Anugerah Waktu dan Menghitung Produktivitas

Waktu adalah momentum untuk berprestasi. Demi masa, demikian Allah bersumpah. Bukan main-main tentunya, karena Allah menegaskan setalah bahwa sesungguhnya manusia pasti akan merugi kalau tidak memperhatikan waktu, kecuali 4 golongan :

1. Orang yang beriman

2. Orang yang beramal shalih

3. Orang yang menasihati dalam kebenaran

4. Orang yang menasihati dalam kesabaran


Sebagaimana firman Allah dalam Al Ashr ayat 1-3:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”


Menyikapi ayat ini, Imam Syafi’i rahimahullah berkata, 

“Seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya…” 

Apa maksudnya? Surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu. Yang tak mampu menggunakan waktu dialah orang yang dijamin bakal rugi, persis orang yang sudah mati. Karena hidupnya seperti mayat yang beku. Hidup tak sopan mati bikin bau. Ujuduhu ka-admihi, keberadaanya seperti tidak ada karena tak ada gunanya. Tak ada yang menganggap dan menghiraukan. Bahkan banyak yang menyesali dan merutuki, mengapa orang seperti ini masih hidup, malah panjang umur? Kalau dia mati banyak orang yang bersyukur.

 

Rasulullah saw bersabda,

“Perumpaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat-Nya seperti orang yang hidup dengan orang mati.”

(HR Bukhari dari Abu Musa Al Asy’ari)

Siapa yang ingin hidup sekedar menjadi pemain figuran, penonton urakan, atau artis murahan tanpa peran jelas karena prinsip dan visi misinya tak karuan. Berbagai momentum lewat, kesuksesan minggat, bahagia pun mencelat.


Rasulullah saw bersabda,

“Ada dua nikmat, dimana banyak orang yang tertipu dengan keduanya. Nikmat sehat dan waktu luang.”
(HR Bukhari dari Ibnu Abbas)

Waktu adalah kunci sukses kita. Kuncinya adalah memberdayakan waktu, memberdayakan diri, memberdayakan sarana, menemukan momentum, melahirkan ide segar, kerja dengan benar untuk menghasilkan karya yang besar.

Menurut Nabi, rata-rata umur umatnya sekitar 60 tahun. Waktu kita semua sama dalam sehari, 24 jam. Cara kita menggunakan waktu kitalah yang membuat berbeda.

Jika dihitung, masing-masing waktu kita sama: 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan, dan seterusnya. Namun Imam Al Ghazali berkata, jika orang umurnya 60 tahun -rata-rata- dan menjadikan 8 jam sehari untuk todur, maka dalam 60 tahun ia telah tidur selama 20 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dan itulah kebayakan manusia. Apakah termasuk kita?

Ada tiga hal yang tidak pernah kita dapatkan kembali:
1. Kata yang telah di ucapkan
2. Waktu yang telah berlalu
3. Momentum yang diabaikan

Waktu adalah momentum untuk berprestasi. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz menyikapi. Saat beliau diangkat menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Dia berkata,

“Aku akan duduk di sebuah tempat yang tidak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan!”

Hal ini sebagaimana kebesaran kakeknya, Umar bin Khatab ra. Tidaklah sebuah tempat dilalui Umar bin Khatab kecuali syaitan pasti menyingkir darinya. Inner power yang dimilikinya mampu menggetarkan musuh-musuh Allah. Keimanan, ketulusan, kemauan untuk belajar dan berubah secara revolusioner.

Semoga ada hati yang tegugah, ada jiwa yang tersadar, ada kebutuhan yang terbuka, ada kegelisahan yang terobati, ada kemubadziran yang dimanfaatkan kembali, dan aneka potensi yang dapat digali dan dioptimalkan.

Diambil dari buku
Zero to Hero oleh Solikhin Abu Izzudin

Leave a Comment