Tunduknya Hati

Tunduknya Hati Secara Total Di Hadapan Allah

Khusyu’

Tunduk yang pertama dimulai dari khusyu’ menurut bahasa asalnya adalah menurun (inkhifadh), rendah (dzull), dan tenang (sukun). Kata tersebut dipergunakan: Khasya’a-Yakhsya’u-Khusyu’an-wa Takhasysya’a ar-Rajulu, maknanya: dia melemparkan pandangannya ke tanah dan memejamkan serta merendahkan frekuensi suaranya. Khasya’a Basharu ar-Rajuli, maknanya ia menjadi tertunduk (inkasara). Kata khusyu’ ini kemudian dipergunakan oleh Al Qur’an dengan makna-makna tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaha : 108)

Maknanya: sakanat, dzallat, khadi’at, suaranya menjadi tenang, rendah, dan turun (frekuensinya). Allah berfirman:

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.” (QS. Fushilat : 39)

Maksudnya: bumi tersebut kering dan dalam keadaan lengang, yang tidak ditumbuhi oleh tetumbuhan apapun yang bisa menggerakkannya. Sehingga ketikan diturunkan hujan, bumi tersebut berubah menjadi subur dan hidup. Inilah makna kata khusyu’ menurut bahasa asalnya. Sedangkan pendapat-pendapat kaum salaf dalam mendefinisikan kata khusyu’ tersebut – dilihat dari segi pemakaiannya dalam syara’ – masih beragam:

Tunduk Dan Merendah Di adapan Allah

Ada yang mengatakan, “Khusyu’” adalah bangkitnya hati  yang dengan tunduk dan merendah di hadapan Tuhan. Ada yang mengatakan, “Khusyu’” adalah kepatuhan pada kebenaran (al haq). Tandanya, seseorang akan siap menerima dan mengikuti nasihat yang bisa jadi bertentangan dengan kemauan dirinya. Ada yang mengatakan, “Khusyu’” adalah redupnya api syahwat, hilangnya asap hati, dan nyalanya cahaya pengagungan di dalam hati.

Ada juga yang mengatakan, “Khusyu’” adalah merendahnya hati kepada Dzat Yang Maha Mengetahui keghaiban. Pendapat-pendapat tersebut bermuara pada kesimpulan bahwa hati adalah tempat kekhusyu’an, kemudian buahnya merefleksi ke dalam organ-organ tubuh lain.“Khusyu’ adalah ketundukan, apabila hati tunduk, organ-organ lain pun ikut khusyu’.”

Baca juga :

Jiwa hebat siap dengan yang berat

Muallaf terus bertambah

Al-Qur’an telah sampai

Ikuti kegiatan kami di @yasapeduli

Leave a Comment