Menolak Kemungkaran Dan Bid’ah

Menolak Kemungkaran dan Bid’ah

Gus Wahid

“Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Contoh dari pengamalan hadist ini adalah ketika ada seseorang berzina pada masa Rasulullah dimana ia semestinya dihukum rajam, akan tetapi ia meminta untuk membayar dengan budak wanita dan 100 ekor kambing. Maka Rasulullah mengatakan,

Budak wanita dan kambing yang kamu serahkan ini adalah tertolak.

Karena penggantian hukuman ini tidak ada dalilnya.

Semua umat muslim sepakat bahwa amalan yang terbaik dalam agama adalah amalan fardhu kemudian sunnah. Tidak boleh ada kegiatan yang mengganggu amalan fardhu dan tidak boleh ada amalan selain amalan fardhu yang mengalahkan amalan sunnah. Sehingga memenuhi kedua hal ini adalah paling utama. Sabda Rasulullah,

Barang siapa yang menghidupkan sunnahku, sungguh dia telah mencintaiku”.

Maka tanda cinta seorang muslim terhadap Nabi adalah dengan menjalankan sunnah yang beliau teladankan. Jika seorang merasa belum mampu menjalankan suatu tuntunan sunnah, maka ia harus memperbanyak istighfar dan berupaya.

Jangan sampai ia membenci sunnah yang belum mampu ia lakukan. Misalkan jenggot, maka biarkan saja orang yang menjalankan sunnah memanjangkan jenggot dan jangan mengejeknya karena penampilannya. Karena Rasulullah bersabda,

Barang siapa yang membenci sunnahku, berarti ia benci kepadaku”.

Orang yang tidak mau mengamalkan sunnah, lama-kelamaan amalan fardhunya akan hilang. Akhirnya ia melakukan amalan yang tidak sunnah apalagi fardhu. Misal, seseorang rajin mengamalkan shalawat. Shalawat itu sunnah, tapi ia melakukannya sampai larut sehingga di waktu fajarnya ia terlambat melaksanakan shalat subuh.

Maka amalan sunnah yang ia lakukan itu tertolak. Ia termasuk orang yang tertipu, seolah-olah dengan shalawatnya ia memanjangkan dzikir tapi kenyataannya ia malah kehilangan keutamaan shalat subuh.

bid'ah

Bid’ah itu semuanya sesat dan kesesatan itu tempatnya di neraka. Yakni bid’ah yang jelas kesesatannya, tidak ada dalilnya, tidak ada dasarnya. Tetapi Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah. Bid’ah hasanah merupakan ijtihat yang dilakukan orang-orang salih agar syariat bisa dijalankan dengan optimal, ia diperbolehkan.

Misalnya adalah pembuatan batas-batas shaf agar jamaah dapat berbaris dengan lurus dan rapi, penulisan wahyu menjadi Kitab Al Qur’an, diciptanya tajwid agar ummat memahami cara membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Maka ijtihad yang difungsikan untuk menyempurnakan kewajiban ummat ini dinilai perlu adanya dan menjadi wajib dipelajari apabila ia menyempurnakan amalan wajib.

 

Baca juga :

Unsur dasar saling mencintai

Ilusi pikiran

Cara mencegah sinusitis

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment