Istighfar Yang Dahsyat

Istighfar Yang Dahsyat

Ketika kita dapat mengistiqomahkan amalan mulia bernama istighfar ini, maka ada berbagai kemuliaan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla siapkan.

Memperoleh Kenikmatan yang Baik

Manfaat pertama ini tertuang dalam firmanNya melalui lidah nabi-Nya, Hud ‘alaihissalam,

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), dia pasti memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus ) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar.” (QS. Hud: 3).

Menurut Ibnu Taimiyah, maksud dari kenikmatan di sini adalah kenikmatan fisik. Kongkritnya, Allah menghindarkan orang-orang yang memohon ampunan segala macam musibah, kecemasan, dan kegelisahan.

Dengan kata lain, hanya orang yang tidak memohon ampunan dan berlindung kepada Allah saja, yang mengalami kecemasan, kegundahan, keresahan, kebingungan, dan kesengsaraan. Kenikmatan yang baik ini juga meliputi keluarga, anak cucu, dan sisi-sisi kehidupan di dunia lainnya.

Menjauhkan Bahaya

Orang-orang yang banyak beristighfar adalah mereka yang paling sedikit mendapatkan musibah.  Muhammad Ibnu Ja’far berkata,

“Kalau ada petir yang menyambar dari langit, seluruh penghuni bumi akan tersambar, kecuali orang orang yang suka beristighfar.”

Sebab Allah ta’ala berfirman,

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al Anfal: 33).

Allah menjauhkan musibah dari mereka. Tidak mengirim petir dari langit dan tidak mengirimkan angin ribut, sebagaimana yang Allah kirimkan kepada umat lain. Allah tidak membinasakan mereka dengan badai topan, atau menenggelamkan mereka seperti kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Bahkan, untuk orang kafirpun mendapatkan keutamaan ini, sebagaimana yang diterima oleh orang-orang kafir Quraisy karena mereka selalu memohon ampunan dengan ucapan,

“Ya Allah, aku telah datang memenuhi seruanmu.”

Apalagi kaum muslimin yang suka melaksanakan sholat lima waktu dan takut kepada Allah. Tentu saja mereka lebih pantas  mendapatkan ampunan Tuhan daripada orang kafir, sekalipun mereka terkadang berlaku durhaka.

Mendapatkan Rezeki yang Halal

Sejumlah ulama yang mengerti benar keadaan hati berkata,

“Orang yang ingin mendapatkan keturunan sholih, harus memperbanyak zikir mengingat Allah ta’ala. Sebab, Allah ta’ala menjadikan keshalihan seseorang itu berbekas pada keturunannya sampai hari kiamat.”

Karena itulah dalam hadis qudsi Allah ta’ala berfirman,

“Jika Aku ridha, maka Aku akan memberi berkah, dan keberkahan-Ku tidak berujung. Sebaliknya, jika Aku murka, maka kemurkaanku itu sampai tujuh turunan.”

Mengapa bisa begitu? Jawabannya karena kejahatan yang dilakukan oleh orang durjana mengalir ke dalam darah keturunannya. Seperti pemakan riba atau pezina, dosa keduanya mengalir ke dalam darah keturunannya dan merusak mereka. Jadi, orang yang berpaling dari Allah ta’ala, keturunannya tidak akan dipelihara oleh-Nya. 

Kesimpulannya, istighfar bisa membuahkan rezki yang halal dan keturunan yang sholih. Atas dasar itulah, orang yang ingin mendapatkan rejeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, hendaknya memperbanyak istighfar kepada Allah. Bahkan, kalau bisa menjadikan seluruh waktunya hanya untuk beristighfar.

Menghapus Kesalahan-Kesalahan

Zubair ibnu Awwam al Hawari meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang ingin catatan amalnya menggembirakan, hendaknya memperbanyak istighfar.”

Pada hari kiamat, catatan kita akan diperlihatkan. Kita akan melihat kesalahan, dosa, keburukan, dan  kejahatan kita di depan mata. Kemudian datanglah kalimat istighfar di antara lembaran-lembaran itu. Anda akan menemukan kalimat ‘astaghfirullah’, yang lantas dijadikan sebagai penghapus dosa dan kesalahan dalam catatan itu. Allah kemudian memasukkan Anda ke dalam golongan orang-orang yang diterima di sisi-Nya.

Memudahkan Kesusahan

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang banyak beristighfar, Allah akan melapangkan setiap kesusahannya, dan memberikan jalan keluar terhadap semua kesempitannya, sekaligus memberinya rezki yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad).

Adapun waktu yang terbaik  untuk beristighfar adalah menjelang subuh, di saat manusia sedang terlelap. Pada waktu itu orang-orang tertentu bangun untuk beribadah dan memohon ampun kepada Allah. Sebaliknya, orang yang suka berbuat batil dan yang suka berpaling dari Allah, tidur sepanjang malam, dan tidak mengucapkan astaghfirullah.

Orang yang gemar mendirikan shalat, tidur dalam keadaan berzikir, beribadah, dan beristighfar. Sesaat setelah bangun, mereka langsung mengucapkan istighfar seakan akan telah berbuat dosa. Karena itulah Allah ta’ala menekankan dini hari, sebab waktu ini mengandung keistimewaan khusus.

Namun demikian, ada yang lebih agung daripada  beristighfar pada waktu dini hari. Apakah itu? Bertakwa kepada Allah pada siang hari sebab, orang yang taat adalah orang yang jika melihat hal-hal yang diharamkan, dia tidak melakukannya. Jadi, orang yang mencampur adukkan ibadah dengan kemaksiatan, lalu menyandarkan diri kepada amal kebajikan yang dilakukannya, tidak dikatakan orang yang taat. Aisyah berkata,

“Orang yang ingin mencapai derajat tertinggi, hendaknya tidak melakukan segala perbuatan yang diharamkan Allah.”

Waktu istighfar yang lain adalah setelah shalat lima waktu. Diriwayatkan bahwa setiap selesai salam, Rasulullah selalu mengucapkan, “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah”.

Setelah mendirikan shalat dengan khusyuk, yang  tentunya diterima di sisi Allah, Rasulullah masih mengucapkan istighfar, karena masih ada kekurangan dan kelalaian. Karena itulah, Allah memerintahkan beliau beristighfar setelah selesai mendirikan shalat, pada akhir usia, dan setelah melaksanakan amal sholih.

Dengan kata lain, kalian jangan merasa telah mempersembahkan suatu amal ibadah yang sempurna. Akan tetapi, hendaknya merasa bahwa ibadah itu masih kurang.  Karena itu seyogyanya kita memperbanyak istighfar, merasa selalu kurang dan lalai, merasa senantiasa menghadap kepada Allah, dan mengulang-ulang kalimat ‘Rabbighfirli khati’athi yaumiddin’ (Ya Allah, ampunilah kesalahanku pada Hari Kiamat).

 

Baca juga :

Ketaatan dan nasihat

Membiasakan anak berpenampilan sederhana

Menabung dan investasi

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment