Sholat Yang Hidup

Sholat Yang Hidup

Ibnul Qayyim mengatakan,

“Yang tepat adalah khusyu’ bisa memadukan unsur ta’dzim, mahabbah, rasa rendah diri, dan keluluhan hati (di hadapan Allah).”

Maka kita hendaknya meneliti posisi derajat tersebut di dalam hatinya sebelum bertanya-tanya tentang hilangnya kekhusyu’an. Dan seseorang dalam sholatnya tidak bisa dilepaskan dari kekhusyu’an di luar sholat. Artinya jika seseorang lalai sepanjang waktu namun menginginkan kekhusyu’an, niscaya sia-sia belaka. 

Karena itu Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka.” (QS. Al Mu’minun : 1-2).

Maimun bin Mahran mengatakan,

“Aku belum pernah melihat sama sekali Muslim bin Yasar bergeming di dalam sholat. Pernah salah satu sisi bangunan masjid runtuh, lalu orang-orang yang ada di pasar pun heboh karenanya, namun ia tetap tidak bergeming.”

Dalam kisah lain, Ali bin Hasan ra bila sedang brwudhu, maka ekspresinya akan berubah menguning. Ketika ia ditanya mengapa demikian, dia menjawab,

“Tahukan Kalian di hadapan siapa aku akan menghadap?”.

Mereka benar-benar menghidupkan sholat mereka, sehingga hati mereka menjadi hidup dan mata mereka menjadi jernih. Sebgaimana sabda Rasulullah saw:

“Dan dijadikan berbinar mataku di dalam sholat.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Sholat Menghidupkan Hati, Khusyu’ Menghidupkan Sholat 

Marilah sejenak kita mengkaji pandangan Ibnul Jauzi tentang sholat yang hidup, bagaimanakah itu? Dengan apa ia diraih? Lalu kapan akan terjadi?

Pertama, menghadirkan hati.

Hati harus dibebaskan dari hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan sholat. Factor penyebabnya adalah konsentrasi. Sebab pada saat kita berkonsentrasi, pasti hati akan ikut hadir. Oleh karena itu, tidak ada satu terapi pun untuk menghadirkannya kecuali dengan mengalihkan konsentrasi semata pada sholat. Konsentrasi memang bisa menguat dan melemah mengikuti kuatnya iman terhadap akhirat dan remehnya pandangan terhadap dunia. Bila hati tidak eksis dalam sholat, maka ketahuilah bahwa penyebabnya adalah iman yang lemah. Maka berusahalah sekuat tenaga untuk menguatkannya.

Kedua, memahami makna ucapan dalam sholat.

Ini adalah masalah lain di balik kekhusyu’an hati. Terkadang hati dapat hadir bersama lafadz bacaannya, namun bacaannya tanpa makna. Maka hendaknya ada upaya untuk mengarahkan hati menuju pada penghayatan terhadap makna yang sedang dibaca dengan menghapus imajinasi lain yang mengganggu. 

Ketiga, menghadirkan keagungan dan kharisma Allah Ta’ala.

Hal ini bisa muncul dari dua hal: memahami kemahaagungan dan kemahatinggian Allah dan di sisi lain memahami kehinaan diri yang memunculkan kesadaran kebutuhan untuk beribadah termasuk sholat.

Harapan itu, sebenarnya bisa menambah rasa takut. Sebab berapa banyak orang mengagungkan seorang raja semata karna ia takut karena kekuasaannya, seperti halnya ia merengek-rengek ketika mengharapkan kebaikannya. Oleh karena itu, orang yang sedang sholat, seharusnya ia berharap mendapatkan pahala, sebagaimana rasa takutnya akan siksa, ketika mengabaikannya. Sholat seperti itu merupakan ruhnya, begitu pula disebut kehidupan sholat, sujud, ruku’ maupun kekhusyu’an, semata merupakan suatu tabiat yang berfungsi membersihkan manusia dari kotoran dan dosa-dosanya.

Masalah khusyu’ tidak bisa dijelaskan oleh sketsa dan gambaran yang ditampakkan oleh seseorang di hadapan orang banyak, baik dalam perilaku, model pakaian, makanan dan minumannya. Tidak! Sebaliknya, ia semata merupakan perilaku dengan Allah yang hanya akan ditampilkannya semata kepada Allah. 

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “‘Aku bertanya kepada Al-A’masy tentang khusyu’. Beliau menjawab, ‘Wahai Tsauri, bagaimana engkau ingin menjadi imam orang lain sedangkan engkau sendiri tidak mengerti tentang khusyu’? Aku (Al-A’masy) pernah bertanya kepada Ibrahim An-Nakha’I tentang khusyu’, beliau menjawab, ‘Wahai A’masy, bagaimana engkau ingin menjadi imam orang lain sedangkan engkau sendiri tidak mengerti tentang khusyu’? khusyu’ itu tidaklah sama dengan memakan makanan kasar, memakai pakaian kasar, menundukkan kepala. Tidak! Akan tetapi, khusyu’ itu ibaratnya, kalau engkau bisa memandang sama orang yang terhormat dengan orang gembel, serta khusyu’ semata karena Allah dalam setiap kewajiban yang telah Ia wajibkan atas dirimu.’”

Hudzaifah r.a. mengatakan,

“Awas, hati-hatilah kalian terhadap khusyu’ yang munafik!” Dia kemudian ditanya, “Khusyu’ yang munafik  itu bagaimana?” Beliau menjawab, “Apabila engkau melihat organ tubuh khusyu’ tetapi hati tidak khusyu’.”

Umar bin Khattab r.a. pernah melihat seseorang menundukkan tengkuknya di dalam sholat, lalu beliau berkata,

“Wahai orang yang mempunyai tengkuk, angkatlah lehermu! Khusyu’ itu bukan terletak pada tengkuk , tetapi khusyu’ itu ada di dalam hati.”

Aisyah r.a. juga pernah melihat beberapa pemuda yang sedang lewat dan mereka kelihatan lamban dalam berjalan. Kemudian beliau berkata kepada teman-temannya, “Siapa mereka?” Mereka menjawab, “(Mereka adalah) ahli ibadah.” Beliau kemudian menjelaskan, “Umar bin Khattab kalau sedang berjalan, cepat (gesit). Kalau sedang bicara, lantang. Kalau sedang memukul, keras. Kalau makan, kenyang. Padahal beliau adalah ahli ibadah yang sejati.” Umar bin Khattab r.a. benar-benar telah menunjukkan hakikat khusyu’. Orang-orang pun menjadi segan kepadanya dan setan pun gentar. Sebab ia adalah orang yang takut kepada Allah dan khusyu’ semata karena-Nya, jauh dari hal-hal yang dibuat-buat. 

Aisyah r.a. juga pernah melihat beberapa pemuda yang sedang lewat dan mereka kelihatan lamban dalam berjalan. Kemudian beliau berkata kepada teman-temannya, “Siapa mereka?” Mereka menjawab, “(Mereka adalah) ahli ibadah.” Beliau kemudian menjelaskan, “Umar bin Khattab kalau sedang berjalan, cepat (gesit). Kalau sedang bicara, lantang. Kalau sedang memukul, keras. Kalau makan, kenyang. Padahal beliau adalah ahli ibadah yang sejati.” Umar bin Khattab r.a. benar-benar telah menunjukkan hakikat khusyu’. Orang-orang pun menjadi segan kepadanya dan setan pun gentar. Sebab ia adalah orang yang takut kepada Allah dan khusyu’ semata karena-Nya, jauh dari hal-hal yang dibuat-buat.

Semoga kita semua bisa meniru dan mempelajari apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dalam segala hal terutama dalam beribadah. Semoga kita bisa khusyu’ dalam sholat, menikmati indahnya sholat dengan hat yang tenang dan hanya tertuju pada Allah SWT.

 

Baca juga :

Jiwa hebat siap dengan yang berat

Al-Quran telah sampai

Muallaf terus bertambah

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment