Memaafkan | The Way To Happiness

Jalan menuju kebahagiaan (The Way to Happiness) dimulai dari pintu ke ruang jiwa kita. Keberhasilan membuka pintu ini adalah awal dari segala kebahagiaan kita. Kunci pintu itu ada di dalam diri anda.   Carilah dalam diri anda karena pintu hati kuncinya ada di dalam diri anda, bukan di luarnya.

 

Kunci Pertama:
Memaafkan (Forgiveness)

 

Pernahkah jiwa anda mera terluka ? Atau bahkan mungkin anda sedang terluka saat ini?  anda tidak sendiri.

 

Berjuta-juta orang pernah dan akan terus terluka, karena memang itulah wajah kehidupan. Sama sekali tidak ada yang salah dengan luka anda karena itu hanya membuktikan anda benar-benar sedang menjalani sebuah kehidupan. Ada sebuah cerita yang sangat inspiratif tentang “luka” ini.

 

Seorang anak lelaki dengan watak yang buruk. Ayahnya kemudian memberi anak kecil itu sekantung penuh paku. Ia menyuruh anaknya memaku satu batang paku setiap anaknya kehilangan kendali atas kesabarannya atau saat si anak menyakiti orang lain.

 

hari pertama, anak ini memaku 37 batang paku di pagar pekarangan rumahnya. Pada minggu-minggu berikutnya, jumlah paku yang dipakainya dari hari ke hari semakin berkurang. 


Akhirnya suatu hari anak ini tidak lagi memaku satu batang pakupun dalam satu hari. Ia merasa lebih mudah menahan diri daripada harus menancapkan paku di pagar pekarangan rumahnya.

 

Sang ayah berakata “Kalau begitu mulai besok, setiap kamu bisa menahan diri, memaafkan dan membahagiakan orang lain kamu bisa mencabut paku-paku yang telah kamu tancapkan”. 

 

Hari demi hari si anak terus berupaya melakukan kebaikan agar ia bisa mencabut paku-paku yang telah ia tancapkan selama ini. Sampai suatu hari, semua paku telah tercabut dan ia berkata lagi kepada ayahnya,

 

“Ayah, semua paku sudah tercabut ayah, aku sudah bisa menahan diri ayah”. Sang ayah tersenyum, ia kemudian mengajak sang anak ke pagar pekarangan rumahnya.

 

Sang ayah kemudian berkata, 

“Nak, lihatlah, apakah semua paku sudah tercabut”.

 

Sang anak menimpali, 

“Sudah ayah, ayah bisa lihat sendiri”.

 

Kemudian sang ayah berkata lagi,

“Sekarang kamu lihat pagar ini, apakah bekas-bekas paku yang kau tancapkan masih berbekas, bisakah kamu menghilangkan bekasnya?”

 

Si anak menggeleng, “Tidak bisa ayah”.

 

“Itulah akibat ketika engkau tidak bisa menahan diri dan melukai orang lain. Ketika kau melukai hati seseorang ibarat kau sedang menorehkan sebuah luka yang pasti berbekas. Maka hati-hatilah, jangan kau lukai orang lain. Apalagi yang kau lukai adalah hati orang-orang yang berjasa kepadamu mungkin ibumu, ayahmu, sahabat-sahabatmu atau mungkin guru-gurumu”.

 

Luka jasad dapat sembuh tanpa berbekas dengan proses penyembuhan luka yang baik tetapi luka jiwa tetaplah luka jiwa. Ia tidak akan pernah bisa terhapus. Ia akan terus berbekas walaupun penyebab luka itu telah hilang.

 

Pilihan bagi luka jiwa hanyalah mencoba memaafkan. Memaafkan orang lain membutuhkansebuah kekuatan yang luar biasa, karena mungkin sebenarnya anda bisa membalastindakannya.

 

Kebencian hanyalah pencuri yang dapat mencuri saat-saat bahagia kita.Kebencian hanyalahkegelapan yang dapat meredupkan cahaya kebahagiaan dalam hati kita. 


Kebencian hanyalah mesin penyakit yang mengundang kesengsaraan bagi jiwa dan jasad kita. Kebencian adalah kesesakan di alam jiwa kita yang dapat melahirkan tindakan-tindakan kekanak-kanakan, merusak (anarkis) dan menghancurkan.

 

Memaafkan orang lain adalah kunci dan mungkin satu-satunya langkah yang akan dapat membuat anda bahagia saat ini. Dendam yang saat ini berdiri kokoh dalam hati andalah yang mungkin menghalangi anda dari kebahagiaan. Dendam yang selalu anda cari pembenaranya .

 

Ibarat sebuah pupuk, pembenaran-pembenaran yang kita buat itulah sebenarnya yang membuat dendam terus tumbuh berakar dalam hati kita. Dan pembenaran-pembenaran itu sendiri sebenarnya adalah tanda bahwa jiwa kita jauh dari kedamaian.

 

Pembenaran itu tidak akan pernah mau kalah apalagi mengalah.  pembenaran sebenarnya adalah manifestasi ego anda. Ego yang telah lama merasa terpojok, terhina, terluka dan terpinggirkan.

 

Sekarang ia menunjukan kekuatannya. Ia ingin berontak. Hanya sayangnya, ego tidak hanya memberontak tapi ia juga ingin membalas. 

 

Membalas adalah tujuan akhirnya dan ia jadikan “membalas” sebagai syarat satu-satunya baginya (baca:ego) untuk bertahan. Ego akan merasa bahwa anda adalah kawanya jika anda bersedia membalas semua rasa sakitnya.

 

Kebahagiaan dapat anda mulai dengan mulai memaafkan orang yang melukai kita. Hiduplah dengan wisdom (kebijaksanaan), jangan hanya dengan ego. Jangan buru-buru mengatakan sulit, tidak mungkin dan mustahil, karena orang lain ternyata bisa melakukannya. Kenapa anda tidak ?

 

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an :

 والذين يؤذون المؤمنين
والمؤمنات بعير ماكتسبوا فقداحتملوا بهتانا وإثمامبينا ( الأحزاب 58 )


“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(Al-Ahzab: 58 ).

 

Marilah kita selalu berusaha untuk berkata baik dan benar dalam setiap ruang dan waktu hidup kita agar kita betul-betul menjadi hamba Allah yang memberikan manfaat dan kesejukan pada orang lain dan Allah senantiasa menurunkan rahmatnya kepada kita.

 

Buku The Way to Happiness oleh dr
Arief Alamsyah

dan mahadbinauf.com

Leave a Comment