Optimis, Kreatif, Inovatif, Menciptakan Prestasi yang Hakiki

Kita adalah orang biasa yang memiliki banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan, kegagalan, kemalasan, dan sebagainya. Ubalah cara pandang kita. Jangan menyalahkan keadaan, tapi buatlah keadaan. Tidak perlu mempermasalahkan kelemahan, tetapi ubahlah keterbatasan menjadi anak-anak prestasi tinggi, amal-amal terpuji dalam jiwa pahlawan sejati. Hiduplah dengna kreatifitas. Cerdaskan jiwa agar bahagia.

Bila orang pesimis berkata, “Masalah ini mungkin diselesaikan, tapi sulit.”, maka optimislah dan katakan

“MASALAH INI SULIT, TAPI MUNGKIN.”

Kuncinya adalah kreatifitas, berfikir diluar ruang. Nabi Ya’qub ‘alaihis salam telah mengajarkan pelajaran kreatiditas yang mendobrak baras. Beluai berpesan kepada anak-anaknya,

“Janganlahkalian masuk ke negeri Mesir mellaui satu pintu saja, tapi melalui berbagai pintu. Allah pun mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

Dan Ya’qub berkata:

“Hai anak-anakku, janganlah kalian bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, kdan asuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain …” (Yusuf : 67)

Inti kreatifitas dan inovasi adalah yakin dan berusaha menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja. Mampu melakukan perubahan ke arah kemjuan. Meraih prestasi dan terus menjaga serta meningkatkannya.

Prestasi Hakiki

Popularitas seseorang belum tentu berbanding lurus dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Banyak cara mencari sensaasi dengan cara-cara tidak terpuji. Banyak yang bunuh diri karena terpenjara oleh puja-puji, Banyak yang terhina karena hobi obral kata dan janji-janji. Banyak orang mati mengenaskan terpenjara oleh popularitas.

Kisah yang menggemparkan sejagat raya atas kematian Lady Diana bersama Doddy El Fayed. Dunia seolah tersihir dan mendung. Atau kidah tragis tewasnya Nike Ardilla dalam kecelakaan yang disinyalir akibat over dosis narkoba. Namanya dipuja, lagunya melegenda. Tetapi sayangnya banyak yang lupa pada ulama karismatik dari Djokdja, KH. AR. Fachruddin Ketua Umum PP Muhammadiyah. Beliau wafat pada hari-hari itu juga.

Prestasi hakiki bukanlah harta yang melimpah, bukan kekdudukan yang tinggi, jabatan yang menterang, kekuasaan yang besar, atau atribut duniawi lainnya. Semua itu adalah cobana dan ujian: maukah bersyukur?

Bisa jadi prestasi itu tidak dikenal orang, tak ada sanjungan, pujian dan karangan bunga. Seperti seorang perempuan yang rajin membersihkan masjid. Saat meninggalnya tidak dikabarkan kepada Nabi. Ia tak dianggap karena ia perempuan biasa tanpa prestasi apa-apa. Tetapi di mata Nabi, wanita itu dihargai. Beliau minta ditunjukkan kuburnya, lalu menyolati dan mendoakannya. Prestasinya sederhana tetapi luar biasa, rajin, dan istiqamah.

Diambil dari buku

Zero to Hero oleh Solikhin Abu Izzudin

Leave a Comment