Dzikir Adalah Ruh Amal

Dzikir Adalah Ruh Amal

Dzikir adalah ruh amal. Hal itu tampak di dalam Al Qur’an, sebagaimana amal-amal saleh itu senantiasa disertai dzikir. Adapun laa ilaha illa Allah itu adalah dzikir yang afdhal. Dzikir juga merupakan penyerta salat.

“…dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ath Thaha : 14).

Masing-masing ibadat seperti puasa, zakat, amar ma’ruf akan dilipatgandakan pahalanya bila disertai dengan dzikir serta kesadaran tentang kehadiran Allah. Karenanya, lalai berdzikir kepada Allah merupakan tanda-tanda terhalang dari pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al Hasyr : 19).

Maka, orang yang berul-betul merugi adalah orang yang kehidupan dunianya menggilas kepentingan akhiratnya, sehingga lupa mengingat Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun : 9).

Sedangkan orang yang beruntung adalah orang yang selalu mengingat Allah, bahkan hal itu merupakan keberuntungan terbesar,

“Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45).

Apa sebenarnya makna,

Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar”? lalu mengapa dzikir tersebut nilainya lebih besar?

Para ahli tafsir dalam hal ini mengemukakan banyak pendapat tentang dzikir :

  1. Bahwa dzikir kepada Allah itu lebih besar dari apapun, karena ia ketaatan paling utama. Sebab secara keseluruhan, maksud dari ketaatan itu sendiri adalah melaksanakan dzikir kepada Allah, dimana dzikir itu merupakan rahasia ketaatan.
  2. Bahwa bila kalian mengingat Allah, Ia tentu akan mengingat kalian. Bahkan daya ingat-Nya kepada kalian lebih besar daripada daya ingat kalian kepada-Nya. Oleh karena itu, bentuk kata dasar (masdar) tersebut disandarkan pada bentuk subyek (faa’il), dan yang pertama disandarkan kepada yang diingat (al-madzkur). 
  3. Maknanya adalah bahwa mengingat Allah itu lebih besar daripada kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan terhadap-Nya, bahkan bila dzikir tersebut telah sempurna, ia bisa menghapus semua bentuk kesalahan dan kemaksiatan.
  4. Di dalam shalat terdapat dua unsur penting sekaligus berat. Yaitu bahwa shalat di satu sisi bisa mencegah dari perkara keji dan mungkar, serta di sisi lain ia mencakup dzikir kepada Allah. Sementara dzikir yang terkandung di dalamnya ternyata lebih berat. 

Di antara pendapat-pendapat tersebut, tentu tidak ada yang kontradiktif. Sebab pendapat-pendapat itu hanya berada dalam ikhtilaf ragamnya saja, bukan bersifat kontradiktif. Dengan demikian, masalahnya adalah masalah perasaan berlomba bagi siapa saja yang ingin berlomba mendapatkan ridha dan mahabbatullah/cinta Allah, serta tetap ingin mencari bekal bagi dirinya untuk kehidupan di akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang-orang yang menyendiri (bersama Allah) itu telah (sampai) lebih dahulu.’ Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang menyendiri (bersama Allah) itu?’ Beliau bersabda, ‘Yaitu laki-laki dan wanita yang senantiasa berdzikir kepada Allah.” (HR. Imam Muslim dan Imam Ahmad).

Di dalam shahih Bukhari, ada sebuah hadis dari Abu Hurairah, bahwa orang-orang Muhajirin yang miskin datang menghadap Rasulullah dan berkata,

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu telah lebih dahulu sampai pada kedudukannya yang tinggi serta nikmat yang langgeng.” Beliau bertanya, “Ada apa dengan mereka?” Mereka (para sahabat) berkata, “Mereka bisa melaksanakan salat, seperti halnya kami.

Mereka bisa berpuasa, seperti halnya kami. Namun mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak. Mereka bisa memerdekakan budak, sementara kami tidak!”

Lalu Rasulullah bersabda,

“Bukankah aku pernah mengajarkan kepada kalian sesuatu, yang dengan sesuatu itu kalian bisa mengejar orang yang telah mendahului kalian, dan dengan sesuatu itu pula kalian bisa mendahului orang yang datang setelah kalian.

Tidak ada salah seorang yang lebih utama daripada kalian, kecuali ia melakukan sebagaimana yang kalian lakukan.” Mereka (para sahabat) menjawab. “Tentu wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Bertasbih, bertakbir dan bertahmidlah kalian setelah salat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

Dengan demikian, dzikir kepada Allah setelah tauhid dan penunaian ibadah fardhu, merupakan bekal seorang mukmin di sisi Allah. Sebab ia adalah modal dan hiasan bagi amalnya. Bahkan, ia adalah komoditinya untuk memasuki surga dan menjadi penghuninya, serta meningkatkan derajatnya di sisi Allah Ta’ala.

Rasulullah pernah berwasiat kepada seorang yang mengeluh kepada beliau,

Wahai Rasulullah, syariat Islam ini telah banyak memberatkan kami, maka (tunjukkanlah) satu pintu yang dengan satu pintu tersebut kami bisa mendapatkan semuanya!” Rasulullah menjawab, “(yaitu) apabila mulut (lisan)mu selalu basah dari dzikir kepada Allah.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Al Hakim). 

Mulut (bibir) adalah alat bagi orang yang berdzikir, sedangkan hati adalah sumbernya. Sementara amal dan tingkah laku adalah simbol yang menunjukkan adanya keterpautan antara hati dengan lisannya. Surga itu laksana lembah, maka dzikir adalah tanamannya.

Sebab hal itu ialah pelita dan penerang hati, serta obat baginya ketika ia tertutup dengan penyakit. Apabila memadukan antara hati dan lisan, ia akan lupa dengan segala yang ada, sehingga Allah akan melindunginya dari segala yang ada tersebut. Dan ia akan mendapatkan ganti dari segala yang dilupakan itu.

 

Baca juga :

Marketing Qurani

Relawan dari hati

Menerapkan Al-Qur’an 30 Juz

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment