Memohon, Bertaubat, dan Bersyukurlah | The Way To Happiness

Tiga Cara Allah Menjawab Permohonan Hambanya
  1. Allah menjawab “YA” dengan memberikan apa yang anda harapkan.
  2. Allah menjawab”TIDAK”,  dan Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik bagi anda.
  3. Allah menjawab”TUNGGU”, dan Allah akan memberikan keinginan anda tepat pada waktunya.

Artinya, jawaban apapun yang diberikan Allah adalah sesuatu yang terbaik bagi kita. Terkadang Allah tidak langsung memberikan apa yang kita harapkan tetapi Allah memberikan sesuatu yang justru bertolak belakang. Tujuannya adalah agar kita mau belajar dan berusaha. Allah ingin agar kita tidak tinggal diam. Dan dari hasil usaha itu Allah memberikan balasan yang berlipat ganda.

“Hal yang tidak kalah penting untuk menjadi bahagia adalah menerima diri kita sendiri. “

Prof Kazuo Murakami, Phd, ahli genetika terkemuka, mengatakan dalam bukunya The Divine Message of the DNA bahwa kita (manusia) yang lahir di dunia ini sebenarnya memiliki 70 triliun kemungkinan.

 

Mengapa bentuk hidung dan kepala kita begini, itu karena Allah telah memilihnya dari 70 triliun bentuk hidung yang mungkin terjadi. Artinya Allah telah memilihkan yang terbaik untuk kita dari 70 trliliun kemungkinan bentuk diri kita.

 

Jika ingin bahagia, berdamailah dengan diri kita. Yakinilah bahwa Allah  pasti Maha Adil. Dibalik setiap kekurangan diri, Allah pasti memberikan kelebihan di bagian diri yang lain. Orang tanpa hidung yang indah mungkin memiliki mata yang indah. Seorang buta yang tidak dapat melihat mungkin orang yang paling tajam intuisinya. Seorang yang lahir tanpa tangan dan kaki mungkin memiliki hati yang penuh cinta.

“Bercerminlah, bayangan itulah diri kita sekarang. Nikmatilah. Jangan hanya menyesali, apalagi memecah cermin itu, karena dia jujur.”

KUNCI KETIGA MENUJU KEBAHAGIAAN: Taubat (Repentance)

Terkadang rasa tidak bahagia tidak hanya hadir dari pengalaman-pengalaman emosional kita tetapi ketidakbahagiaan kita hadir karena hati kita terlalu gelap untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT.

Sadarilah bahwa hati yang hitam mustahil akan berbahagia. Dan warna hitam itu adalah kumpulan titik-titik hitam yang teramat banyak. Titik-titik hitam yang berasal kemaksiatan yang telah kita lakukan selama ini. Sadar atau tidak, kita telah terlalu banyak merangkai titik-titik hitam dalam hati kita hingga hati itu tertutup dari cahaya kebahagiaan yang hakiki yaitu kebahagiaan ilahiah.

Ibnul Qoyyim mengatakan, “kemaksiatan adalah luka”.

Luka yang dapat membuat hati kita merasa tersayat sakit.  Kemaksiatan juga akan menghalangi pelakunya dari kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah berfirman :

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka baginya penghidupan yang sempit dan dia akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan buta” (Q.S. Thaha, 24-25)

Ibnu abbas r.a mengatakan,

 “Sesungguhnya kemaksiatan membawa pengaruh kegelapan pada wajah, kegelapan pada kalbu, kesempitan dalam rizki dan kebencian di hati makhluk.”

Karenanya, janganlah kita meremehkan dosa-dosa kecil apapun dosa itu. Imam Al Auza’I mengatakan,

“Dikatakan sebagai dosa besar apabila seseorang melakukan dosa kecil tapi dianggap remeh.”

Menganggap remeh suatu dosa hanya akan menjauhkan kita dari taubat kepada Allah. Orang yang menganggap remeh suatu dosa memiliki tekad yang sangat lemah untuk meninggalkan maksiat. Bagaikan sebuah benteng yang hampir roboh karena hawa nafsu.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Tapi, penyesalan dapat menjadi pintu kebahagiaan jika penyesalan itu terjadi sebelum ruh kita berada di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Karena itu berarti penyesalan kita masih mungkin diterima.

Penyesalan juga dapat menjadi positif jika anda benar-benar bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan anda lagi, anda mau menjadi lebih baik dan anda memohon maaf pada orang yang meungkin telah anda sakiti.

Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah:222)

Taubat dalam islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu membentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.

Seperti terungkap dalam hadist riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy’ari,

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang 

Bergegaslah mendatangi-Nya. Sambutlah seruan-Nya. Yakinlah bahwa kebahagiaan sejati menunggu anda.

“Wahai orang-orang yang beriman, kembalilah kepada Allah (bertaubatlah) kalian semua (hamba-hambaKu) yang (mengaku) beriman, agar kalian semua bahagia.” (Q.SAn-Nuur:31)


“Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang banyak bertaubat dan mencintai mereka yang suka menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah:222)


C. BERSYUKURLAH

Syukur adalah kata yang sering kita dengar tetapi jarang kita lakukan dengan sungguh-sungguh. 


Sedemikian seringnya dikhotbahkan, didengar dan diabaikan sampai-sampai kata ini seperti kehilangan kekuatan-nya. Padahal, dalam satu kata ini kita dapat mendulang begitu banyak makna kebahagiaan.


Bersyukur lebih dari sekedar berterimakasih. Bersyukur adalah harmoni antara terima “kasih” dan menebarkan “kasih”. Dibalik setiap karunia yang Allah berikan kepada kita, Allah menitipkan amanah bersamanya.


Dalam konteks kebahagiaan, syukur adalah obat sekaligus motivator yang secara terus menerus mengalirkan (infusing) kekuatan pada kita. 


Dengan bersyukur, kita akan menjadi orang paling bahagia di dunia, karena kita melihat bahwa kita tidak berada di langit terendah. Kita masih lebih beruntung dibanding sedemikian banyak orang yang menderita di dunia ini.


Orang yang bahagia adalah orang yang terfokus pada apa yang dia miliki dibanding apa yang tidak ia miliki. Pernyataan ini sama sekali tidak bermaksud membungkam setiap keinginan. 


Orang bahagia tetap punya keinginan, tetapi orang bahagia tidak mau diperbudak oleh keinginannya. Orang bahagia meyakini semua akan datang dengan izin Allah dan salah satu syarat Allah mendatangkan keinginan itu adalah jika ia bersyukur.

“Bukankah Allah akan menambah nikmat kepada kita jika kita bersyukur ?”

Allah berfirman :

“Jika engkau bersyukur sungguh akan Aku tambah nikmat-Ku padamu” (QS. Ibrahim:7)


Cobalah ambil sebuah kertas kosong dan tulislah semua karunia Allah pada kita. Tulislah….Alhamdulillah kita punya mata, Alhamdulillah kita punya telinga, Alhamdulillah kita punya orangtua dan seterusnya. Saya yakin, bahkan hingga kertas dan pena keseribupun kita tidak akan pernah selesai menulisnya. Kalaupun kita berhenti, itu karena kita bingung masih begitu banyak nikmat yang belum kita syukuri.


Yakinlah, kaki tempat anda berpijak sekarang adalah kaki yang didambakan ribuan saudara kita yang tidak memiliki kaki di seluruh dunia. Yakinlah, tangan yang anda gunakan adalah tangan yang didambakan oleh ribuan saudara kita yang tidak punya tangan di seluruh dunia. 


Anehnya, kenapa mereka dapat tersenyum bahagia tetapi anda tidak? Bahkan anda terus merasa kurang dengan karunia ini?

STOP COMPARING!

Berhentilah dari kebiasaan membandingkan. Kita mungkin membuang banyak waktu dan energi dengan berharap menjadi seperti orang lain dan berada di situasi lain. Keadaan ini hanya akan menghalangi sikap syukur kita.


Bertafakurlah. Pada saat yang sama, detik yang sama, berjuta-juta orang di dunia ini justru mendambakan untuk menjadi anda.


Buku The Way to Happiness oleh dr Arief Alamsyah

Leave a Comment