Tidak Serakah

Tidak Serakah

Sifat serakah atau tamak adalah salah satu sifat tercela. Meskipun seseorang telah memperoleh materi yang banyak, tapi jika ia tidak bersyukur dan tidak ada puasnya, maka ia mendapati dirinya terasa miskin. Keserakahan ternyata bukan hanya membuat seseorang tidak pandai bersyukur, tetapi juga untuk memperoleh kenikmatan yang lebih banyak ia akan menempuh cara-cara yang tidak halal dan merampas hak-hak orang lain.

Meskipun mereka yang dirampas haknya itu tergolong miskin atau jauh lebih miskin darinya.

Rasa syukur kepada Allah Ta’ala membuat seseorang memperoleh keberuntungan yang besar. Karena memang sudah janji Allah untuk menambah nikmat-Nya kepada siapa saja yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7).

serakah

Sementara orang yang serakah akan mengalami kerugian bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dia tidak memiliki rasa optimis terhadap hari-hari mendatang. Selalu curiga dan iri terhadap kemajuan serta kebaikan yang dicapai orang lain. Dan pada akhirnya ia tidak disukai oleh Allah Ta’ala dan sesama manusia.

Ketika seorang sahabat datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam guna menanyakan tentang amalan yang akan membuat manusia dicintai Allah Ta’ala dan manusia lainnya, Rasulullah menjawab,

Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja), maka kamu akan dicintai Allah. Dan janganlah tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Ketamakan kepada dunia menyebabkan seseorang terlena, sehingga lupa tujuan hidupnya. Tersibukkan dengan mengejar dunia yang fana hingga ia sedikit sekali mengingat Allah Ta’ala, bahkan banyak yang melupakan-Nya.

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata,

“Mereka cepat berbuat dosa dan menunda-nunda taubat. Mereka berkata, ‘Saya akan bertaubat, saya akan beramal.’ (Tetapi mereka tidak melakukannya) sampai akhirnya kematian datang kepada mereka dalam keadaan mereka yang paling jelek dan amalan yang paling buruk.”

Selayaknya kita sadari jika keberuntungan dalam hidup ini tidak bisa semata-mata kita ukur dengan tinjauan materi. Karena itu, seandainya seseorang tidak memperoleh kenikmatan materi sekalipun, ia masih tergolong orang yang beruntung manakala menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

 

Baca juga :

Unsur dasar saling mencintai

Ilusi pikiran

Cara mencegah sinusitis

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment