Hidup Dalam Dua Realitas | The Way To Happiness

Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa ia hidup di dua dunia. Dunia yang sering dilupakan manusia justru adalah dunia yang melekat dalam tubuhnya. 

Dunia itu adalah pikiran. Untuk mencapai kedamaian pikiran kita harus memahami cara bagaimana memanajemen realitas internal kita. Memang tidak mudah untuk selalu membuat skenario positif dari setiap takdir kehidupan. Kalaupun kita bisa, orang lainlah yang membuat skenario negatif pada kita. 

Tapi apakah kita rela jika perasaan kita terus menerus diatur oleh orang lain? Bukankah kehidupan kita, secemberut apapun wajah kehidupan itu. Bahkan skenario di otak kita mengatakan hanya obat itu saja yang membuat kita bisa sembuh kembali bukan?

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk me-manajemen realitas internail kita. Terdapat 3 hal yang mungkin dapat anda lakukan. Pertama, jadilah guru bagi pikiran, kedua, berpikirlah disini dan sekarang (here and now) dan ketiga, reframing.

  1. Jadilah Guru Bagi Pikiran

Setiap saat kita dapat mendengar suara-suara di pikiran kita. Suara itu kadang memberi komentar, menilai, membandingkan, menegeluh, menyatakan rasa suka, membenci dan sebagainya.

Menurut Echart Tolle dalam The Power of Now , suara-suara itu berasal dari kondisi pikiran, yang merupakan hasil pengalaman-pengalaman kita, terutama di masa lalu. 

Berita baiknya adalah ternyata kita dapat membebaskan diri dari belenggu suara itu. Caranya adalah menjaga jarak dengan suara itu dan mulailah menjadi pengamat dari suara itu. Ini artinya anda menjadi pengamat atas lintasan pikiran anda sendiri.

Setelah mengamati, cobalah ajari mereka kebijkasanaan. Berlatihnya dengan mulai mendengarkan suara itu sesering mungkin. Perhatikan dengan cermat tatanan pikiran yang muncul berulang-ulang dalam kepala anda. 

Dengarkan suara itu tanpa memihak. Jangan buat penilaian dulu. Ingat, ini baru latihan awal. Dengan latihan ini, anda akan sadar bahwa ada suara di pikiran saya dan saya ada disini untuk mendengarkannya dan mengawasinya.

Dengan melakukan latihan ini berulang-ulang, akhirnya anda dapat berlanjut pada ste berikutnya yaitu dapat menilai suara-suara itu. Anda akan dapat mengatakan pada suara itu “Hei…engakau kekanak-kanakan” atau “Jangan begitu, itu tidak sesuai dengan prinsip agamamu” dan seterusnya.

Dalam islam, pengawasan terhadap suara-suara pikiran dan gerak gerik jiwa ini adalah bagian dari intropeksi diri (muhasabatun nafsi). Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah pengawas yang handal atas suara-suara pikirannya. Mereka sering tampak bercakap dan mengajari diri mereka sendiri tentang sebuah kebenaran. 

Umar bin Khatab misalnya sering berkata kepada anggota tubuhnya tentang apa yang telah ia perbuat hari ini, misalnya dengan mengatakan “Hei…kaki kemana kau telah melangkah? Hai diri ikhlaslah.”

  1. Berpikirlah disini dan sekarang

Cara seseorang berfikir jika dihubungkan dengan waktu dan emosi yang menyertainya dapat dikategorikan menjadi lima :

2.1 Manusia Tipe PAST NEGATIVE

Manusia tipe pertama ini adalah manusia yang sering dibayang-bayangi dengan kejadian buruk atau traumatis di masa lalu. Lintasan pikirannya didominasi oleh pikiran masa lalu yang negatif. 

Ia menjadi sulit merasakan kebahagiaan. Pikiran negative masa lalu seakan menumpuki seluruh kejadian positif yang ia pernah atau sedang alami.

Memang tidak mudah menghilangkan sebuah pikiran past negative. Jika anda benar-benar memiliki kemauan untuk bahagia, sebenarnya anda bisa memaknai kembali pengalaman itu sendiri (by yourself) menjadi sesuatu yang lebih memberdayakan.

Jika nasi sudah menjadi bubur, jangan lagi berpikir menjadikan-nya kembali jadi nasi tetapi berpikirlah untuk mencari ayam, merica, kecap, kacang polong, kerupuk, emping, cakue maka bubur itu akan menjadi bubur istimewa.

Jika anda merasa dengan sadar bahwa anda adalah manusia tipe ini, cobalah untuk merubah orientasi anda menjadi sekarang dan disini (here and now).  

Cobalah alihkan pikiran masa lalu itu menjadi past positive. Carilah sekecil apapun pengalaman positif di masa lalu anda yang membuat anda tersenyum.  Jangan biarkan pikiran past negative mendominasi anda.

2.2 Manusia Tipe PAST POSITIVE

Manusia tipe ini biasanya tidak terlalu bermasalah dengan masa lalunya. Pikirannya didominasi oleh pikiran-pikiran positif yang terjadi di masa lalu. Manusia tipe ini biasanya tidak terlalu bermasalah dengan kebahagiaannya. 

Pengalaman past positive dapat kita akses jika memang berdampak pada performance dan kebahagiaan kita di masa kini, tetapi tidak justru membuat kita hanya bernostalgia dengan masa lalu tanpa mau berbuat lebih untuk masa sekarang.

2.3  Manusia Tipe FUTURE POSITIVE

Manusia tipe ini adalah manusia yang lebih mudah meraih kebahagiaan karena manusia tipe ini senantiasa menyalakan lilin harapan dalam hidupnya. Pikirannya didominasi oleh hal-hal yang optimistik di masa depan. Tetapi para ahli kebahagiaan memberikan sebuah rambu-rambu agar pikiran futur positif ini dapat memberdayakan. 

Rambu-rambu itu adalah readiness (kesiapan) and acceptance (ridho), artinya pikiran future positif itu harus dibarengi kesiapan untuk menerima apapun yang terjadi.

2.4  Manusia Tipe HERE And NOW

Sebagian besar riset kebahagiaan menunjukan bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang lebih berorientasi pada pikiran disini dan sekarang. 

Ia merasakan bahwa keberadaan-nya disini dan sekarang adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Ia merasakan bahwa “saat ini” (the now) lah yang sebenarnya milik kita. Hari kemarin telah berlalu dan hari esok belum tentu kita alami.

Manusia yang memiliki present oriented (PO) terbukti lebih tenang menghadapi hidup. Kalaupun ia memikirkan masa lalu, ia hanya memikirkan selintas saja seperti sebuah bumbu tambahan dalam kehidupan. 

Jika ia melihat masa depan, ia melihatnya sebagai sebuah produk dari masa kini. Karenanya ia meyakini, dengan memberikan yang terbaik di masa kini maka masa depan yang terbaikpun kan terwujud. The future begins now so do the best right now adalah semboyannya. Ia tidak mau terjebak dalam angan-angan kosong tanpa gerak.

THE FUTURE BEGINS NOW, DO THE BEST RIGHT NOW

  1. Reframing

Prinsip dasar reframing adalah mengubah keberatan (masalah) menjadi keuntungan. Dengan syarat keberatan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa diubah lagi. Misalnya, cacat tubuh, kejadian di masa lalu, anggota keluarga, dll yang memang di luar lingkaran pengaruh kita. Didasarkan pada asumsi bahwa di balik setiap perilaku /kejadian terkandung maksud positif (hikmah),

“Reframing mengajak kita melompat ke dalam kerangka berpikir ‘solusi’ atau ‘tujuan/outcome.'”

Lalu bagaimana kita bisa melakukanya?

2 jenis reframing paling dasar dan cukup ampuh untuk menjadikan kita senantiasa berada dalam kondisi positif :


a. Context Reframing

Misalnya pikiran yang menyatakan “Tubuh saya terlalu tinggi!”. Kita dapat memunculkann makna baru yang lebih positif.. 


Dalam keberatan (masalah) di atas, maka kita bisa bertanya, “Dalam konteks apakah tubuh yang tinggi tersebut menjadi keuntungan?” dan beragam jawaban pun bisa kita munculkan mulai dari menjadi olahragawan, tidak memerlukan tangga untuk mencapai tempat yang tinggi, tidak terhalang ketika nonton konser, sampai pada mendapatkan udara yang lebih segar karena udara yang berada di atas lah yang masih murni dan menyegarkan.


Bagaimana dengan, “Tubuh saya terlalu pendek!”?


Dengan pertanyaan yang sama kita bisa menemukan banyak konteks seperti lebih lincah dalam bergerak, lebih hemat dalam membuat pakaian (apalagi jika si orang ini memiliki orientasi finansial yang tinggi), dll.


B. Content/Meaning Reframing

“Anak buah saya sulit untuk diajak kerja cepat! Tidak sabar saya dibuatnya.”


Menggunakan content reframing, kita bisa bertanya, “Apa makna lain yang positif dari anak buah yang sulit diajak untuk bekerja cepat?” 


Seketika, kita pun dapat menemukan pertanyaan baru seperti, “Bukankah itu berarti mereka mengerjakan pekerjaan dengan hati-hati?” Dan BUM! Makna baru pun kita dapatkan. 


Dengan frame ini, sang atasan dapat lebih fokus untuk mendayagunakan anak buahnya agar dapat menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang lebih tinggi alih-alih pusing dengan kelambatan mereka.

Sama kah reframing dengan postitive thinking ?

Ya dan tidak. Bahwa kita mencari makna yang lebih positif itu benar. Namun reframing tidak sekedar mencari makna yang positif, ia adalah usaha untuk mencari makna positif yang empowering bagi kita.


Buku The Way to Happiness oleh dr Arief Alamsyah

Leave a Comment