Larangan Mencela Suatu Keturunan

Dilarang Mencela Orang Lain Karena Keturunannya

Karena kemuliaan seseorang harus kita ukur dengan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka seorang muslim tidak dibenarkan mencela orang lain dengan sebab keturunan. Misalnya kalau bapak dan ibunya tidak baik, maka kita menganggap anaknya juga tidak baik, kemudian mencelanya. Memang ada kalanya bila orangtua tidak baik, anaknya juga ikut menjadi tidak baik. Namun kita tidak bisa menganggap semua seperti itu.

Mencela Keturunan Di Masa Jahiliyah

Pada masa jahiliyah, mencela keturunan memang biasa terjadi. Bahkan seringkali permusuhan seseorang dengan orang lain akan turun-temurun pada anak cucunya. Islam sangat tidak membenarkan perlakuan mencela orang lain, apalagi hanya karena keturunan. Bisa jadi yang dicela sebenarnya lebih baik daripada yang mencela. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat : 11)

Mencela Keturunan Di Masa Sekarang

Pada masa sekarang sering terjadi adanya orang tua yang mengingkari anaknya. Ada dengan cara membuang anak tersebut karena lahir tidak diinginkan atau karena hubungan yang terlarang. Atau bisa juga tidak mau mengakui lagi sebagai anak disebabkan pertengkaran dengan anaknya atau hal-hal lainnya. Perbuatan ini termasuk dalam larangan hadits tersebut.

Sebaliknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang seseorang mengaku sebagai keturunan dari suku tertentu, padahal ia bukan dari mereka. Misalnya orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal ia bukan keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْفِرَى أَنْ يَدَّعِيَ الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ يُرِيَ عَيْنَهُ مَا لَمْ تَرَ أَوْ يَقُولُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يَقُلْ

“Sesungguhnya kebohongan yang amat besar di sisi Allah, yaitu seseorang yang mengaku kepada selain bapaknya. Atau mengaku matanya melihat apa yang tidak ia lihat. Atau mengatakan terhadap Rasulullah sesuatu yang tidak beliau katakan.” (HR al-Bukhari).

Dalam riwayat lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barang siapa yang mengaku kepada selain bapaknya sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan bapaknya, maka diharamkan baginya surga.” (HR. Mutaffaqun ‘alaih).

Baca Artikel Islami Lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment