Surah Al A’la Ayat 1-7

Surah Al A’la Ayat 1-7

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى (1) الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (2) وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى (3) وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى (4) فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى (5) سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى (7)

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lain dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.

Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ayyub Al-Gafiqi, telah menceritakan kepada kami pamanku Iyas ibnu Amir; ia pernah mendengar Uqbah ibnu Amir Al-Juhani mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya,

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.” (Al-Haqqah: 52; Al-Waqiah: 96).

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami,

“Jadikanlah bacaan ayat ini dalam rukuk kalian!”

Dan ketika turun firman-Nya,

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (Al-A’la: 1),

maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami,

“Jadikanlah bacaan ayat ini dalam sujud kalian!”

Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Ibnul Mubarak, dari Musa ibnu Ayyub dengan sanad yang sama,

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ مُسْلِمٍ البَطين، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَرَأَ: {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى} قَالَ: “سُبْحَانَ رَبِّي الْأَعْلَى”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Muslim Al-Batin, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila membaca firman-Nya,

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (Al-A’la: 1),

maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakam, dari Anbasah, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, bahwa Ibnu Abbas apabila membaca firman-Nya,

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” (Al-A’la: 1),

maka ia mengucapkan,

“Mahasuci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”

Dan apabila membaca firman-Nya,

“Aku bersumpah dengan hari kiamat.” (Al-Qiyamah: 1)

dan bacaannya sampai pada ayat terakhirnya, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Al-Qiyamah: 40),

maka ia mengucapkan,

“Mahasuci Engkau, dan tidaklah demikian (sebenarnya Engkau berkuasa untuk itu).”

ayat

Firman Allah ta’ala,

{الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى}

“Yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya).” (Al-A’la: 2)

Yakni Dia telah menciptakan makhluk dan menyempurnakan setiap makhluk-Nya dalam bentuk yang paling baik.

Firman Allah ta’ala,

{وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى}

“dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (Al-A’la: 3)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang memberi petunjuk kepada manusia untuk celaka dan untuk bahagia, dan memberi petunjuk kepada hewan ternak untuk memakan makanannya di padang-padang tempat penggembalaannya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam kisah Musa ‘alaihissalam yang berkata kepada Fir’aun,

رَبُّنَا الَّذِي أَعْطى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدى

“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha: 50).

Allah ta’ala telah menentukan kadar bagi makhluk-Nya dan memberi mereka petunjuk kepada takdirnya. Sebagaimana pula yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim dari Abdullah ibnu Amr, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“إِنَّ اللَّهَ قَدَّر مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”

“Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar-kadar bagi semua makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jangka waktu lima puluh ribu tahun, dan adalah ‘Arasy-Nya masih berada di atas air.”

Firman Allah ta’ala,

{وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى}

“dan yang menumbuhkan rumput-rumputan.” (Al-A’la: 4)

Yakni semua jenis tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman.

{فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى}

“lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (Al-A’la: 5)

Menurut Ibnu Abbas, artinya kering dan berubah warnanya; dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian orang yang ahli dalam bahasa Arab (ulama Nahwu) mengatakan bahwa dalam kalimat ini terkandung taqdim dan takhir dan bahwa makna yang dimaksudnya ialah bahwa Tuhan Yang telah menumbuhkan rumput-rumputan, kemudian tampak hijau segar,  lalu berubah menjadi layu berwarna kehitam-hitaman, sesudah itu menjadi kering kerontang.

Kemudian Ibnu Jarir memberi komentar, bahwa sekalipun pendapat ini termasuk salah satu dari takwil makna ayat, tetapi tidak benar mengingat pendapat ini bertentangan dengan pendapat-pendapat ulama ahli takwil.

Firman Allah ta’ala,

{سَنُقْرِئُكَ فَلا تَنْسَى}

“Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa.” (Al-A’la: 6).

Hal ini merupakan berita dari Allah ta’ala dan janji-Nya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa Dia akan membacakannya kepadanya dengan bacaan yang selamanya dia tidak akan melupakannya.

{إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ}

“kecuali kalau Allah menghendaki.” (Al-A’la: 7)

Demikianlah menurut pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Qatadah mengatakan bahwa adalah Rasulullah tidak pernah melupakan sesuatu kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan firman-Nya,

“Maka kamu tidak akan lupa.” (Al-A’la: 6)

Ini mengandung makna talab; dan mereka menjadikan makna istisna berdasarkan pengertian ini ialah apa yang dijadikan subjek oleh nasakh. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa kamu tidak akan melupakan apa yang telah Ku bacakan kepadamu kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dilupakan, maka janganlah kamu membiarkannya.

Firman Allah ta’ala

{إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى}

“Sesungguhnya Dia mengetahui yang  terang  dan  yang tersembunyi.” (Al-A’la: 7).

Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya secara terang-terangan dan juga apa yang mereka sembunyikan dari ucapan dan perbuatan mereka. Tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Maraji’: Tafsir Ibnu Katsir

 

Baca juga :

Buah kurma dan manfaatnya

Berbagi senyuman bersama relawan dan lansia

Larangan mengolok – olok kaum lain

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment