Ujian Keimanan dalam Tafsir Al-Ankabut

Ujian Keimanan

Oleh: Ustadz Alfin Sahih al-hafidz

Allah Subhanahu wa ta’ala telah mewahyukan kepada manusia surat Al-Ankabut yang memiliki arti laba-laba dan merupakan surat ke 29 dalam Al Qur’anul Karim. Isinya adalah penyadaran kepada manusia tentang perjuangan tegaknya iman sampai kembali kepada Allah ta’ala. 

Tiga ayat pertama ini cukup unik,

“Apakah manusia itu mengira kalau mereka dibiarkan menyatakan kami ini mukmin, sedangkan mereka tidak diuji.” Setiap orang berprestasi pasti akan diuji, demikian pula sifat keimanan yang tentunya konsekuensi dari keimanan itu adalah pasti akan diuji. “Sungguh ujian keimanan itu sesuatu yang terus berlaku dalam setiap masa.

Supaya Allah mengetahui yang tulus dalam keimanan.” Kita ini apakah lebih yakin atas apa yang Allah janjikan atau yakin atas apa yang diiming-iming oleh Setan, “Apakah mengira orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan berbuat keburukan dapat menghindar dari kekuasaan Kami? Teramat buruk keputusan mereka.”

Ini adalah hakikat kehidupan yang pertama yang Allah ingin sadarkan pada manusia. Banyak orang yang mengira, ketika disebutkan dalam surat ini, hanya salah satunya saja yang merupakan sebuah ujian keimanan. Antara kaya atau miskin, lapang atau sempitnya rezeki, pasar ramai atau sepi, bujangan atau yang sudah menikah, sehat atau sakit, mereka beranggapan sesuatu yang tidak enak semata yang merupakan sebuah ujian keimanan.

Sehingga sebagian besar orang merasa yakin jika mereka mendapatkan sesuatu kenikmatan, mereka tidak menganggap itu sebagai sebuah ujian. Padalah itu adalah sebuah anggapan yang sangat salah.

Hakikat dari kehidupan ini adalah sebuah ujian iman. Ini yang perlu kita yakini terlebih dahulu. Setiap keadaan adalah ujian iman. Seperti halnya pilihan antara datang lebih awal atau mengakhirkan hadir di sholat Jumat adalah sebuah ujian iman yang pastinya akan ada konsekuensinya. Antara meyakini apa yang Allah janjikan atau mendahulukan kepentingan duniawi. Sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala menyeru,

“Wahai orang mukmin, jika ada seruan sholat jumat maka segeralah bergegas datang dan tinggalkan perniagaan yang keuntungannya sementara, menuju perniagaan yang keuntungannya kekal selamanya.” (QS. Al Jumu’ah: 9).

Berarti, Itu lebih baik jika kita mengetahui bahwa Allah telah siapkan nikmat bagi orang yang hadir sholat jumat lebih awal.

Surat Al-Ankabut menjelaskan kepada kita hakikat kehidupan adalah ujian keimanan. Manusia yang paling tinggi uiian keimanannya adalah para pejuang iman. Semakin tinggi pengorbanan seseorang untuk perjuangan iman, semakin tinggi pula ujiannya. 

Rasul yang pertama kali diceritakan dalam surat Al-Ankabut adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, 

“Sungguh kami telah mengutus Nuh, dan dia tinggal di antara kaumnya berdakwah siang malam secara sembunyi-sembunyi selama 950 tahun.” (QS. Al-Ankabut: 11).

Pejuang Iman ini sudah penuh kesungguhan dan ternyata mendapat penghianatan dari istri dan anaknya. Memang berat menjadi seorang pejuang Iman, karena Allah menjanjikan akan memberikan hadiah yang istimewa untuknya.

Yang menjadi icon selanjutnya dalam surat Al-Ankabut adalah sahabat Muhajirin, sampai-sampai ujian iman ini harus memaksa seorang pejuang iman melakukan mekanisme hijrah yang tentunya tidak ringan.

Icon dalam surat Al-Ankabut adalah penegasan kepada para Muhajirin yang berpindah ke Madinah tanpa membawa harta benda apapun kecuali hanya pakaian yang melekat, mereka rela untuk meninggalkan segala sesuatu untuk menuju keimanan yang sempurna di sisi Allah. Sehingga disebutkan,

“Berapa banyak makhluk yang melata di muka bumi ini mereka tidak mampu membawa dan memikul rezekinya sendiri, tapi Allah memberikan jaminan rezeki kepada mereka. Begitu pula kepada orang-orang yang berhijrah.”

Ujung surat Al-Ankabut ini ditutup dengan,

“Hai orang-orang yang berhijrah, Allah senantiasa membersamai kalian.” “Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam perjuangan iman, maka senantiasa Allah akan membimbing jalan kehidupan mereka. Kami akan memberikan arahan-arahan mereka untuk menempuh jalan kehidupan ini.”

Allah berfirman dalam ayat ke 41 surat Al-Ankabut,

“Perumpamaan orang yang mencari sesembahan dan perlindungan kepada selain Allah, maka perumpamaan mereka ini mirip seseorang yang berlindung di balik rumah laba-laba. Dan sungguh tidak ada rumah yang lebih lemah dari rumah laba-laba. Seandainya kalian mengetahui.”

Kesimpulan dari tafsir Surat Al-Ankabut ini adalah : 

  1. Jika kita diuji dalam hal keimanan, maka semakin kuatlah dalam memegang janji-janji Allah Subhabahu wa ta’ala, dan jangan sampai terkecoh dengan menunjukkan ketundukan kepada selain Allah ta’ala, dan jangan sampai ada bibit-bibit kesyirikan di dalam hati kita. Kita memohon perlindungan kepada Allah semata.
  2. Allah ta’ala menjelaskan bahwa orang yang berbuat dosa jangan mengira mereka bisa lolos dari siksa Allah sesuai dengan dosa mereka.
  3. Kita jangan pernah sekali-kali meremehkan perbuatan buruk meski itu kecil ataupun yang besar, karena hal itu dapat mendatangkan kemurkaan Allah ta’ala.

Wallahu a’lam bishshowab

 

Baca juga :

Ketaatan dan nasihat

Membiasakan anak berpenampilan sederhana

Menabung dan investasi

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment