Benar Dalam Berbicara

Benar dalam Berbicara

Berbicara yang benar adalah salah satu dari ciri orang beriman. Menjaganya berarti sudah memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh jaminan surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulutnya) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku
menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari).

Orang yang kaya, cantik atau tampan, populer, tinggi kedudukannya bahkan dianggap terhormat di dalam masyarakat, tapi jika tidak benar dalam berbicara, maka ia akan menjadi manusia yang sangat hina di hadapan Allah Ta’ala dan rendah kedudukannya di hadapan semua manusia. Oleh karena itu, kita memiliki keharusan untuk menjaga diri dari bahaya lidah.

Berbicara

Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk selalu berusaha benar dalam berbicara. Baik benar dalam masalah yang dibicarakan maupun benar penggunaan bahasanya. Itu pula sebabnya, mengapa salah satu tanda orang munafik adalah dusta atau bohong dalam pembicaraannya.

Al Qur’an sendiri menegaskan bahwa setiap pembicaraan ada pertanggung-jawabannya di hadapan Allah Ta’ala. Karenanya ucapan kita dicatat oleh malaikat yang selalu menyertai manusia di kanan dan kirinya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 18).

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata,

“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya
tidak mau jalan.”

Imam Syafi’i rahimahullah menasihatkan bahwa, jika seseorang ingin mengatakan sesuatu, maka hendaklah ia memikirkan terlebih dahulu apa yang hendak ia ucapkan, jika kira-kira baik dan memiliki efek yang positif maka ucapkanlah, namun jika hanya menimbulkank emudharatan atau menyinggung orang lain, maka lebih baik ia simpan rapat-rapat dalamh atinya sendiri.

Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah rahimahullah pernah berkata,

“Sungguh aneh! Seorang manusia bisa mengendalikan dirinya dari berbagai perkara yang diharamkan, akan tetapi amat berat baginya mengendalikan ucapan lisannya.

Anda melihat seorang yang dipandang alim agamanya, zuhud terhadap dunia, dan ahli beribadah, namun ia berbicara dengan kata-kata yang tanpa disadarinya mendatangkan kemurkaan Allah Subhaanahu Wata’ala dan menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.”

 

Baca juga :

Unsur dasar saling mencintai

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment