Musibah: Penghapus Dosa Berupa Kesedihan dan Duka Cita

Musibah

Salah satu keuntungan orang mukmin sekaligus rahmat bagi hamba yang lemah adalah, Allah menjadikan segala bentuk kesedihan, duka cita, atau kegelisahan yang mendera kehidupan sebagai penghapus dosa dan kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Berikut ini nash-nash yang memperkuat dan menjadi saksi atas kebenaran pendapat ini. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Orang yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (QS. An Nisa: 123).

Ayat dalam surat An Nisa ini sangat agung. Benar-benar mulia. Latar belakang turunnya ayat ini dikarenakan beberapa orang Anshar berkumpul bersama sejumlah orang Yahudi. Lalu orang Yahudi berkata,

“Kita, orang Yahudi, tidak akan diazab oleh Allah. Sebab, kita adalah anak-anak dan kekasih Allah.”

Dengan pernyataan ini, mereka sejatinya telah mendustakan Allah ta’ala.

“Kalau kalian memang orang-orang benar, mengapa kalian disiksa di dalam neraka? Kalau memang klaim kalian itu benar, kenapa kalian tertimpa bencana, musibah, dan malapetaka? Kalian bukan hanya mendustai Allah, tapi kalian juga melanggar syariat Nya.”

Sedangkan berkenaan dengan sindiran terhadap orang-orang Anshar, Allah ta’ala berfirman,

“Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-angan.” (QS. An Nisa: 123).

Wahai kaum Anshar dan kaum Yahudi ahlul kitab! Kalian berangan angan bahwa kalian adalah kekasih-kekasih Allah. Allah ta’ala berfirman,

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Orang yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah.” (QS. An Nisa: 123).

Menurut ahli-ahli tafsir dari golongan Ahlussunah wal jamaah, diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca ayat ini sepanjang malam di Masjidil Haram sambil menangis.

“Dia terus mengulang-ulang bacaan ayat ini sejak shalat Isya sampai shalat Subuh. Kalau tadi malam kalian melihat Ibnu Abbas menangis, kalian pasti mengira dia telah kehilangan seseorang,” kata Mujahid.

Menurut para ahli tafsir, balasan dalam ayat ini bisa diterima di dunia, juga bisa di akhirat.

“Orang yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjadikan ayat ini sebagai penguat akidah; bahwa semua bencana yang menimpa kita; dari yang tertinggi yaitu kematian; hingga yang teringan yaitu tertusuk duri, tersengat matahari, sedih, dan susah, merupakan penghapus dosa.

Mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum sambil menengadahkan pandangan ke langit hingga gigi gerahamnya kelihatan, para sahabat bertanya, “Rasulullah apa yang terjadi padamu?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh mengagumkan kehidupan orang mukmin. Segala urusannya baik. Jika dia bersyukur saat mendapatkan kesenangan, itu baik baginya. Dan jika dia bersabar ketika mendapatkan musibah, itu juga baik baginya. Semua ini hanya ada pada diri orang mukmin.”

Ini merupakan hadits yang paling sempurna tentang penghapus dosa. Sungguh mengagumkan sekali kehidupan orang mukmin, mereka senantiasa ada dalam kebaikan, kebajikan, petunjuk, dan perjalanan menuju Allah. Mereka selalu naik menuju Allah, baik ketika mendapatkan kenikmatan maupun ketika mendapatkan musibah.

Berkah Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang  terkena musibah, malapetaka, dan bencana alam. Karena itulah dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang yang tertimpa musibah, kemudian setiap mengingat musibah itu dia mengucapkan’ inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’, maka pada saat itu Allah menuliskan pahala baginya.

Menurut para ulama, orang yang mengingat musibah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengucap ‘inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’, maka pada saat itu Allah menuliskan pahala baginya. Dimana wafatnya Rasulullah merupakan musibah paling besar. 

Kesimpulannya, mohonlah pahala kepada Allah ta’ala atas segala malapetaka yang menimpa dalam kehidupan ini; dari yang tertinggi seperti penyakit dalam yang kronis, hingga yang teringan seperti flu.

Oleh karena itulah, jika Anda melihat orang mukmin yang terserang penyakit, Anda harus sadar bahwa dia sejatinya berada dalam kebaikan, kebajikan, dan amal sholih. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang mukmin itu bagaikan pohon kecil yang jika ditiup angin bergoyang ke kanan dan kekiri. Sedangkan orang munafik laksana  pohon yang berdiri kokoh dan tegak, sehingga jika ditiup angin langsung mencabut dari tanahnya.”

Atas dasar itulah, jangan heran kalau anda mendapati orang munafik memiliki tubuh sehat, harta banyak, kedudukan tinggi, dan suara indah. Akan tetapi, hidup mereka diliputi kecemasan, kegelisahan, dan kehancuran.

Jika orang kafir melakukan kebaikan, balasannya langsung diterima di dunia, supaya di akhirat tidak ada perhitungan di sisi Allah. Bila ditimpa musibah, maka sejatinya itu merupakan awal dari rangkaian musibah yang akan menimpa, hingga berakhir pada keabadian di dalam neraka. Kita berlindung kepada Allah dari semua itu.

 

Baca juga :

Ketaatan dan nasihat

Membiasakan anak berpenampilan sederhana

Menabung dan investasi

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment