Jadi Baik Tidak Susah Kok!

Jadi Baik Tidak Susah Kok!

orang baik adalah orang yang mengerti keadaan orang lain di sekitarnya dan mampu berbuat sesuai yang diperlukan untuk kepentingan banyak orang. Turunan dari pernyataan ini sangat banyak. Katakanlah, untuk menjadi orang baik kita bisa melakukan:

  1. Sedekah atau memberikan sebagian harta kita kepada yang membutuhkan, dengan definisi harta disini tidak selalu berarti materi tetapi juga ilmu, moral, dsb.
  2. Menahan ucapan yang tidak perlu, seperti memaki atau menghina, kecuali dalam keadaan tertentu.
  3. Memaafkan orang lain, dan berani meminta maaf terlebih dahulu terlepas siapapun yang bersalah. Karena minta maaf adalah mengenai cara kita menurunkan ego.
  4. Berkorelasi dengan nomor dua, bersikap rendah hati dan tidak sombong terhadap apa yang kita miliki.

Terlihat klise? Memang! Tetapi itulah adanya. Ada salah satu iklan dari Thailand yang sangat saya rekomendasikan untuk Anda tonton. Mengapa? Karena sejatinya perilaku baik (yang dipancarkan dari keempat poin di atas) adalah perilaku sederhana yang bisa kita lakukan tiap hari. Hal-hal kecil yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang. Padahal, kita tidak tahu bagaimana bersyukurnya orang-orang yang sudah kita bantu.

Iklan tersebut menceritakan tentang seorang pria yang sederhana. Dalam menjalankan aktivitasnya, ia selalu melakukan suatu rutinitas. Di jalan, ia memanfaatkan aliran air dari atap untuk membasahi pot tanaman yang kering. Pada waktu makan, ia rela memberikan daging yang sedang ia santap untuk seekor anjing yang kelaparan.

Setiap hari ia membantu seorang wanita untuk mendorong gerobak dagangannya. Hampir setiap malam ia berbagi satu sisir pisang kepada tetangga di apartemennya. Ia juga merelakan uang yang ia miliki (padahal ditunjukkan ia tidak memiliki banyak uang) kepada seorang pengemis dan anaknya di jalanan.

Apa pengaruh si pria terhadap orang-orang tersebut? Silakan tonton sendiri dan Anda akan menemukan jawabannya. Yang pasti, perlakuan pria tersebut yang seakan-akan sepele dan sederhana, dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap orang/makhluk lain di sekitarnya.

Saya sendiri memiliki pengalaman yang mungkin bisa dibagikan kepada pembaca di Quora. Sekitar bulan puasa tiga tahun yang lalu, saya bersama seorang teman pergi ke Masjid Istiqlal di Jakarta untuk mengikuti acara buka puasa yang rutin diadakan setiap harinya. Hari itu memang sedikit terik, jadi hawanya panas. Kami sampai sekitar pukul tiga sore, sehingga kami bisa melaksanakan shalat Ashar disana.

Selang waktu hingga Maghrib, saya dan banyak orang lainnya sudah duduk di selasar masjid, ada sangat banyak orang. Kebetulan kami berada di barisan-barisan belakang. Pada waktu takjil diberikan, estafetnya habis tepat di urutan saya dan teman saya. Di sebelah kiri teman saya, terdapat beberapa pria yang sudah paruh baya. Saya bisa katakan mereka terlihat sedih karena tidak mendapatkan bagian takjil. Tanpa pikir panjang, kami langsung memberikan takjil kami kepada mereka. Sederhana, bukan? Takjil bukanlah sesuatu yang mahal. Tetapi respon mereka saya sampai speechless. Anda mungkin bisa membayangkan seorang paruh baya yang tersenyum lebar, dengan beberapa gigi yang ompong dan mata yang menyipit. Figur itulah yang saya saksikan.

Terharu? Tentu! Padahal hal itu bukanlah sesuatu yang sangat besar untuk dikorbankan. Saya dan teman saya pun pada akhirnya dapat berbuka puasa dengan baik dan kenyang.

Di lain cerita, orangtua saya saat ini membuka sebuah warung makan online yang dapat diakses dengan platform kendaraan online. Kejadian ini baru berlangsung beberapa hari yang lalu. Kami mendapat pesanan masuk sekitar pukul delapan malam, dengan pesanan beberapa porsi soto.

Pada saat kami sedang menyiapkan hidangannya, sang driver muncul. Awalnya kami tidak menyadari bahwa ia adalah driver yang dimaksud. Mengapa? Karena ia datang bersama seorang anaknya. Anaknya masih balita dan sangat imut. Sambil memberikan bon, kami terlibat percakapan kecil.

“Pak, ini anaknya?”

“Iya, Mas.”

“Oalah, kok dibawa Pak? apa ngga takut kena corona?”

“Iya gaada pilihan lain Mas. Saya gak bisa ninggalin anak sendirian. Mau gak mau dibawa.”

Saya tidak berani bertanya kemana ibu sang anak, lancang pikir saya. Mengetahui hal tersebut, ibu saya langsung memberikan bonus satu porsi soto untuk si driver dan anaknya makan. Sekali lagi. Sederhana. Ibu saya tidak rugi hanya karena memberikan satu porsi soto. Tetapi sang driver sangat berterima kasih. Ia menceritakan tentang bagaimana susahnya mendapatkan uang di tengah pandemi covid-19 ini dan ia sangat bersyukur dapat makan malam enak dengan anaknya. Saya hanya bisa tersenyum. Kebaikan tidak ditentukan berdasarkan besar kecilnya perlakuan seseorang. Tetapi kebaikan adalah bagaimana kita mampu memberikan perubahan mampu meringankan kesulitan orang lain dengan ikhlas.

Jadi pada konklusinya, bagaimana cara menjadi orang yang baik? Lakukanlah hal-hal kecil berguna tiap hari. Hal tersebut akan sangat dirasakan oleh orang lain.

Ikuti Kegiatan Terbaru Kami

Leave a Comment