Kisah Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud

Tekad Sahabat Rasulullah

Pada suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul di Makkah. Mereka berkata,

“Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang kita’baca di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?”

“Aku sanggup membacakannya kepada mereka dengan suara keras,” kata Abdullah bin Mas’ud.

Sahabat lainnya melarang, tetapi dijawab dengan tanpa gentar,

“Biarlah, aku saja. Allah pasti melindungiku”.

Keesokan harinya beliau benar-benar dengan suara lantang dan merdu dibacanya surah Ar-Rahman ayat 1-4. Bacaan Abdullah yang merdu dan lantang itu kedengaran oleh kaum Quraisy di sekitar Ka’bah. Mereka terkesima saat mendengar dan merenungkan ayat-ayat Allah yang dibaca Abdullah.

Setelah mereka sadar bahwa yang dibaca adalah Al Qur’an, maka mereka berdiri serentak dan memukuli Abdullah. Namun Abdullah bin Mas’ud meneruskan bacaannya hingga akhir surah. Ia lalu pulang menemui para sahabat dengan muka babak belur dan berdarah.

“Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu,” kata mereka.

“Demi Allah,” kata Abdullah bin Mas’ud, “Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan baca lagi di hadapan mereka”.

Kisah lain dari seorang pemuda yang sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren di tanah air. Pada tahun  1892, saat genap 21 tahun, beliau pergi menimba ilmu ke  Makah ke banyak ulama sehingga semakin menempa semangat juang serta keluasan ilmu syariat beliau.

Pada tahun  1899, sepulangnya dari  Makkah, beliau mendirikan  Pesantren Tebu Ireng , yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Kemudian, pada tahun  1926 , beliau menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama. Pemuda itu bernama Hasjim Asy’ari.

Ada sebuah kisah ketika KH Hasyim Asy’ari difitnah oleh Jepang (Nippon). Jepang melancarkan tuduhan dan fitnah pemberontakan agar dapat memenjarakan Kiai Hasyim Asy’ari. Tidak mau para santrinya menjadi korban kekejaman Nippon, Kiai Hasyim Asy’ari merelakan diri untuk dibawa serdadu Jepang dan dipenjara.

Di penjara, KH Hasyim Asy’ari mengalami siksa pedih dari tentara Jepang untuk alasan yang tidak pernah diperbuatnya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan sedikit pun semangat menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Al-Bukhori.

KH Hasyim Asy’ari juga menolak dengan tegas agar hormat menghadap matahari sebagai sikap tunduk dan patuh kepada Kaisar Jepang, Teno Heika. Semangat muda dan keimanan yang kukuh pada Allah Ta’ala, maka saksikanlah bahwa pemuda akan mampu mengukir prestasi terbaik bagi kejayaan Islam.

 

Baca juga :

Mengenal Allah dengan Al Qur’an

Hukum meratapi kematian dalam Islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment