Dosa yang Terhapus Karena Istighfar

Faktor Penghapus dosa

Kita sebagai manusia yang lemah pasti sadar bahwa tidak mungkin bisa lepas dari dosa dan kesalahan. Bahkan hampir setiap saat kita berpotensi untuk melakukan kemaksiatan dan pembangkangan pada Rabb kita, Allah Subhanahu wa ta’ala.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib 3139).

Tetapi, sebanyak apapun dosa kita, seluas apapun kesalahan kita serta setinggi apapun kemaksiatan yang telah kita perbuat, Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Pemaaf akan selalu menanti kita untuk kembali pada-Nya, asal kita ikhlas untuk bertaubat dengan penuh kesungguhan. 

Karenanya, mari kita simak dua dari banyak hal yang bisa menjadi penghapus dosa, yakni istighfar dan musibah. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk bersegera menuju ampunan Allah ‘Azza wa Jalla. 

Istighfar Penghapus Dosa

Menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa, penghapus dosa yang pertama adalah istighfar. Dalam wasiatnya kepada Abu al-Qasim al-Magribi ia berkata,

“Kadang istighfar dapat menghapus dosa, sekalipun tidak disertai dengan taubat.”

Pendapat ini berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ulama yang mengatakan bahwa istighfar yang tidak disertai dengan taubat tidaklah berguna. Namun sebenarnya, setiap taubat dan istighfar itu mengandung manfaat, faidah, dan guna.

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan taubat dan istighfar dalam Al-Quran di tiga tempat. Pertama, disebutkan secara bersamaan (istighfar dan taubat disandingkan sekaligus). Kedua, taubat disebutkan terpisah dari istighfar. Dan ketiga, istighfar disebutkan terpisah dari taubat.

Dari sinilah, Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa istighfar itu memberikan manfaat bagi orang yang berdosa, meskipun dia tidak bertaubat. Dengan catatan dia selalu beristighfar. Sebab, meskipun tidak disertai taubat, kadang istighfar ini bisa membuka pintu dikabulkannya permohonan ampun seseorang. Dalam masalah ini kita bisa merenungkan para Nabi Allah yang sering beristighfar dalam berbagai kesempatan.

Istighfar Nabi Nuh ‘alaihissalam,

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (QS. Nuh: 28).

Semoga Allah memberikan pahala kepada beliau dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab nabi Nuh ‘alaihissalam telah memintakan ampunan untuk kita semua. Karena itulah, Allah memerintahkan para nabi, selain juga kepada para malaikat, untuk memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman,

“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mu’min: 7).

Inilah berkah dari Allah ta’ala bagi hamba-hambaNya yang beriman. Allah memerintahkan malaikat untuk memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Karena itulah Allah ta’ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS Muhammad: 19).

Abdullah ibnu Sirjis radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum mendengar ucapan itu. Sahabat yang mulia ini tidak bertujuan untuk memintakan ampunan bagi Rasulullah, sebab Allah ta’ala telah mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Hanya saja, sahabat ini tahu bahwa Rasulullah itu orang yang memiliki kemuliaan dan kedekatan kepada Allah ta’ala, maka beliau pasti mendoakannya sebagaimana mereka mendoakan beliau.

“Semoga Allah mengampunimu juga,” kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. “Ibnu Sirjis, selamat buatmu! Rasulullah telah memintakan ampunan untukmu,“ kata para sahabat.

“Sumpah, beliau telah memintakan ampunan untukku dan untuk kalian semua,” tukas Ibnu Sirjis. “Mana buktinya?” tanya para sahabat lagi. “Bukankah Allah ta’ala berfirman, ‘Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan,’” kata Ibnu Sirjis mengutip surah Muhammad ayat 19.

Nabi-nabi lainpun juga memohon ampun pada Allah ta’ala. Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

“Dan yang amat kuinginkan adalah Ia mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy Syu’ara: 82).

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri, karena itu ampunilah aku!”

Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Dia-lah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. Musa berkata,

“Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Qashash: 17).

Berdasarkan ayat ini, para ulama menjelaskan apa kewajiban yang seharusnya dilakukan seorang muslim saat mendapatkan nikmat. Yaitu, hendaknya menjadi penolong bagi orang-orang yang berbuat baik dan menjadi musuh bagi orang-orang yang berbuat jahat.

Dalam suatu kisah  dikemukakan bahwa ketika hendak melaksanakan shalat subuh, Umar melewati rumah anak-anaknya. Dia mengetuk pintu rumah Abdullah, Ubaidillah, dan Abdurrahman sembari membacakan firman Allah yang berbunyi,

“Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (QS. Al Qashash: 17).

Artinya, selama Engkau (Allah) menganugerahkan nikmat dan memberiku petunjuk, aku berjanji kepadaMu untuk tidak akan berada di barisan orang-orang yang berbuat jahat, meskipun  mereka anak-anakku yang sekarang sedang tidur.

Sedangkan Nabi Yunus ‘alaihissalam berkata, 

“Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al Anbiya: 87).

Ini adalah kata-kata yang luar biasa agung.  Karena itu, kewajiban seorang muslim adalah mengucapkannya berulang-ulang; baik ketika berdiri, duduk maupun tidur. Sebab, bacaan ini mengandung akidah, pengesaan Allah Ta’ala, pengakuan dosa, dan istighfar.

 

Baca juga :

Membiasakan anak berpenampilan sederhana

Menabung dan investasi

Manusia yang terbaik

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment