Anda Memang Sukses, Tapi Apa Anda Bahagia?

Oleh: Dr. Arief Alamsyah

Percakapan apa yang muncul dalam jiwa anda ketika melihat kalimat di atas?

Jujur, ketika pertama kali membaca pertanyaan itu dalam sebuah kisah di buku Living Seven Habits, hati saya terkejut, imajinasi saya menerawang dan secara tidak sadar hati saya mengangguk dan mengiyakan.  Betapa banyak orang yang mengaku sukses tapi ia tidak kunjung bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan menjelma menjadi barang langka yang sulit dicari di jaman ini.

Sukses Bukan Berarti Bahagia

Jika kita mau dengan jujur menelaah kejadian-kejadian di sekitar kita, begitu banyak data dan fakta kehidupan yang bercerita kepada kita bahwa uang, jabatan, ketampanan atau kecantikan “saja” telah gagal membuat manusia bahagia. Bahkan tidak sedikit orang yang dengan sengaja ingin segera mengakhiri hidupnya.

Bagi mereka, hidup tidak ubahnya sebagai masalah besar. Hidup adalah lari dari satu masalah kepada masalah lainnya. Dari satu krisis ke krisis lainnya. Bahkan mereka dan mungkin termasuk “kita” – merasa permasalahan hidup kita paling berat daripada manusia lainnya di dunia.

Beberapa dari kita bahkan sering bangun pagi hari dengan mengeluh dalam hati “Ya Allah…kok sudah pagi lagi ?”. Senyum mentari di pagi hari agaknya sama sekali tidak menolong kita untuk tersenyum menyambut hidup ini. Kesempatan hidup “lagi” justru membuat hati kita menjerit seakan kita akan memasuki sebuah lorong kehidupan yang gelap, menyeramkan, dan menggelisahkan. Kita memandang hidup sebagai beban yang tidak bisa dihindari.

Beberapa dari kita begitu terpenjara dengan permasalahan kehidupan yang justru membuat kita lupa untuk menjalani hidup itu sendiri. Kita lupa merenung dan mencari makna sejati dari hidup kita. Kita merasa bahwa hidup ini penuh berisi dengan permasalahan dan permasalahan. Kita benar-benar merasa tenggelam dalam lautan masalah dan celakanya kita merasa seakan tidak memiliki pilihan untuk keluar dari permasalahan kehidupan.

Mungkin sudah 40 tahun kita hidup dan selama itu pula kita membenci kehidupan. Kita membenci orang-orang dalam hidup kita. Kita membenci takdir hidup kita atau bahkan kita membenci Tuhan yang kita anggap tidak adil.

Dalam proses mendalami makna sukses dan bahagia ini, suatu saat saya terkesima dengan sebuah kata-kata bijak yang sungguh luar biasa bagi saya. Kata-kata itu sungguh me-reframing saya tentang filosofi sukses versus kebahagiaan. Kata-kata bijak itu berbunyi

Success is to get whatever you want and happiness is to love whatever you got

Sukses adalah mendapatkan apapun yang kamu mau dan kebahagiaan adalah mencintai apapun yang kamu miliki.  Kata-kata yang luar biasa bukan? Jika sukses adalah seni mendapatkan apapun yang anda inginkan maka dapatkan dalam hidup ini. Itulah kira-kira maksud buku ini ditulis – untuk sama-sama mendidik diri kita mencintai apapun yang telah kita dapatkan dalam hidup ini.

Sebesar apapun permasalahan yang kita hadapi, toh kita harus tetap hidup sampai waktu kehidupan kita berakhir. Kita toh harus tetap berjalan menyusuri waktu-waktu yang tersisa yang diberikan Allah untuk kita karena kita adalah umat yang tidak sama sekali mempercepat dan menyegerakan usia kita.

“Tidak ada satu umatpun yang dapat menyegerakan ajalnya dan tidak pula dapat menangguhkannya” (Q.S Al Mu’minun : 43)

Buat saya, hidup bukanlah permasalahan tetapi hidup adalah sebuah pengalaman. Hidup di dunia hanyalah soal cara pandang. Kita sering tidak bahagia karena kita sering melihat hidup kita dari sudut pandang yang terbatas. Mas Tony Raharjo dalam Larger Than Life mengutip sebuah kata-kata yang sangat indah, “Jangan hanya mengatakan Ya Tuhan…, aku punya Tuhan Yang Maha Besar”. Artinya janganlah melihat masalah yang berat sebagai akhir dari segalanya tetapi ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang akan selalu menolong kita.

Baca Artikel Motivasi Lainnya

Artikel Motivasi YASA Peduli

Ikuti Kegiatan Terbaru Kami

@yasapeduli

Leave a Comment