Buah Kurma dan Manfaatnya dalam Proses Melahirkan

Oleh: Raudhatul Jannah, S.Gz

وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”

Pada surah Maryam ayat 25, Allah memerintahkan ibunda Maryam untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma untuk mendapatkan buahnya. Saat itu ibunda Maryam sedang dalam keadaan mengandung dan hampir melahirkan. Lalu apa hubungan kondisi kehamilan atau melahirkan dengan mengkonsumsi buah kurma?

Buah Kurma Rutab Adalah

Rutab adalah kurma dengan tingkat kelembaban mencapai 30-35% sedangkan tamr adalah kurma dengan tingkat kelembaban mencapai 10-30%. Pada umumnya kurma yang dikonsumsi di Indonesia adalah kurma tamr yang memiliki kelembaban rendah sehingga memiliki masa simpan yang lebih panjang. Namun meskipun memiliki kelembaban yang lebih tinggi, tidak ditemukan racun pada ruthab akibat adanya asam laktat pada fase ini.

Penelitian Kurma pada Ibu Hamil

Kuran dkk dan Izzudin dkk meneliti pengaruh pemberian kurma pada ibu hamil trimester ketiga. Kurma merupakan salah satu bahan makanan yang dideskripsikan sebagai bagian pola makan yang seimbang. Konsumsi kurma juga membantu meningkatkan kesehatan selama proses kehamilan dengan mencegah anemia, menurunkan mual, mengatur tekanan darah dan kadar gula darah, membantu mengembalikan cadangan kalsium pada tubuh ibu, mengeluarkan racun serta meningkatkan daya tahan tubuh. Didalam buah kurma juga didapati persentase karbohidrat yang tinggi, lemak, 15 jenis garam dan mineral, protein serta vitamin.

Lemak jenuh dan lemak tidak jenuh seperti oleat dan linoleat dalam kurma mempunyai peran penting dalam produksi prostaglandin dan menyediakan energi ketika proses melahirkan. Kurma mempunyai kandungan yang membantu peregangan dan memperkuat otot uterus untuk proses melahirkan sehingga mampu mengurangi resiko perdarahan setelah melahirkan, meningkatkan potensi melahirkan spontan dan membantu mempercepat proses melahirkan.

Konsumsi kurma mempengaruhi kadar oxitosin dalam tubuh sehingga mampu membuat kontraksi pada uterus lebih efektif. Pada penelitian lain ditemukan jika konsumsi kurma mampu menurunkan resiko perdarahan dibandingkan pemberian injeksi oksitosin pada satu jam pertama setelah keluarnya plasenta. Selain itu, Dossari dkk meneliti pada salah satu rumah sakit di Arab Saudi terkait konsumsi buah kurma dan minum air putih dengan pemberian cairan infus, ditemukan bahwa konsumsi buah kurma beserta minum air selama proses melahirkan mampu membantu mempercepat proses melahirkan.

Efek Konsumsi pada Trisemster Akhir

Terdapat salah satu penelitian di Yordania yang membandingkan efek konsumsi buah kurma pada trimester akhir. Perbandingan dilakukan antara dua grup untuk melihat kebutuhan penggunaan prostin ataupun oksitosin. Kuran dkk melakukan pengamatan pada ibu hamil yang diberikan kurma sebanyak 7 butir sehari selama 4 pekan terakhir masa kehamilan. Kesimpulan yang didapatkan dari pengamatan tersebut yakni konsumsi buah menurunkan kebutuhan penggunaan induksi saat melahirkan. Kurma juga mampu meningkatkan toleransi rasa sakit pada ibu selama proses melahirkan.

Bagaimana konsumsi buah kurma untuk ibu hamil?

Kurma dapat dikonsumsi baik dalam keadaan hamil ataupun tidak, namun melihat manfaatnya yang besar dalam membantu proses melahirkan dan meningkatkan kesehatan ibu maupun janin, konsumsi buah kurma bisa menjadi rekomendasi. Konsumsi buah kurma sebelum kehamilan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi seperti asam lemak, mineral dan vitamin penting lainnya. Kurma juga membantu memenuhi kebutuhan serat bahkan dapat memenuhi hingga 12,5% kebutuhan serat.

Berdasarkan penelitian Kuran, konsumsi 7 butir buah kurma dapat dipertimbangkan. Jenis kurma rutab lebih banyak digunakan dalam penelitian namun jika tidak menemukan kurma rutab, konsumsi kurma yang tersedia di pasaran dapat menjadi pilihan. Konsumsi kurma ini disarankan pada ibu hamil dengan tanpa kompilkasi atau dengan keadaan normal. Ibu hamil dengan kondisi Diabetes Mellitus ataupun Diabetes saat kehamilan harus berkonsultasi dengan dokter dan juga ahli gizi.

Baca Artikel Kesehatan Lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment