Merenda Rindu Ramadhan

Teringat waktuku terberat ketika kecil adalah menunggu adzan maghrib di kala Ramadhan. Makanan-makanan yang dikumpulkan sejak siang sudah berjejer di meja seperti memanggil-manggil. Makanan kecil biasa yang dijual di depan sekolah jika di hari biasa tidak terlalu menggiurkan, tapi di bulan Ramadhan seperti ini, makanan kecil itu jadi menggoda sekali. Ketika itu belum ada deretan penjual takjil seperti sekarang. Masakan Ibu adalah yang paling istimewa. Ada aneka kolak hangat, ada juga sajian untuk lauk berbuka..duuh betul-betul saat berbuka adalah hal paling dinanti.

Biasanya setelah sholat asar dan mandi sore, saya, adik-adik, serta teman-teman sebaya berlarian lagi ke masjid sambil sudah membawa rukuh dan sajadah. Kami rebutan cari tempat untuk nanti sholat maghrib dan juga untuk tempat sholat tarawih.  Hehe..padahal itu masih sore. Kenapa harus rebutan? Karena ada tempat favorit yang jadi incaran semua anak yaitu dekat pintu, tidak di depan karena itu nanti tempat ibu-ibu, dan juga dekat jendela. Agar tempat yang sudah kita inginkan itu tidak digeser orang lain, maka kami pun main tidak jauh dari masjid hingga saat mendebarkan itu datang, yaitu ketika muadzin masuk mulai ambil mic dan melantunkan adzan kami pun berhamburan pulang ke rumah.

Itulah ngabuburit ala jaman old. Hampir tidak ada orang yang duduk di depan televisi. Sementara saya dan teman-teman sibuk dan heboh cari tempat strategis di masjid, orang tua kami pun kebanyakan ada di teras rumah. Sudah selesai menyiapkan bahan-bahan untuk berbuka jadi masih ada waktu untuk saling sapa dengan tetangga sambil mengawasi kami anak-anak yang sedang bermain. Jalanan juga belum semacet sekarang sehingga definisi pulang cepat pada saat Ramadhan pun betul-betul terlaksana. Waktu berkumpul bersama keluarga saat berbuka tiba adalah hal yang tidak bisa saya lupakan hingga ini.

Ramadhan betul-betul menjadi bulan istimewa yang dinanti. Senang sekali rasanya. Banyak hal yang tidak ada di bulan sebelumnya akan ada di bulan Ramadhan. Kemeriahan suasana sore menjelang buka puasa, rame-rame jalan ke masjid, bahkan lari-lari karena rebutan tempat, Masya Allah.

Lalu apa ya yang hilang kini? Adakah rasa istimewa itu tetap melekat? Jawabanya tentu harus. Jadikan Ramadhan istimewa bersama keluarga. Ada banyak moment yang bisa dimanfaatkan bersama kelurga. Mulai dari sahur bersama, interaksi dengan Al Qur’an bersama keluarga, merencanakan aktivitas bersama keluarga untuk ifhtor bersama, bersedekah, masak bareng, hingga itikaf bersama keluarga. Jauhi aktivitas dengan televisi apalagi tontonan yang kontentnya jauh dari semangat Ramadhan. Jangan sampai acara televisi yang mengisi ruang rindu kita akan Ramadhan. Karena ini suntikan energi untuk 11 bulan berikutnya. Raih keistimewaan moment ini agar rasa rindu akan Ramadhan datang dan datang lagi. Semoga Allah sampaikan usia kita hingga Ramadhan berikut.

*Rinai hujan 19418

Ditulis Oleh

Dr. Sri Susanti Tjahjadini, M.Pd

  • Tokoh Pendidikan
  • Founder Sekolah Baruku
  • Penasihat dan Konsultan Sekolah Langkah Gemilang LAZ YASA Malang

Leave a Comment