Tunda Dulu Kenikmatan Itu

Tunda Dulu Kenikmatan Itu

Saat Majelis Dhuha Malang edisi Januari 2018, saya kembali menyimak satu prinsip yang dipunyai oleh banyak orang-orang hebat, yaitu Delaying Gratification. Kala itu yang menyampaikan dengan lugas adalah dr. Gamal Al Bin Said, M.Biomed, salah satu tokoh muda yang dimiliki oleh Indonesia.

Kata ini seakan menegaskan bagi saya pribadi bahwa prestasi-prestasi besar harus dibangun dengan pengorbanan yang sangat besar pula. Tidak ada tempat bagi orang yang mudah puas untuk sebuah prestasi besar. Tidak ada ruang bagi yang ingin merasakan kenikmatan yang instan. Delaying gratification…menunda kenikmatan sesaat untuk mendapatkan kenikmatan berlipat.

Bapak Bangsa Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, sejak awal perjuangannya, dengan sangat gigih tanpa mengenal lelah membesarkan organisasi Sarekat Islam. Beliau selalu memperhatikan penderitaan rakyat. Dengan idealismenya yang tinggi, kekuatan fisik yang prima, dan kepandaian akal, semua modal itu digunakan untuk mendukung perjuangannya hingga penjajah Belanda harus menghentikannya dengan menjebloskan beliau ke dalam penjara.

Apakah penjara menghentikan beliau? Tentu tidak, bahkan perjuangannya semakin membara. Dari didikan beliau kemudian lahir banyak tokoh bangsa, salah satunya adalah Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. HOS Tjokroaminoto dengan semboyan: Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat, telah menampilkan pada kita apa arti menunda kenikmatan. Menunda untuk kemudian memetik kenikmatan yang lebih besar.

kenikmatan

Melihat kondisi terkini, tantangan kita sebagai Muslim yang merindukan kedamaian dan keselamatan dalam naungan cinta Allah, tentu kita sadari tidaklah mudah. Kerusakan telah menjangkit di berbagai sisi kehidupan kita. Hal yang menjadikan kita tidak bisa tenang, tak bisa tidur nyenyak. Tidak boleh kita biarkan kondisi ini tanpa perjuangan untuk memperbaikinya.

Karenanya, delaying gratification inilah yang coba kami tanamkan dan tumbuhkan di keluarga besar Lembaga Amil Zakat YASA Malang. Melupakan berbagai hal yang dianggap sebagai prestasi, untuk kemudian merancang hal-hal baru sebagai bagian pelayanan kepada ummat. Pokoknya tidak boleh ada kata cepat puas. Lahirkan dan lahirkan manfaat-manfaat baru terus menerus.

Sebagaimana ungkapan seorang penyair,

Tidak setiap keadaan dan setiap waktu

Kamu siap membuat karya-karya kebajikan

Oleh karena itu, senyampang ada kesempatan

Gunakanlah sebelum terlambat

Semoga semangat delaying gratification ini juga mewabah di jiwa-jiwa kita semua. Biarkanlah nikmat itu kita tunda hingga Allah ‘Azza wa Jalla sendiri yang akan membalasnya untuk kita. Dan pastinya dengan nikmat-Nya yang lebih besar dan lebih indah, insya Allah.

Wallahu a’lam bishshowab.

 

Baca juga :

Hukum meratapi kematian dalam islam

Fenomena meminta hujan dengan binatang

Bakti sosial dan cek kesehatan di Donomulyo

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment