Anakku, Perbaiki Sholatmu, Niscaya Allah Perbaiki Hidupmu

Anakku, Perbaiki Sholatmu, Niscaya Allah Perbaiki Hidupmu

Anakku, betapa banyak orang yang sholat, tapi sedikit dari mereka mecapai kekhusyukan. Fikiran mereka menerawang entah kemana, hati mereka lalai, bahkan was-was dari syetan pun muncul tatkala mereka melaksanakan shalat.

Oleh karena itu, kekhusu’an dalam sholat adalah hal penting bagi kita yang ingin meningkatkan kualitas ibadah shalatnya. Dimana hal ini akan membawa kita kepada kebahagian dan kemenangan, sebagaimana yang telah disebutkan Allah Subhânahu wa Ta’ala di dalam al-Quran:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2).

Anakku, makna Khusyu’ menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin, ia mengatakan bahwa Khusyu’ adalah:

“Menghadapnya hati di hadapan Robb ‘Azza wa Jalla dengan sikap tunduk dan rendah diri.”

Sedangkan menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Khusyu’ adalah:

“Ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’, serta merasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

Definisi lain dari khusyu’ dalam shalat adalah:

“Hadirnya hati dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sambil mengkonsetrasikan hati agar dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan demikian akan membuat hati tenang, tenangnya gerakan-gerakannya, beradab di hadapan Robbnya, konsentrasi terhadap apa yang dia katakan dan yang dilakukan dalam shalat dari awal sampai akhir, jauh dari was-was syaithan dan pemikiran yang jelek, dan ia merupakan ruh shalat. Shalat yang tidak ada kekhusyukan adalah shalat yang tidak ada ruhnya.” (Tafsir Taisir Karimirrahman, oleh Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di).

Anakku, Abi dan Ummi ingin sedikit menjelaskan untuk mencapai hal-hal yang akan mendatangkan kekhusyukan dalam sholat.

anakku

Beberapa kiat yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk shalat

Adapun bentuk-bentuk persiapannya: menjawab azan yang dikumandangkan oleh muazin; kemudian diikuti dengan membaca do’a yang disyariatkan; bersiwak karena hal ini akan membersihkan mulut dan menyegarkannya; kemudian memakai pakaian yang baik, suci dan bersih, sebagaimana firman Allah Ta’âla:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah. Jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. al-A’raaf: 31).

Saat menuju ke masjid dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa; lalu setelah sampai di depan masjid, maka masuk dengan kaki kanan dan membaca do’a dan keluar darinya dengan kaki kiri juga membaca do’a; melaksanakan shalat sunnat Tahiyyatul Masjid ketika telah berada di dalam masjid; merapatkan dan meluruskan shaf, karena syetan berupaya untuk mencari celah untuk ditempatinya dalam barisan shaf shalat.

Tuma’ninah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu tuma’ninah dalam shalatnya, sehingga seluruh anggota badannya menempati posisi semula. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang buruk shalatnya supaya melakukan tuma’ninah sebagaimana sabda beliau,

“Tidak sempurna shalat salah seorang di antara kalian, kecuali dengannya (tuma’ninah).”

Bahkan di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan orang yang tidak tuima’ninah tersebut dengan orang yang mencuri dalam shalatnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seburuk-buruk pencurian yang dilakukan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.”

Qatadah berkata,

“Ya Rasulullah, bagaimana seseorang tersebut di katakan mencuri shalatnya?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad dan al-Hakim 1/229).

Orang yang tidak tuma’ninah dalam shalatnya, tentu tidak akan merasakan kekhusyukan, sebab menunaikan shalat dengan cepat akan menghilangkan kekhusyukan. Sedangkan shalat seperti mematuk burung, maka hal itu akan menghilangkan pahala.

Oleh karena itulah karena pentingnya tuma’ninah, maka wajib bagi seorang muslim untuk tuma’ninah dalam shalatnya sehingga shalatnya diterima oleh Allah Ta’âla.

Mengingat mati ketika shalat

Hal ini berdasarkan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apabila engkau shalat maka shalatlah seperti orang yang hendak berpisah (mati).” (HR. Ahmad V/412, Shahihul Jami’, no. 742).

Jelaslah bahwasanya hal ini akan mendorong setiap orang untuk bersungguh-sungguh dalam shalatnya, karena orang yang akan berpisah tentu akan merasa kehilangan dan tidak akan berjumpa kembali, sehingga akan muncul upaya dari dalam dirinya untuk bersungguh-sungguh, dan hal ini seolah-olah baginya merupakan kesempatan terakhir untuk shalat.

Membaca bacaan dengan tartil (pelan) dan menghayati makna bacaan dalam shalat

Karena pada dasarnya Al-Qur’an diturunkan agar direnungkan dan dihayati maknanya, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla,

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shaad: 29).

Anakku, sikap penghayatan tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna setiap yang kita baca. Dengan memahami maknanya, maka seseorang akan dapat menghayati dan berfikir tentangnya, sehingga mengucurlah air matanya karena pengaruh makna yang mendalam sampai ke lubuk hatinya.

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Robb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang yang tuli dan buta.” (QS. al-Furqan: 73).

Anakku, di dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan betapa pentingnya memperhatikan makna dari ayat yang dibaca.

Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah dalam Muqaddimah Tafsir at-Thobari karya Muhammad Syakir, ia berkata:

“Sesungguhnya saya sangat heran kepada orang yang membaca al-Qur’an, sementara dia tidak mengetahui maknanya. Bagaimana mungkin dia akan mendapatkan kelezatan ketika dia membacanya?”

Semoga Abi, Ummi, dan ananda bisa memahami dan menghayati setiap bacaan dalam sholat-sholat kita. Wallahul musta’an.

 

Baca juga :

Mengenal Allah dengan Al Qur’an

Hukum meratapi kematian dalam Islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment