Membimbing Anak Kepada Akhlaq Mulia

Membimbing Anak Kepada Akhlaq Mulia

Mendidik Generasi

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu yang telah menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya,

“Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimu dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah!”

Selanjutnya, beliau melanjutkan,

“Wahai anakku, yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku; dan barang siapa yang mencintaiku, niscaya akan bersamaku di dalam surga.“ (HR. Tirmidzi, Kitabul ‘Ilmi 2602).

Perhatikanlah, semoga Allah merahmati Anda sekalian. Dengan cara apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik anak-anak, baik saat mereka berada di petang hari maupun di pagi hari? Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik mereka untuk mengamalkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (١٧) وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (١٨)

“Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zhuhur.” (QS. Ar-Ruum (30): 17-18).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik mereka, baik pada pagi hari maupun petang hari untuk berhati suci, berjiwa bersih, dan berdada lapang, sebagai persiapan bagi mereka untuk menghadapi suatu hari yang pada hari itu tidak berguna lagi harta benda atau anak-anak, kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Wahai kaum muslim, tahukah Anda makna mendidik generasi agar berpagi hari dan berpetang hari untuk membersihkan kalbunya dari kecurangan terhadap seseorang? Kalau masih juga belum mengerti, marilah kita baca hadits berikut, niscaya Anda sekalian akan mengetahui maknanya.

anak

Anas Ibnu Malik telah menceritakan bahwa ketika mereka sedang duduk bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda,

“Akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga.”

Maka muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar, sedang dari jenggotnya masih menetes air bekas wudhu’nya. Dia menjinjing terompahnya di tangan kirnya. Lelaki itu melakukan hal semisal sebanyak tiga kali dalam tiga hari berturut-turut.

Pada hari yang ketiganya setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak, ‘Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash mengikutinya dan meminta izin kepadanya untuk menginap di rumah lelaki itu selama tiga malam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya.

Anas melanjutkan kisahnya bahwa ‘Abdullah telah menceritakan kepadanya bahwa selama tiga malam ia menginap di rumah lelaki itu, ternyata dia tidak melihatnya melakukan qiyamul lail barang sekalipun. Akan tetapi, bila terjaga dari tidurnya dan mengubah posisi tidurnya d atas peraduan, dia selalu berdzikir menyebut nama Allah dan bertakbir hingga bangun untuk menunaikan shalat Shubuh.

‘Abdullah mengatakan:

“Akan tetapi, saya tidak pernah mendengarnya mengucapkan apa pun, kecuali hanya kebaikkan belaka.

Setelah tiga malam berlalu aku hampir saja meremehkan amal perbuatannya, lalu aku berkata, ‘Hai hamba Allah, aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda berkenaan denganmu bahwa akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga, lalu muncullah engkau yang hal ini terjadi sebanyak tiga kali selama tiga hari berturut-turut.

Aku pun ingin menginap di rumahmu untuk melihat apa saja yang diamalkan olehmu agar aku dapat mengikuti jejakmu. Akan tetapi, ternyata kulihat engkau tidak melakukan banyak amal seperti yang kuperkirakan sebelumnya.

Karenanya, apakah yang menyebabkan engkau dapat mencapai kedudukan mulia seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’

Lelaki itu menjawab,

“Tiada lain yang kulakukan hanyalah seperti apa yang telah kamu lihat.”

‘Abdullah melanjutkan kisahnya bahwa setelah ia berpaling, ternyata lelaki itu memanggilnya dan berkata,

“Tiada lain yang kulakukan hanyalah seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja diriku tidak pernah memendam kecurangan terhadap seorang pun dari kalangan kaum muslim dan tidak pula punya rasa iri terhadap seseorang karena kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.”

‘Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash pun mengatakan,

“Inilah penyebab yang menghantarkanmu hingga dapat meraihnya, sedang kami tidak mampu melakukannya.” (HR. Ahmad, lanjutan Musnadul Muktsirin, 12236).

Oleh karena itu, pernahkah kita mengajari anak-anak kita tuntunan dan etika seperti yan disebutkan dalam hadits ini?

Nasihat Al-Ghazali agar Membiasakan Anak-Anak Melakukan Akhlaq Mulia

Al-Ghazali rahimahullah telah mengatakan bahwa dianjurkan agar anak tidak dibiasakan meludah di majelisnya, mengeluarkan ingus, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpuan kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena sesungguhnya sikap ini menunjukkan yang bersangkutan sebagai seorang pemalas.

Sebaiknya ia harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Kepadanya harus diterangkan bahwa banyak bicara itu termasuk perbuatan tercela dan hanya pantas dilakukan oleh anak-anak yang tercela.

Hendaknya dia dilarang berisyarat dengan memakai kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil. Hendaknya dia dilarang memulai pembicaraan dan dibiasakan untuk tidak berbicara, selain untuk menjawab sesuai dengan kadar pertanyaan.

Hendaknya dia dibiasakan untuk mendengar dengan baik jika orang lain yang lebih besar daripadanya berbicara, berdiri menghormati orang yang lebih atas daripadanya meluaskan tempat duduk baginya, duduk dihadapannya dengan sopan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ada gunanya dan kata-kata yang kotor, tidak mengeluarkan kutukan dan makian, serta tidak bergaul dengan orang yang mulutnya biasa mengeluarkan sesuatu dari kata-kata tersebut.

Demikian itu karena sesungguhnya hal itu pasti karena pengaruh dari teman-teman yang buruk, padahal pokok pendidikan bagi anak-anak adalah menghindarkannya dari teman-teman yang buruk (jahat). (Al-Ihya juz 3/62).

Maraji’: ……………………

 

Baca juga :

Menghindari sifat jahiliyah

Buah kurma dan manfaatnya

Berbagi senyuman bersama relawan

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment