Berlatih Mandiri | Artikel Keluarga Sakinah

Oleh:

Dr. Sri Susanti Tjahjadini, M.Pd

Tokoh Pendidikan

Founder Sekolah Baruku

Penasihat dan Konsultan Sekolah Langkah Gemilang LAZ YASA Malang

Masihkah kita ingat tentang kasus Sinar? Gadis kecil berusia enam tahun asal Desa Riso, Kecamatan Tapango, Poleweli Mandar, Sulawesi Barat, yang merawat ibunya yang lumpuh sendirian tanpa ada Ayah ataupun saudara lainnya. Lalu ada lagi yang hampir mirip dengan itu juga sosok bocah kecil yang merawat orangtuanya. Masya Allah…darimana anak-anak itu mendapat kemampuan seperti itu hingga bisa survive dan mandiri ditengah kondisi yang demikian?

Ternyata kemandirian adalah potensi dasar manusia. Kita dilahirkan tanpa daya dan butuh bantuan orang lain untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Ingatkah ketika bayi mulai belajar untuk tersenyum. Butuh bantuan orang-orang di sekitarnya yang lebih besar dengan sering menatap dan mengajaknya bicara. Walaupun belum memahami apa yang dibicarakan, tapi si bayi langsung bisa ikut tersenyum bahkan bisa tertawa tergelak-gelak ketika melihat mimik orang yang mengajakanya bicara.

Kemudian mulai suka meraih dan menggenggam benda-benda di dekatnya dengan erat dan mencoba memasukkan ke dalam mulut. Di saat itu butuh bantuan orang lain juga untuk mencegah dan mengarahkan ketika benda yang masuk kedalam mulut itu membahayakan. Bisa tengkurap tapi belum bisa membalik sendiri walaupun sudah berusaha hingga butuh bantuan orang lain untuk menyanggah punggung hingga bisa berbalik dari posisi tengkurapnya. Bantuan itulah yang disebut stimulus berupa rangsangan agar bagian tubuh menjadi aktif dan fungsional. Seiring dengan bertambah usia harusnya jenis stimulasi juga ikut berkembang tidak lagi sama dengan fase usia sebelumnya atau bahkan ada juga yang dibiarkan karena menganggap akan bisa dengan sendirinya. Padahal pada kondisi membiarkan itu anak juga mendapat stimulasi yaitu dari lingkungannya dan tidak semua hal itu baik dan fungsional untuk fase usia anak.

 

Berkaitan dengan kemandirian, kemampuan yang perlu dikembangkan tidak hanya dari bagaimana dapat melakukan tetapi juga perlu untuk membekali kemampuan untuk memutuskan sebelum melakukan dengan mengembangkan berbagai strategi (resourcefulness). Jangan terbalik memberi stimulasinya. Pada saat anak butuh pendampingan, orang tua membiarkan, tetapi pada saat harusnya orangtua mengurangi bantuan,  malah mengambil alih seluruh proses belajarnya. Sehingga yang  terjadi ketidaksesuaian antara kemampuan dengan fase usia dan tahapan yang dibutuhkan.

Mari kita tengok portofolio kehidupan Rasulullah.  Masya Allah, stimulus kemandiriannya luar biasa. Aktivitas harian menggembala kambing, juga interaksi sosial dengan banyak orang, baik yang sebaya maupun dengan usia di bawah atau di atas beliau. Sehingga melatih kemandirian pada anak bisa melalui aktifitas sehari-hari. Pertama tetapkan target kemandirian yang mau kita tuju. Misalnya target mandiri bisa makan sendiri, bangun tidur tanpa rewel atau melakukan beberapa aktivitas harian.  Setelah itu rancang juga rentang waktu keberhasilan target-target tersebut berikut tahap-tahap pencapaiannya. Dalam setiap tahapan lakukan evaluasi terhadap  keberhasilan maupun kegagalan yang mungkin terjadi. Kegiatan ini menyenangkan dan tidak akan membebani orang tua maupun anak-anak. Dicoba yuuk…

Leave a Comment