Surah Al A’laq

Surah Al ‘Alaq

Ustadz Alfin Sahih

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (ayat 1)

Ayat pertama dalam surah ini menunjukkan perintah Allah sangat jelas yakni membaca. Akan tetapi, obyek bacaannya belum jelas. Tidak ada sesuatu pun yang dapat dibaca, tapi Allah tetap memerintahkan beliau membaca. Sampai-sampai ketika itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih dalam rasa terkejutnya berkata,

Saya tidak bisa membaca”.

Demikianlah, makna yang tersirat dalam ayat tersebut mangarahkan kita membaca dalam rangka mengagungkan Tuhan yang telah menciptakan. Sehingga, obyeknya bisa apa saja, tak berbatas. Salah satu contoh dalam membaca keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala dijelaskan dalam Surah Al Mulk ayat 19:

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.”

Hendaknya seperti itulah seorang muslim membaca. Bahwa dalam setiap penciptaan dan pemeliharaannya tidak terlepas dari rahmat Allah yang Maha Pemurah. Sehingga dalam menjalani kehidupan, ada banyak hal yang muslim kagumi atas penciptaan Allah yang sempurna. Yang muaranya adalah mengakui dengan penuh kesadaran bahwa segala ciptaan Allah tiada yang tersia.

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (ayat 2)

Fase penciptaan manusia yang dimulai dengan sesuatu yang sangat lemah, menempel di dinding rahim, yang semata-mata dengan kun fayakun dari Allah Ta’ala jadilah kita. Kita semua pernah mengalami fase itu. Fase paling lemah dalam pada awal masing-masing kita dicipta.

 “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (ayat 3)

Kemudian Allah Ta’ala melimpahkan banyak hal kepada manusia, termasuk pengetahuan. Seperti yang dikatakan Profesor Muhammad Ali Ashobuni bahwa,

“Allah membagi ilmu itu menjadi dua, ada ilmu kasbi dan ilmu wahabi. Ilmu kasbi adalah ilmu yang bisa kita pahami dengan cara membaca atau mendengar. Ada proses sebab akibat. Sedangkan ilmu wahabi adalah ilmu yang dikaruniakan kepada siapapun yang Allah kehendaki. Given, tanpa proses belajar tapi paham terhadap suatu ilmu.”

surah

 “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam” (ayat 4)

Sehingga dengan perantara kalam ini pengajaran terhadap manusia disebut dengan ilmu kasbi.

 “Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (ayat 5)

Pengetahuan adalah semata-mata Allah mengijinkan sebagian dari ilmu-Nya dipahami oleh manusia. Dan di antaranya ada ilmu-ilmu yang Allah Ta’ala berikan hanya dengan perantara takwa, “bertakwalah kepada Allah maka Allah akan mengajari kalian”.

 “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas” (ayat 6) “apabila melihat dirinya serba cukup” (ayat 7)

Manusia itu memiliki kecenderungan melampaui batas, merasa sombong dan besar hati. karena melihat dirinya serba cukup. Cukup pintar, cukup berharta, cukup punya popularitas, dan sebagainya. Obatnya satu, mengingat kematian.

 “Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu)” (ayat 8)

Menyadari bahwa suatu hari nanti kita kembali kepada pencipta kita. Mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatan kita. Dan mendapat balasan atasnya.

Di ayat sesudahnya akan dikisahkan perihal orang yang tidak dapat menerima nikmat iman kendati bukti-bukti kenabian sangat jelas ditampakkan di hadapannya. Kita akan simak kisah tersebut di edisi selanjutnya, insyaa Allah.

 

Baca juga :

Unsur dasar saling mencintai

Ilusi pikiran

Cara mencegah sinusitis

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment