Dermawan Belum Tentu Mendapat Berkah

Dermawan Belum Pasti Berkah

Untuk pertama kalinya Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia menurut Charitied Aid Foundation (CAF) dalam laporannya tentang CAF World Giving Index per Oktober 2018. Indonesia mengalahkan negara-negara besar, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, serta negara-negara Eropa maupun Asia lainnya.

Dalam index tersebut ada tiga poin penting penilaian, yaitu memberikan sumbangan kepada orang lain, mendonasikan uang, dan orang-orang yang menjadi sukarelawan dalam negara tersebut. Dari ketiga indikator tersebut, Indonesia memiliki proporsi tertinggi pada poin ketiga, yakni orang-orang yang menjadi sukarelawan. Bahkan negara kita memiliki tingkat tertinggi untuk perempuan yang menjadi sukarelawan.

Ketika kami mewakili LAZ YASA Malang untuk bertugas sebagai Sukarelawan Kemanusiaan di wilayah Palu, Sigi, dan Donggala Sulawesi Tengah, memang terbukti betapa layaknya Indonesia menjadi negara paling dermawan. Dari para anggota Forum Zakat (FOZ) saja, terhitung tiga pekan sejak bencana gempa dan tsunami itu terjadi, telah tersalurkan dana sebesar Rp. 52.388.325.617,- yang menjangkau 114.966 jiwa penerima manfaat.

Dan, total Sukarelawan yang telah turun untuk berkontribusi di wilayah tersebut adalah 1.245 personel. Sekali lagi, itu hanya dari member FOZ, belum unsur lainnya.

Kekuatan kedermawanan ini seharusnya bisa menjadi modal berharga untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik. Ketika rakyat sebuah negara telah mau dan mampu untuk menjadi mitra pemerintah dalam memikul beban, maka itu menjadi isyarat kuat bagi pemerintah untuk dapat merangkul potensi-potensi lainnya yang ada dalam rakyatnya demi kemajuan bersama.

Tetapi, jangan sampai kedermawanan ini melupakan kita dari tugas utama ketika hidup bernegara, bermasyarakat, yaitu membangun kehidupan yang penuh nilai-nilai keberkahan. Karena memang kedermawanan tidaklah menjadi tolok ukur bahwa bangsa tersebut telah memperoleh keberkahan dari Allah. 

Bumi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi pun bukan tanda bahwa kita beroleh keberkahan dari Rabb kita. Jumlah penduduk yang mayoritas Muslim juga bukan isyarat jika negara kita berkah. Kenapa? Karena Allah tidak pernah meletakkan keberkahan pada melimpahnya materi, pada banyaknya jumlah, pada indahnya alam, pada kuatnya fisik, atau pada hal-hal yang terlihat baik saja di mata manusia, bukan sama sekali.

Allah akan kasih keberkahan pada satu bangsa ketika kepatuhan pada syariatnya yang mendominasi kehidupan berbangsanya. Mari tenggok negeri kita tercinta. Adakah ketaatan dan ketundukan pada-Nya yang lebih mendominasi atau sebaliknya.

Mengapa tradisi yang kental dengan kesyirikan semakin meluas dilembagakan, dilegalkan, dengan dalih kelestarian budaya? Jika dulu hanya orang-orang saja yang melakukannya secara swadaya, mengapa kini harus didukung oleh pemerintah bahkan dianggarkan dalam APBD/APBN?

Jika pembangkangan terbesar ini sudah mendapat tempat dalam kehidupan berbangsa, belum lagi diikuti dengan pembangkangan-pembangkangan lainnya, tidak takutkan kita akan kemurkaan dan ‘tamparan’-Nya? Tidak layak fenomena alam atau anggapan kebetulan belaka yang menjadi alibi kita dalam setiap bencana.

Tak ada yang kebetulan dalam keputusan Allah ta’ala. Semua berjalan sesuai sebab akibat. Karenanya, jika kita tidak memperbaiki kehidupan berbangsa ini secara tepat, maka akan menjadi kurang bermakna nilai kedermawanan yang telah terwujud. 

Nilai keshalihan menjadi wajib mewujud di semua pihak. Pada rakyat, dan lebih-lebih pada para pemimpin. Tak boleh berbangga berlebih dengan prestasi itu, sebab tugas utama belumlah selesai. Wallahu a’lam bishshowab. 

 

Baca juga :

Membiasakan anak berpenampilan sederhana

Menabung dan investasi

Manusia yang terbaik

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment