Nafsu Yang Merusak Manusia

Oleh : Drs. H. Ahmad Yani

Manusia baik secara pribadi, keluarga, kelompok maupun bangsa meskipun semula berada dalam kebaikan dan kemuliaan, tapi manakala tidak mengindahkan peringatan Allah dan Rasul-Nya akan mengalami kehancuran hidup, baik dari segi perilaku, status sosial, kedudukan dan ekonomi hingga harga diri. Oleh karena itu, peringatan Allah dan Rasul-Nya di dalam Islam harus mendapat perhatian kita semua. Di antara yang harus kita perhatikan dan kita taati adalah peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu hadistnya:

“Tiga perkara yang merusak, yaitu hawa nafsu yang diperturutkan, kikir yang ditaati, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri” ( HR. Tabrani dari Anas ra )

Dari hadist di atas, ada tiga perkara yang harus kita hindari agar kita dapat mencegah diri dari kerusakan hidup di dunia maupun di akhirat. Agar dapat kita hindari, maka tiga perkara ini harus kita pahami dengan baik.

Menuruti Hawa Nafsu

Perkara pertama adalah menuruti hawa nafsu. Setiap manusia dianugrahi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala segala keinginan dan rasa cinta pada sesuatu. Cinta pada harta, tahta dan wanita, begitu juga sebaliknya bagi wanita. Kecintaan pada semua itu tidaklah dilarang dalam Islam selama pada batas-batas yang dibenarkan. 

Harta boleh dicari dan dimiliki, tapi jangan sampai manusia lupa kepada Allah dalam kaitan dengan harta, misalnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dan tidak menunaikan zakat, infaq dan sedekah. 

Kedudukan dan tahta juga sesuatu yang dicintai manusia sehingga banyak di antara manusia yang mengejar kedudukan tersebut. Bahkan seringkali manusia menjadi sangat mencintainya sehingga tidak mau melepaskan kedudukan itu guna memberi kesempatan pada yang lebih muda. Dan yang amat disayangkan, kedudukan tidak digunakannya untuk menegakkan kebenaran tapi hanya untuk menyenangkan diri dan keluarganya. Kalau perlu hingga tujuh turunan.

Nafsu seks terhadap lain jenis juga diberikan Allah kepada manusia dan tidak dilarang selama dalam aturan yang disyariatkan. Karena itu Allah mengharuskan  manusia untuk menikah sebagai salah satu koridor dalam mengendalikan hawa nafsu. Tetapi kenyataannya banyak manusia yang lebih menuruti hawa nafsunya sehingga banyak terjadi perzinahan sedangkan Allah jelas-jelas melarang bahkan untuk mendekatinya.

Manakala sudah demikian jadinya, maka nafsu yang sebenarnya berpotensi untuk dikendalikan malah tidak terkendali. Manusia memperturutkannya bahkan tunduk sehingga hal-hal yang dibenci Allah pun dilakukannya, perkosaan, pembunuhan, penipuan, korupsi, kolusi, nepotisme, suap dan lain sebagainya. Betapa hinanya mereka yang melakukan semua itu. Kita harus memperhatikan kejadian-kejadian tersebut dan mengambil pelajaran. Jika kita bisa maka kita cegah atau atasi, minimal kita tidak mendekati hal-hal tersebut. 

Allah Ta’ala berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” ( QS. Al Jatsiyah : 23 ).

Dr. Ahmad Farid dalam  bukunya ‘Konsep Penyucian Jiwa Dalam Islam’ menyatakan bahwa nafsu adalah pemutus antara hati dan jalan menuju Allah ta’ala. Ia tidak akan sampai kepada Allah, kecuali setelah mematikan dan meninggalkan nafsu dengan melawan dan mengalahkannya.

Manusia terbagi menjadi:

Manusia yang dikalahkan nafsunya.

Sehingga, nafsu mampu menguasai dan meluluhkannya. Ia pun taat di bawah perintah-perintah nafsunya.

Manusia yang mampu mengalahkan nafsunya.

Sehingga, ia mampu meluluhkan nafsunya, dan nafsu pun patuh dan tunduk pada perintah-perintahnya. Sebagian orang bijak mengatakan,

“Perjalanan para penempuh sudah sampai pada kemenangan atas nafsu mereka. Barangsiapa mampu mengalahkan nafsunya, ia telah sukses dan selamat. Barangsiapa dikalahkan nafsunya, ia telah rugi dan celaka.”

Hawa nafsu senantiasa mengajak pada perbuatan keji dan mengutamakan kehiidupan dunia. Sementara Allah menyeru hamba agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu. Hati atau qalbu ada di antara dua penyeru tersebut. Sekali waktu ia condong kepada yang ini, pada kesempatan lain ia condong kepada yang itu. Inilah tempat cobaan dan ujian.

Apabila nafsu tenang kepada Allah ta’ala, tenang dengan mengingat-Nya, berserah diri kepada-Nya, rindu berjumpa dengan-Nya, dan senang karena dekat dengan-Nya,ia dinamakan nafs muthmainnah (jiwa yang tenang). Inilah jiwa yang kita harapkan karena ia tenang terhadap ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla, ia bersemangat dalam mengerjakan kebaikan dengan ikhlas, dan ia sangat bersyukur atas segala nikmat dari Tuhannya.

Kebalikannya, hendaknya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan an nafs al ammaarah bis suu’ (jiwa yang menyuruh berbuat jahat). Inilah nafsu yang tercela. Ia adalah nafsu yang selalu menyuruh berbuat keburukan. Kejahatan ini terpendam dalam jiwa yang kemudian akan mendatangkan keburukan-keburukan amal. Memang, nafsu itu bertabiat seperti demikian. Karenanya, tidak ada seorang pun yang bisa selamat darinya, kecuali ia memperoleh pertolongan dari Allah ta’ala. 

Leave a Comment