Tsiqah : Kepercayaan Melahirkan Kekuatan

Tsiqah : Kepercayaan Melahirkan Kekuatan

Landasan tsiqah

Tsiqah adalah tentramnya seseorang pada suatu pikiran, organisasi, orang, atau pimpinan. Ketentraman ini kemudian berbuah penerimaan terhadap pikiran, organisasi, seseorang, atau pimpinan itu. Tsiqohnya seseorang akan muncul ketika ia melihat ada kesesuaian antara pikiran dengan realitasnya, dan antara ucapan serta pikiran dengan prilaku pimpinan.

Tsiqah dalam diri akan menguat bila kesesuaian itu ia saksikan secara berkesinambungan. Tsiqah itu cabang dari ketaatan dan komitmen, bahkan bisa jadi ia adalah pondasinya. Hubungan antara tsiqah dengan taat dan komitmen itu ibarat air untuk kehidupan.

Maka tidak ada kedisiplinan tanpa ketaatan, dan tidak ada ketaatan tanpa ketsiqahan. Dengan demikian penguatan ketsiqahan dalam diri masing-masing individu berarti memperkuat komunitas atau organisasi.

Kepercayaan pada seseorang kadang bersifat emosional, tetapi yang dibutuhkan adalah kepercayaan yang dilandasi oleh fikrah (ide, konsep, dan rasional), didasari oleh pengetahuan akan kemampuan, keikhlasan, kesungguhan dan keberanian yang ada pada diri pemimpin. Secara naluri orang  akan mudah menaruh kepercayaan kepada orang lain yang ia saksikan lebih kuat, lebih berani, lebih cerdas, dan lebih mampu.

Apabila ketaatan dalam sebuah organisasi dibangun dengan sekedar mengerjakan tugas untuk menggugurkan kewajiban dengan mengesampingkan tsiqah, maka secara perlahan akan menurunkan kualitas kinerja. Tidak mungkin seseorang akan terdorong untuk bekerja dan aktif memperjuangkan dan membela suatu gagasan dan pemikiran, sementara dalam hatinya tidak ada keyakinan dan kepercayaan terhadap apa yang ia perjuangkan.

Diperlukan upaya untuk meyakinkan bahwa ide dan gagasan itu adalah benar dengan demikian layak untuk diperjuangkan. Sayyid Qutb menyampaikan rahasia lahirnya pahlawan-pahlawan Islam dengan ikhlas memperjuangkan agamanya.

Menurutnya, bahwa penerimaan kaum muslimin pada kebenaran agamanya hingga derajat keyakinan yang mendalam adalah motivasi utama yang mendorong mereka untuk siap memikul beban, menghadapi tantangan, melakukan perlawanan, menanggung pedihnya rasa sakit yang kadang melebihi batas kemampuan mereka, semata untuk menegakkan manhaj (ajaran) Allah.

Selain pemikiran dan gagasan, individu juga menjadi obyek tsiqah atau kepercayaan. Bahwa pemimpin dalam suatu organisasi atau kelompok adalah mahallu al tsiqah (objek kepercayaan) bagi mereka yang dipimpin. Hubungan ideal antara pemimpin dan yang dipimpin didasari oleh kepercayaan yang ikhlas bahwa ia mampu mengantarkan mereka pada cita-cita dan tujuan bersama.

Maka upaya melemahkan hubungan ini biasanya dilakukan dengan cara membongkar kebobrokan sang pemimpin atau menggugat kegagalan-kegagalan kepemimpinannya. Sementara faktor internal yang biasanya menyebabkan melemahnya kepercayaan adalah pengkhianatan yang menikam dari belakang. Selain itu, kebijakan penempatan orang yang bukan ahlinya merupakan bencana terbesar bagi sebuah organisasi.

tsiqah

Dalam organisasi diperlukan kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin. Anggota percaya (tsiqah) kepada pimpinan, dan pemimpin menaruh kepercayaan yang tinggi pula pada mereka yang berada di bawah kepemimpinannya.

Ketsiqahan kepada pemimpin dapat dibangun melalui upaya mengenal lebih dekat dengan pimpinan. Memperhatikan kondisi dan kesehariannya. Meyakini kemampuan dan keikhlasannya. Membangun kedekatan dengannya. Bila hal itu dilakukan, maka mudah baginya mendengar dan taat tanpa keraguan di hati. Pada saat yang sama ia dengan leluasa dan tanpa beban memberikan pertimbangan guna memperoleh kebenaran.

Bahkan ia akan menganggap, selama dalam perkara ijtihadiyah, pendapat pimpinan yang lebih benar daripada pendapat pribadinya. Begitu juga pimpinan kepada anggotanya, diperlukan keyakinan dan kepercayaan. Yaitu kepercayaan bahwa orang-orang yang bersamanya lebih baik dari orang lainnya yang tidak bersamanya.

Percaya diri juga menjadi bagian penting dalam berorganisasi, termasuk dalam pengambilan keputusan. Seseorang yang tidak percaya dan tidak yakin terhadap kemampuan dirinya dalam menyelesaikan suatu masalah akan sangat mudah digoncang keraguan yang dapat merugikan dan membahayakan dirinya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan setiap mukmin dengan sabdanya,

“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu.”

Islam membangun kepercayaan diri manusia dengan konsep diri (self concept) dan harga diri (self esteem) yang luar biasa luas dan tinggi. Nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan:  kepada Allah, kepada Rasul, kepada Islam, kepada kepemimpinan, dan kepada sesama (saudara); adalah harga yang dapat mengangkat seseorang menjadi sangat percaya diri.

Dari kepercayaan diri yang didukung oleh nilai-nilai keyakinan yang luhur ini, berkembang suatu kesadaran dan perasaan tenang, tentram, cinta, rasa hormat, dan menghargai orang-orang yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama.

Terutama kepada seorang pemimpin yang memilliki kepercayaan dan tujuan seperti itu. Ia siap menjadi anggota yang benar-benar mampu memberikan kepercayaan dan ketaatan tanpa sedikitpun keberatan atau ganjalan hati.

Ismail Rafandi menulis bahwa percaya diri memiliki ciri-ciri: siap menghadapi berbagai situasi serta mampu melakukan evaluasi untuk perbaikan, bertanggung jawab, dan tidak lari dari kewajiban.

Syiarnya adalah  ‘inilah aku’, memberikan kontribusi tanpa henti, bangga dengan hasil kerjanya tanpa ada rasa sombong, tidak putus ada menghadapi kegagalan dan siap memulai langkah menggapai prestasi, prestasi menjadi bagian penting karena itu ia selalu ingin yang terbaik dalam mengejar prestasi.

Percaya diri bukan berarti sombong atau menganggap diri sendiri lebih baik dari yang lain, atau mengganggap bahwa jabatan dan kedudukannya adalah istimewa karena potensi yang dimiliki. Percaya diri yang dilandasi keimanan berarti pengakuan bahwa segalanya adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin akan mewujudkan hal-hal berikut :

  1. Membangkitkan kemampuan, mempertajam obsesi tinggi, dan memotivasi mereka untuk terus berinovasi yang membuat mereka bangga dengan pimpinannya dan merasa bertanggung jawab.
  2. Kepercayaan mereka yang utuh terhadap pemimpin karena ia selalu memperlakukan mereka lebih dari hak-hak yang seharusnya mereka terima, juga mengekplorasi kelebihan-kelebihan mereka yang tersembunyi dan mengembangkannya, tanpa harus selalu melihat kesalahan mereka.
  3. Memanfaatkan seluruh kemampuan mereka untuk berkarya, karena mereka merasakan bahwa pemimpin mereka penuh perhatian dan terus memotivasi mereka.

 

Baca juga :

Hukum meratapi kematian dalam islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Bakti sosial dan cek kesehatan di Donomulyo

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment