Sisi Lain Dari Berbagai Konflik dan Masalah

Sisi Lain

Seru juga ternyata pengalaman perjalanan di beberapa hari kemarin.  Perjalanan biasa namun meninggalkan banyak kesan  luar biasa yang saya lakukan selama 4 hari kemarin dari Jawa Timur ke Jawa Tengah. Kami, saya dan suami,  menggunakan hampir semua moda perjalanan darat, mulai kereta api, bis kota, angkot, taksi hingga becak. 

Keseruan didapat dari kekhasan masing-masing moda yang kami naiki. Kereta api dengan sistemnya yang rapi, bis kota dengan teriakan-teriakan khas kondekturnya dan suara pengamen dengan nyanyian-nyanyian yang dilantunkannya, angkot yang harus mepet-mepet menata posisi duduk, taksi dengan kemudahan pemesenan via aplikasi, dan becak yang memberi bonus bisa menikmati pemandangan dan udara terbuka di sepanjang perjalanan. 

Capek? tentu. Perjalanan ini ditempuh hampir 24 jam nonstop. Tapi kami Alhamdulillah mencoba untuk tidak merasa kesal, marah, atau menggerutu sepanjang jalan, walaupun bis kota yang kami naiki kadang ngebut seenaknya untuk menghindari bis belakangnya, lalu angkot yang kami naiki juga harus menunggu penumpang datang satu-satu yang membuat penumpang yang sudah ada berpanas-panas di dalam mobil ikut menunggu. 

Semua rasa kesal hilang karena kami mencoba menikmati sisi lain dari perjalanan ini. Bahwa kami bisa punya waktu berbincang selama perjalanan, bisa menapaki lagi rute-rute yang sudah lama hanya kita lewati tanpa dinikmati keindahannya dan masih banyak hal yang kami dapat daripada sekedar memenuhi pikiran dengan hal-hal yang membuat lelah.

Dalam sebuah perjalanan, rasanya akan selalu ada ruang yang membuat kita bisa memandang dan menelusuri berbagai sisi, sehingga kita akan mendapatkan gambar yang lebih indah, perasaan yang lebih nyaman yang membuat hati menjadi lebih lapang. Tidak hanya ketika memandang perjalanan dengan berkendaraan tetapi dalam arti yang lebih luas lagi yaitu kemampuan untuk mengidentifikasikan sesuatu dari berbagai sisi.

Betapa mudahnya ketika kita menuliskan kekurangan pasangan, ketidakmampuan anak-anak, kealpaan guru, kejelekan tetangga, karena hanya itu yang bisa kita capture untuk masuk ke dalam hati kita. Sisi lain yang jauh lebih banyak dari itu hanya tertangkap sedikit saja atau bahkan tidak tertangkap sama sekali.

Konflik selalu dimulai dengan prasangka bahwa kamu tidak bisa ini, kamu hanya mampunya segini padahal aku inginnya segini, kamu tidak bisa apa-apa, kamu hanya bisa itu-itu saja. Rangkaian kalimat yang keluar karena  hanya melihat dari satu sisi. 

Berapa banyak kemudian anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk mengembangkan bakat minatnya hanya karena orang tua memandang dari sisi yang ia memang tidak bisa sehingga prasangka yang timbul adalah tidak mampu tanpa kemudian mencoba untuk memulai melihat sisi lain yang jadi kekuatannya.

Banyak juga pasangan-pasangan, bahkan sebuah keluarga, yang kehilangan kehangatan komunikasi karena dipenuhi banyak prasangka sehingga hanya menunggu untuk memulai tanpa keinginan untuk mengambil langkah dari sisi lainnya. 

Dalam psikologi ada 3 jenis prasangka yaitu prasangka yang menitikberatkan pada apa yang diangap benar, prasangka pada apa yang disukai dan tidak disukai, serta prasangka yang merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Islam mengajarkan kita dua prasangka yaitu prasangka baik (husnudzhon) dan prasangka buruk (su’udzhon) dan jelas sekali disampaikan dalam surat Al Hujurat ayat 12 tentang tidak diperbolehkannya kita berprasangka buruk dan mencari-cari kejelekkan orang lain. 

Ketika prasangka buruk yang mendomanisasi, saatnya merenung mungkin saya belum melihat sisi satunya yang jauh lebih baik dari yang saya tangkap sekarang. Semoga Allah jauhkan kita dari prasangka buruk yang mendominasi. Wallahu a’lam bishshowab.

#belajarkudisini

 

Baca juga :

Mengabdikan hidup kepadaNya

Pencuri terburuk

Marketing Qurani

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli 

Leave a Comment