SURAT AL-JUMUAH: RENUNGAN DAN TAFSIR

Oleh: Ustadz Alfin  Shahih Al Hafidz

Pengasuh Griya Tilawah

Surah Al-Jumuah

Al-Jumuah merupakan hadiah khusus untuk umat Nabi Muhammad ﷺ yang banyak dihafal. Dinamakan Al-Jumuah yang bukan berarti hari jum’at, akan tetapi secara bahasa bermakna hari perkumpulan diambil dari perkataan Al-Jumuah (Jama`) yang terdapat pada ayat ke-9 surat ini.

Salah satu keutamaan Surat Al-Jumuah sangat penting, sebab surat ini hampir selalu dibaca terutama saat pelaksanaan shalat jum’at dan mulai difardhukan shalat jum’at melalui surat ini. Surat Al-Jumuah merupakan surat ke-62 yang tergolong dalam surat Madaniyah yang terdiri dari 11 ayat.

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (ayat 1).

Betapa kuasa dan bijaksanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى (Hakim) memilih dari bangsa yang tidak dikenal peradaban (Arab) memikul risalah dan mengalahkan bangsa-bangsa yang penuh kejayaan.

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (ayat 2)

Pada bagian awal berbicara diutusnya Rasulullah ﷺ sebagai Nabi yang terakhir. Sebagai pembawa rahmat dan petunjuk bagaimana agama ini membahagiakan umat manusia yang lebih mengherankan lagi Rasulullah ﷺ seorang yang “ummi” tidak bisa baca tulis sehingga mengandalkan hafalan

Pendapat ini seandainya Rasulullah ﷺ adalah seorang yang bisa membaca dan menulis, jelaslah bahwa ajaran beliau berasal dari hasil kitab-kitab sebelumnya. Begitu pula jika Rasulullah ﷺ pandai membaca dan menulis maka akan ada keraguan dari umatnya bahwa Al-Qur’an adalah karangannya. Dengan demikian, sifat ummi yang ada pada Rasulullah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah murni dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan sebenar-benarnya kitab.

“Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (ayat 3).

“Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar.” (ayat 4).

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (ayat 5).

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang Yahudi! Jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih Allah, bukan orang-orang yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu orang yang benar.’” (ayat 6).

“Dan mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (ayat 7).

Pembahasan pada ayat 5 sampai dengan ayat 7 yaitu sebuah umat yang dimuliakan dengan sebuah risalah tetapi mereka tidak memikulnya dengan sebenar-benarnya tanpa mengamalkan dan mendakwahkannya. Persaingan antara umat Islam dan Yahudi pada saat itu, sebagai ummat yang sama memiliki kitab suci.

Kaum Yahudi merasa penganut agama paling senior dan layak memperoleh gelar kekasih Tuhan. Sedangkan Al-Qur’an menentang mereka untuk berdo’a segera bertemu dengan Tuhan. Dengan kematianlah mereka dapat langsung mendapat kenikmatan dan terlepas dari kesulitan kehidupan dunia yang menghimpitnya.

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (ayat 8).

Pikullah amanah agama dan Al-kitab dan perjuangkanlah yang diberikan tanpa takut akan kematian.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (ayat 9).

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (ayat 10).

“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah pemberi rezeki yang terbaik.” (ayat 11).

Pembicaraan mengenai shalat jum’at pada ayat 9 sampai dengan 11. Segala bentuk transaksi yang keuntungganya fana, maka segeralah tinggalkan dan segera menuju transaksi yang keuntunggan selama-lamanya. Allah itu hebat, Allah itu sebaik-baiknya yang mengatur rezeki. Wallahu a’lam bishshowab.

Baca Artikel Tafsir Lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment