Pemuda Punya Potensi

Pemuda Di Era Kemerdekaan

“Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia,” demikianlah perkataan Presiden RI pertama, Dr. Ir. H. Achmed Soekarno, untuk memberikan semangat kepada para anak-anak muda di tanah air. Saat itu, jumlah populasi Indonesia masih berada di kisaran 61 juta jiwa. Jikalau komposisi pemudanya sekitar 50 persen berarti terdapat hampir 31 juta anak muda. Sekarang, jumlah penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa. Artinya, jika kita anggap setengahnya adalah para pemuda, maka jumlah pemuda saat ini sekitar 130 juta jiwa, lebih dari empat kali lipat jumlah pemuda di era Soekarno.

Pemuda dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia

Peningkatan jumlah anak muda secara signifikan ternyata belum memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan Indonesia. Pasalnya, kepemimpinan di negeri ini masih didominasi para senior yang relatif mengabaikan potensi pemudanya. Bukan berarti para pemimpin yang tidak masuk kategori anak muda itu tidak memiliki skill dan kompetensi yang mumpuni.

Namun lebih ke arah bagaimana mengoptimalkan para anak-anak muda yang notabene masih memiliki jiwa idealisme tinggi untuk kemajuan bangsa dan tanah air. Hal tersebut begitu urgent mengingat negeri yang kini sudah berusia hampir tiga perempat abad ini masih terus berjalan di tempat.

Negeri kita masih terus bergulat dengan berbagai permasalahan. Mulai dari masalah kesejahteraan hingga masalah sosial budaya. Menurut website resmi “Trading Economics” (diakses pada 31 Oktober 2018), pendapatan perkapita Indonesia adalah 63% dari rata-rata perkapita dunia. Artinya berada cukup jauh di bawah pendapatan perkapita dunia secara umum. Sebuah ironi tentunya, mengingat kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah dari Sabang hingga Merauke.

Lalu berikutnya masalah sosial budaya yang terkait dengan tingkat daya saing bangsa. Indonesia saat ini menghadapi sebuah keadaan kritis di tengah arus globalisasi, industrialisasi dan modernisasi. Permasalahannya bukan pada globalisasi, industrialisasi ataupun modernisasinya, melainkan pada ketidakmampuan negeri kita beradaptasi dengan perubahan zaman yang begitu cepat dan ketidakmampuan bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Sejatinya tidak masalah jika negara tercinta kita dipimpin apakah oleh para pemimpin muda atau para pemimpin senior. Namun, alangkah lebih baiknya jika para anak muda dengan potensi cemerlang diberi kesempatan untuk menunjukkan kualitas kepemimpinannya dan memaksimalkan pengabdian di negeri yang sedang merindukan masa kejayaannya ini.

Bukankah sejarah peradaban dunia menunjukkan bahwa banyak pencapaian luar biasa justru diraih oleh para anak-anak mudanya? Pemimpin Imperium Ottoman, Muhammad Al Fatih, menaklukkan Ibu Kota Romawi Timur, Konstantinopel, saat ia masih berusia 21 tahun. Napoleon Bonaparte memimpin Imperium Perancis untuk menguasai Eropa sejak ia berusia 35 tahun.

Jangan lupakan pula para anak muda Indonesia dalam membela Ibu Pertiwi kita. Kemerdekaan tanah air tidak lepas dari jasa para pemuda yang berjuang tak kenal patah semangat. Dimulai sejak deklarasi Sumpah Pemuda hingga peristiwa Rengasdengklok beberapa hari sebelum Kemerdekaan.

Pemuda Harapan Negeri, Pemuda yang Niru Nabi

Setiap pemuda adalah permata bagi negerinya. Harapan tinggi untuk para pemuda agar mereka menjadi sosok generasi yang unggul dan mampu menjadi tokoh di masa yang akan datang. “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi” Karena itulah Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Karena itu, negara memberikan perhatian besar pada generasi muda.

Pemuda adalah masa dimana mereka memiliki kepekaan yang tinggi, berpikir kritis, dan mampu mengoptimalkan setiap potensinya. Pemuda sebagai tonggak estafet bangsa, pewaris peradaban dunia, maka hancur makmurnya sebuah bangsa di masa depan tergantung kondisi pemuda sekarang. Namun, melihat kondisi remaja sekarang. Mereka seolah kehilangan identitasnya, kehilangan jati dirinya sebagai muslim yang memiliki karakter Islam.

Mayoritas remaja menjadi sosok yang keras mental, kering jiwanya, jumud dalam mencari solusi, dan seringkali jalan pintas yang dicari. Atas nama kebebasan berekspresi, remaja lebih suka ugal-ugalan di jalan, pacaran, bahkan melakukan free sex. Lebih mudah mencari pemuda pandai menyanyi daripada pemuda pandai mengaji, lebih mudah mencari pemuda yang meniru Song Joong Ki daripada meniru Nabi.

Pemuda Dalam Islam

Fitrah manusia memiliki gharizah tadayyun, yaitu menjadi hamba yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu pula para pemuda. Di masa transisi mereka lebih cenderung untuk senantiasa totalitas dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Namun dengan diterapkannya sistem kapitalis sekuler (memisahkan agama dari kehidupan), akhirnya tercabutlah fitrah yang ada dalam diri mereka. Masa-masa berkualitasnya tidak diarahkan atau di atur oleh aturan Islam, bingung mencari sosok panutan. Maka lahirlah pemuda yang kering identitas, bingung, dan jumud. Mereka tidak tahu dari mana mereka berasal, untuk apa mereka ada di dunia, dan tidak memahami bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan akan di hisab oleh Allah Ta’ala.

Melihat sejarah di masa kegemilangan Islam, yang menerapkan aturan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Assunnah, lahir pemuda-pemuda unggul yang bersyakhsiyyah Islam, menjadi sosok ulama sekaligus ilmuwan, seperti Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Al Zahrawi, Jabir Ibn Hayyan. Mereka Memiliki tujuan hidup yang jelas yaitu untuk beribadah. Ketaatan yang totalitas adalah bentuk pengembalian fitrah manusia yang sesungguhnya, menemukan jati diri dengan mengabdikan diri kepada Allah Ta’ala, menerapkan hukum-hukum-Nya, serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

“Rabb-mu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah.” (HR. Ahmad).

Shobwah adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran.Sangat besar harapan agar para pemuda menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercinta sebagai idola utama, sehingga mereka berlomba-lomba menerapkan aturan Islam dalam setiap sendi kehidupan, semoga.

Baca Artikel lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment