiliki konsep sendiri dalam segala segmen kehidupan. Perekonomian Islami, pemerintahan Islami serta semua sendi kehidupan. Allah Ta’ala telah menyempurnakan stariat-Nya dan Rasul-nya telah mencontohkan dengan contoh terbaik. Kita tinggal mengikutinya. 

Bersungguh-sungguh Jihad di Jalan Allah

Dalam makna jihad yang luas, muslimin harus mengambil posisi. Jika dalam posisi peperangan maka jihadnya adalah jihadul qital (berperang). Jika seorang muslim mahir dalam bidang ekonomi, maka jihadnya adalah menegakkan ekonomi Islam, menguasai perdagangan juga penyediaan kebutuhan harian ummat agar tidak bergantung kepada produk dari non Islam.

Satu Barisan, Satu Kata

Ini adalah pondasi kemenangan. Kita harus menggalang persatuan. Kelompok-kelompok Islam itu bedanya sedikit saja, tapi tujuannya pasti satu yakni tegaknya agama Islam. Ada yang fokus memurnikan tauhid, ada yang fokus dalam ekonomi atau politik atau pendidikan atau kesehatan. Semuanya berusaha memberikan manfaat dengan ijtihadnya masing-masing. Dan ini harus disatukan bukannya dipermasalahkan. 

Mentaati Allah dan Rasul-Nya

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al Anfal : 46).

Merawat perbedaan golongan dalam satu jamaah, demi tegaknya satu tujuan. Jika golongan-golongan itu diumpamakan satu lidi, meski ia panjang atau pendek, meski ia tipis atau tebal, jika disatukan maka akan sulit dipatahkan. 

Sedikitnya Jumlah Kaum Muslimin dan Sedikitnya Persiapan Bukan Sebab Kekalahan

Sedikitnya harta, sedikitnya alat untuk berperang, sedikitnya jumlah tentara, sama sekali bukan sebab kekalahan. Karena pada kenyataannya saat ini –sebagai contoh di Indonesia- ummat begitu banyak tapi tidak bisa dikatakan menang. Karena syariat Islam belum tegak, karena kehidupan masyarakat belum semuanya Islami.

 

Baca juga :

Unsur dasar saling mencintai

Ilusi pikiran

Cara mencegah sinusitis

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment