The Science of Forgiveness | The Way To Happiness

Ada beberapa project di dunia yang meneliti tentang efek positif dari sebuah pemaafan. Diantaranya yang terkemuka adalah Stanford Forgiveness Project yang diketuai Dr. Fres Lushkin , P.hd. Diantara hasil penelitian adalah :

A. Hubungan Memaafkan dan Tekanan Darah Tinggi

Telah dilakukan penelitian dengan 25 pertisipan secara random dan dilakukan intervensi berupa pelatihan memaafkan selama 8 minggu. Hasilnya sebagian besar partisipan mengalami penurunan anger expression dan tekanan darah (blood pressure).

B. Hubungan Memaafkan dan Stress

Penelitian kohort yang melibatkan 259 partisipan yang  diberikan pelatihan memaafkan selama 6 minggu. Hasil penelitian menunjukan bahwa forgiveness training dapat efektif menurunkan kemarahan sebagai coping style terhadap stress, menurunkan perasaan stress (perceived stress), gejala-gejala fisik (physical health symtoms) dari stress.

C. Hubungan Memaafkan dan Perilaku Marah

Mahasiswa Stanford University berjumlah 55 orang dipilih sebagai partisipan untuk melihat hubungan antara forgiveness training dengan perilaku marah mereka. Semua partisipan telah dipastikan memiliki rasa sakit yang masih belum terselesaikan dengan seseorang. Kriteria eksklusif ditentukan bagi rasa sakit yang disebabkan oleh kriminalitas, siksaan fisik dan seksual.

Partisipan dibagi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan treatment. Kelompok treatment mendapatkan pelatihan pelatihan memaafkan selama 6 minggu dengan durasi 1 jam per minggu.

Dibanding control group yang tidak mendapatkan training, terjadi perbedaan signifikan pada treatment groups dalam trait anger (sifat pemarah). 15 % treatment group juga mengalami penurunan Angry Reaction pada Post Test. Dan 20% treatment groups mengalami penurunan state anger atau short term anger (kemarahan yang baru terjadi).

Penelitian-penelitian di atas telah di riilis di jurnal internasional diantaranya Journal of Clinical Psycology dan Humbold Journal of Social Relation.

KUNCI KEDUA MENUJU KEBAHAGIAAN: Menerima / Ridho (Acceptance)

Apa yang harus diterima untuk menjadi bahagia? Untuk bahagia setidaknya kita harus menerima dua hal.

  1. Menerima kenyataan hidup. Segetir apapun dan sesakit apapun kenyataan itu.
  2. menerima diri kita apa adanya lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan semuanya harus diterima tanpa syarat.

Kenyataan hidup yang harus kita terima bisa terjadi di masa lalu kita atau di masa hidup kita sekarang. Kenapa kenyataan pahit masa lalu harus diterima? 

Karena memang masa lalu tidak bisa dihapuskan. Pikiran kita tidak dapat menghapus sesuatu yang sudah terlanjur menghampirinya. Kalaupun “pikiran sadar” anda dapat melupakannya, pikiran bawah sadar akan tetap menyimpannya.

Masa lalu yang penuh luka tetaplah akan dipenuhi luka. Kita tidak akan pernah dapat menghapuskan luka itu. Karena itulah, cara terbaik adalah dengan menerimanya. Dengan menerimanya, kita tidak akan membuat luka itu kembali meradang.

Jasad kita berada di tahun 2021 tetapi jiwa kita serasa hidup 20 tahun sebelumnya. Umur jasad kita telah mencapai kepala empat tetapi jiwa kita serasa berada di masa sekolah dasar atau bahkan taman kanak-kanak saat dimana pengalaman pahit itu terjadi.

Luka masa lalu memang berbeda-beda derajat keparahanya. Ia dapat berupa luka yang begitu dalam, tetapi juga dapat berupa luka kecil yang mungkin sepele. Persoalan luka masa lalu

Bukanlah persoalan parah atau tidaknya luka itu, tetapi lebih kepada “lama atau tidaknya” luka itu bersarang di alam pikiran kita.

“Semakin lama luka itu berada di alam pikiran kita, ia akan semakin sering hadir dan mengundang kesedihan dalam hidup kita. “

Artinya, semakin dini usia kita saat sebuah trauma hadir, perjuangan menerima masa lalu akan semakin sulit. Dan akan semakin sulit lagi jika kita terus menunda untuk menerimanya.

Pengalaman masa lalu juga akan semakin sulit diterima jika orang-orang yang terlibat dalam pengalaman negatif masa lalu itu adalah orang-orang yang terdekat dengan kita. Orang-orang yang awalnya kita persepsi akan melindungi dan menyayangi kita, malahan menyakiti hati kita.

Jika kita ingin bahagia, pilihannya adalah menerima masa lalu dan memaafkan orang-orang yang terlibat sekarang juga. Luka di masa lalu sudah terjadi dan meninggalkan kita, tetapi kita sendirilah yang memberi kesempatan padanya untuk datang kembali dalam kehidupan kita di masa kini.

  • KISAH NABI YUSUF

Ingatkah anda dengan kisah Nabi Yusuf A.S ? Kisah ini disebut AlQur’an sebagai kisah yang terbaik.

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahuinya” (QS. Yusuf:3)

Nabi Yusuf mendapatkan berbagai ujian dalam hidupnya. Bagi Yusuf, masa kecil adalah masa paling suram dalam kehidupannya. Ia dibuang ke sebuah sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Beliau menghadapi persekongkolan jahat yang justru datang dari orang-orang yang dekat dengannya.

Tapi Allah SWT ternyata memiliki rencana lain. Yusuf ditemukan oleh kafilah saudagar dan dibawa ke Mesir. Pengalaman demi pengalaman pahit pun terus dialami oleh Yusuf selama di Mesir. Dia bekerja sebagai pelayan, dituduh berzina dan dijebloskan ke dalam penjara. Bagi banyak orang, mungkin pengalaman Nabi Yusuf sungguh menyakitkan.

Tetapi Yusuf tidak pernah mau menyerah. Sekian tahun terpisah dari ayah dan tempat kelahirannya, dihadapinya dengan penuh kebesaran hati. Beliau tiada henti-hentinya berdo’a kepada Allah walaupun di dalam penjara yang sempit. Dan ternyata do’a dari penjara yang sempit itu dijawab oleh Allah di singgasana kerajaan yang luas. Ia diangkat menjadi bendahara kerjaan mesir yang memiliki kedudukan yang sangat terhormat.

Kisah ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita bahwa masa lalu yang menyakitkan akan berakhir dalam kebahagiaan jika kita dapat menerimanya dan tidak pernah mau menyerah. 

Masa lalu adalah bagian dari sebuah pelajaran kehidupan yang Allah inginkan agar kita besar, bukan malah menjadikan kita kerdil.

Tidak peduli seberapa pahit masa lalu, ia telah kita telan dan pahitnya adalah obat agar kita kuat menghadapi hari esok. Kita bisa menengoknya sebentar, tetapi jangan lagi langkahkan kaki kita ke belakang karena masa depan begitu indah dan mempesona.

Selamat berbahagia bagi anda yang telah bersedia menerima masa lalu sekarang juga. Tersenyumlah.

Hal yang tidak kalah pentingya adalah menerima kenyataan kita hari ini. Mungkin saat ini anda sedang tergolek di rumah sakit karena penyakit anda. Atau anda kehilangan anggota tubuh anda karena amputasi. Atau saat ini anda tersakiti oleh sikap anak anda yang tidak menghormati anda. Mungkin anda bertanya, kenapa saya yang harus bernasib begini?

“Yakinlah bahwa semua yang kita terima hari ini adalah sebuah karunia, karena dengan-nya kita akan terus mengingat Allah SWT.”

Mari kita ingat, kapankah kita merasa dekat sekali dengan Allah?  kapan kita sering menyebut nama Allah? Bukankah saat itu adalah saat dimana kenyataan yang hadir dalam hidup kita ternyata berbeda dengan apa yang kita harapkan?

 

Buku The Way to Happiness oleh dr Arief Alamsyah

Leave a Comment