Hubungan Nutrisi dengan Resiko Infeksi Covid-19

Oleh : Raudhatul Jannah, S.Gz

Covid-19 di Indonesia dan Dunia

Penularan virus Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus Corona masih belum mengalami penurunan yang signifikan di Indonesia. WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi pada tanggal 12 Maret 2020 yang melibatkan lebih dari 200 negara. Saat itu, jumlah warga Indonesia yang terinfeksi mencapai 28.233 orang dengan angka kematian mencapai 1.698 sedangkan kasus di dunia mencapai 6,4 juta dan korban meninggal sebesar 380 ribu jiwa. 

Pemerintah berencana mengakhiri PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada tanggal 4 Juni 2020, hal ini cukup mengkhawatirkan beberapa pihak pasalnya angka infeksi yang masih tinggi. Dengan berakhirnya PSBB, pemerintah merencanakan adanya “New Normal” atau kehidupan Normal Baru dalam menghadapi Covid-19. Normal Baru adalah kebijakan yang diambil sebagai salah satu penyelamatan kondisi ekonomi Indonesia selama masa pandemic. Masyarakat diharap dapat menjalankan protocol kesehatan secara mandiri untuk menghindari peningkatan kasus infeksi Covid-19.

Korea Selatan adalah salah satu negara yang mencoba melakukan kehidupan normal baru, beberapa fasilitas telah dibuka seperti sekolah ataupun museum, namun setelah dibuka terjadi lonjakan kasus sehingga pemerintah Korea Selatan kembali menutup fasilitas sekolah ataupun museum. 

Menghadapi Normal Baru ada beberapa protocol yang dianjurkan seperti kebiasaan mencuci tangan, menjaga jarak, membiasakan menggunakan masker hingga meningkatkan kesehatan melalui konsumsi gizi seimbang. Ahli gizi di beberapa lembaga seperti Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo telah memberikan panduan gizi selama pandemic Covid-19. Beberapa lembaga di luar Negeri pun juga ikut memberikan rekomendasi nutrisi. Lalu bagaimana sebenarnya hubungan nutrisi dengan resiko infeksi Covid-19?

Resiko Infeksi Covid-19

Butler dan Ruth meyampaikan peningkatan angka resiko terjadinya infeksi Covid-19 khususnya di Amerika dan beberapa Negara berkembang salah satunya dipengaruhi oleh pola makan ala barat yang mengandung tinggi lemak jenuh, karbohidrat sederhana, dan juga gula. Lemak jenuh banyak terkandung dalam produk daging merah dan juga unggas terlebih jika proses pemasakan dengan cara digoreng. Selain itu rendahnya konsumsi serat, lemak tidak jenuh dan antioksidan juga mempengaruhi peningkatan resiko infeksi. Serat dan antioksidan banyak ditemukan di buah dan sayur sedangkan lemak tidak jenuh terdapat di beberapa bahan makanan seperti alpukat dan minyak zaitun. 

Pola makan yang tinggi lemak jenuh dapat menyebabkan reaksi peradangan dalam tubuh. Toshiro mendapati adanya peradangan meningkat pada organ paru dengan konsumsi lemak jenuh yang tinggi. Hal ini berhubungan dengan resiko infeksi Covid-19 karena virus ini juga menyebabkan peradangan di organ paru-paru. Konsumsi lemak jenuh, karbohidrat sederhana dan gula yang tinggi dapat membuat individu mengalami obesitas dan resiko terkena Diabetes.

Diabetes dan Covid-19

Dharmasena menyebutkan individu dengan obesitas dan juga diabetes beresiko mengalami infeksi Covid-19 lebih tinggi dibanding individu normal. Salah satu upaya menurunkan kasus pada pandemi ini adalah usulan pengembangan vaksin, namun Green dan Beck menemukan jika penggunaan vaksin pada individu yang mengalami obesitas memiliki efektivitas lebih rendah. Tidak hanya obesitas, kekurangan zat gizi juga dapat menyebabkan resiko semakin tinggi. Individu dengan kurang gizi seringkali kekurangan protein sedangkan imun tubuh sangat berhubungan dengan ketersediaan protein. 

Melihat potensi dari pola makan tersebut maka dapat diambil kesimpulan selama pandemic ini masyarakat harus mulai belajar untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh maupun gula. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur sebagai sumber serat dan antioksidan dapat membantu menurunkan peradangan dalam tubuh serta meningkatkan sistem imun sehingga resiko infeksi virus Covid-19 juga dapat menurun.

Panduan gizi selama pandemic Covid-19

  1. Kebutuhan energy dapat menyesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi atau melakukan perhitungan secara individu dengan ahli gizi
  2. Ikuti pola makan gizi seimbang yang terdiri dari 1/3 piring makanan pokok, 1/3 sayur, 1/3 lauk dan buah
  3. Batasi penggunaan gula, garam dan minyak. Penggunaan gula sebaiknya tidak lebih dari 4 sendok makan, garam 1 sendok teh dan minyak 5 sendok makan.
  4. Konsumsi air putih 8 gelas sehari. 

Jika mengalami kesulitan dalam menerapkan pola makan hubungi ahli gizi untuk membantu menentukan kebutuhan zat gizi dan contoh menu harian.

Baca Artikel Kesehatan Lainnya: Artikel Yasa Peduli

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment