Prinsip Kemenangan Dan Kekalahan

Prinsip Kemenangan Dan Kekalahan Di Surat Al Anfal Dan Surat Ali Imron

Ust. Abu Haidar

Bahasan kita kali ini adalah supaya kita tahu bagaimana kemenangan dapat diraih dalam perjuangan dan agar tidak kalah. Sehingga arah perjuangan kaum muslimin menuju pada kemenangan serta mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kita semua harus berprinsip. “Isykariiman Aumutsyahiidan”.

Hidup mulia yang dimaksud adalah menang. Itu artinya bisa tegak Al-Qur’an 30 Juz diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, atau apabila tidak mampu seideal itu, kita sudah ada niat untuk menerapkannya sehingga kita bisa meninggal dalam keadaan syahid. Karena itu cita-cita yang terbaik adalah meninggal dalam keadaan syahid, dimana meninggal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prinsip yang pertama

Kemenangan itu dipermulaan dan di akhir, dan semua berada di tangan Allah. Satu prinsip seorang muslim yang harus ditanamkan kuat adalah tidak ada satu pun makhluk yang campur tangan dalam kemenangan, karena hal ini datangnya hanya dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di atas bukit Shafa dan Marwa mengatakan,

“Dan Dia-lah yang menghancurkan musuh-musuh-Nya sendiri.”

Jadi kemenangan dan pertolongan kaum muslim datangnya dari Allah semata.

Surat Al-Anfal ayat 10 yang mengisahkan tentang kemenangan kaum muslimin saat perang Badar. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kemenangan di dalam perang Badar dengan dihadirkan semua pertolongan merupakan sebuah kabar gembira dari Allah Subhanahu wa ta’ala melainkan merupakan sebuah kabar gembira supaya hati kalian menjadi tenang, dan tidak ada kemenangan itu datangnya kecuali dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.”

Sehingga Allah mengingatkan dalam perang Badar di ayat sebelumnya, “Ingatlah kalian ketika dulu di perang Badar kalian beristighotsah kepada Tuhan kalian, lalu Allah mengabulkan istighotsah kalian kemudian Aku mengirim para Malaikat.”

“Dan ingatlah ketika dulu Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan rasa kantuk kepada kalian sebagai rasa aman dan tenang dari Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Kemudian bagaimana Allah menurunkan kemenangan yaitu dengan menurunkan air hujan, dengan air hujan itu Allah akan menghilangkan kotoran-kotoran syaitan dari para sahabat, supaya hati mereka menjadi kokoh dan percaya diri, serta telapak kaki mereka menjadi kokoh, maka di saat wudhu dan sholat itu merupakan bagian dari kekuatan seorang muslim. Jika kita senantiasa menjaga wudhu, maka syaitan tidak mudah menggoda kita semua.

Prinsip yang kedua

Jika Allah sudah menakdirkan kemenangan kepada kaum muslimin maka tidak ada kekuatan sehebat apapun di muka bumi ini yang mengalahkan, dan Jika Allah sudah menakdirkan kekalahan kepada kaum muslimin, maka tidak ada kekuatan sehebat apapun di muka bumi ini yang dapat menolong. Jadi ini adalah sebuah prinsip dari Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Surat Ali Imron ayat 160,

“Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menolong kalian semua, maka tidak akan ada siapa pun yang bisa mengalahkan-Nya, begitu juga bila Allah memberikan kekalahan kepada kalian dan memberikan kehinaan kepada kalian maka siapa lagi bisa menolong kalian selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Maka hendaklah orang-orang beriman itu bertawakkal kepada Allah (berpasrah dan melibatkan Allah di semua urusan kita).”

Jika anda merasa pandai, merasa kuat, dan merasa hebat itu adalah sebuah awal dari kehancuran.

prinsip

Prinsip yang ketiga

Pertolongan Allah itu akan datang tentunya ada syaratnya yaitu Ikhlas. Karena pertolongan itu tidak begitu saja akan turun. Syarat yang pertama dan utama adalah generasi kaum muslimin harus punya bendera “Keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”. Disebutkan oleh Allah di Surat Muhammad ayat 7 yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman jika kalian menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kalian dan mengokohkan telapak kaki kalian.”

Jadi nashrullah/pertolongan Allah itu akan datang kepada kita jika kita memenuhi, mengikuti, dan menyambut seruan Allah. Jika Allah perintahkan sholat, maka semua kaum muslimin sholat. Jika Rasulullah memerintahkan sholat berjamaah, maka semua kaum muslimin sholat secara berjamaah, sehingga nashrullah itu akan datang.

Kalau seandainya jihad sholat berjamaah dari rumah ke masjid saja berat bagi seorang muslim, maka akan lebih berat lagi jihad perang. Sulit-lah pertolongan itu datang. Kemenangan kaum muslimin bukan dari kecanggihan teknologi, bukan hebatnya strategi, dan bukan dari kekayaan kaum muslimin karena pertolongan itu datangnya hanya dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka syarat hadirnya pertolongan Allah adalah penuhi panggilan Allah.

Syarat yang kedua adalah Lurus Manhajnya, yaitu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup bukan menggunakan mahnaj yang berasal dari orang-orang kafir yang tidak paham dengan agama Islam. Lurus Manhaj ini tidak condong ke kiri dan ke kanan serta tidak mengambil dari kelompok-kelompok orang kafir, karena kita memiliki manhaj sendiri untuk tegaknya agama Allah.

Semua sudah jelas dari turunnya surat Al-‘Alaq yang bertujuan untuk memperbaiki aqidah, setelah itu turun surat Al-Muzammil sebagai bentuk perbaikan hati untuk membangun kekuatan hati agar orang-orang dekat dengan Allah, sehingga dulu setiap malam selama satu tahun dan hampir semalam suntuk Rasulullah dan para sahabat melakukan qiyamullail dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Apabila kedekatan kita dengan Allah kurang, maka akan sulit kemenangan itu datang karena kemenangan datangnya hanya dari Allah.

Prinsip yang keempat

Kaum muslimin harus menjadi satu barisan dan satu kata. Hal ini adalah pondasi kemenangan karena jika selalu berpecah, maka tidak akan pernah kita merasakan kemenangan. Peringatan ini sudah lama diberikan oleh Allah dalam surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya.

“Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, janganlah bercerai berai nanti akan hilang bau keharuman (kekuatan) kalian.”

Apabila kita analogikan pada sebuah pembangunan, jika tukang dan kulinya selalu bertengkar dan tidak bisa saling memahami, maka bangunan tersebut tidak akan terbangun. Analogi ini dapat kita implementasikan pada kehidupan negara kita, Indonesia.

Terkadang ketika kita mendapati sebuah perbedaan, kecenderungan kita adalah menghabiskan energi kita untuk bertengkar saling mempertahankan pendapat.

Seharusnya kita sebagai seorang muslim mampu membuat sistem yang Islami agar tegaknya Agama Allah dan kemenangan akan hadir di antara kita.

Wallahu a’lam bishshowab

 

Baca juga :

Buah kurma dan manfaatnya

Berbagi senyuman bersama relawan dan lansia

Larangan mengolok – olok kaum lain

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment