Anak Yang Shalih: Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Faktor kebahagiaan yang kedua adalah

Memiliki anak yang shalih

Setiap orang yang berumah tangga pasti menginginkan mempunyai anak, tapi bagi suami istri yang shalih, anak bukan sekedar dambaan, tapi anak itu selanjutnya harus dibentuk menjadi anak yang shalih. Seseorang pasti sangat berbahagia apabila anak yang dimilikinya mejadi anak yang shalih. Untuk itu, setiap orang tua tentu harus berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak-anak di samping berdo’a kepada Allah, sebab berdo’a saja tidak cukup.
Namun perlu diingat bahwa, anak yang shalih itu bukan sekedar anak yang hanya bisa berdo’a untuk ampunan orang tuanya. Tapi lebih dari itu, anak yang shalih adalah anak yang berupaya secara maksimal guna melaksanakan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Kalau orang tua memahami ajaran Islam dengan baik, maka ketika anak-anak konsekuen dalam menjalankan ajaran Islam tentu ia menjadi amat bahagia, sebab membentuk anak menjadi anak yang shalih bukanlah persoalan yang mudah.
Untuk itu tiap orang tua harus mendidik anak-anaknya secara langsung dengan penuh tanggung jawab, kesungguhan, dan keikhlasan. Bahwa kemudian ada guru ngaji, sekolah, dan sebagainya hanyalah bersifat membantu orang tua. Tanggung jawab utama terletak pada orang tua.  Rasulullah Saw bersabda,

Didiklah anak-anakmu dan perbaguslah adab mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Faktor Ketiga yang membuat kebahagiaan manusia adalah

Bergaul dengan orang shalih

Hal ini karena jiwa manusia seringkali mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Orang-orang yang setiap harinya bergaul dengan orang-orang shalih sangat mungkin tertular kesholihanya dan menjadi sholih, begitupula sebaliknya, orang yang sering bergaul dengan orang yang tidak baik, sedikit banyak sifat-sifat tidak baiknya akan tertular.
Tidak sedikit kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang pada mulanya baik, tapi karena terlalu sering bergaul dengan orang yang tidak baik, dia menjadi  tidak baik dan sebaliknya orang yang semula tidak baik tapi karena bermaksud memperbaiki diri ia banyak bergaul dengan orang baik lalu ia menjadi baik.
Karena itu Islam memandang penting arti pergaulan dalam kehidupan seorang muslim sebagaimana sabda Rasulullah,

Seseorang mengikuti agama kawannya, karena itulah perhatikan kepada siapa orang itu bergaul.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dengan demikian, bergaul dengan orang shalih akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, karena orang shalih itu selalu membawa nilai-nilai kesalihan. Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan mereka yang tidak shalih, boleh-boleh saja bergaul dengan mereka yang tidak shalih selama bermaksud mengupayakan agar mereka bisa dibimbing menuju keshalihan, sedikit demi sedikit.
Baca Artikel Keluarga Lainnya
Artikel Keluarga YASA Peduli
Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami
@yasapeduli

Leave a Comment